Oleh Ayu Lestari
Hilirisasi industri menjadi salah satu strategi utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mengubah kekayaan alam Indonesia menjadi sumber kemakmuran yang lebih luas. Ekspor perdana baterai kendaraan listrik di kawasan industri Weda Bay, Maluku Utara, sekaligus peluncuran 11 proyek hilirisasi menandai langkah penting dalam memperkuat industri nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, menarik investasi, serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
Presiden Prabowo Subianto menilai keberhasilan ekspor perdana baterai kendaraan listrik sebagai bukti bahwa kebijakan hilirisasi berada pada jalur yang tepat. Dalam peluncuran program hilirisasi di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara, ia menegaskan bahwa pemerintah akan melanjutkan strategi tersebut secara konsisten. Menurut Presiden Prabowo, pengolahan sumber daya alam di dalam negeri merupakan langkah penting agar Indonesia tidak terus bergantung pada penjualan bahan mentah dengan nilai ekonomi yang terbatas.
Presiden Prabowo juga mengingatkan bahwa capaian pembangunan saat ini tidak terlepas dari fondasi yang telah dibangun oleh pemerintahan sebelumnya. Ia memandang pembangunan bangsa sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan kesinambungan kebijakan, kerja keras, dan komitmen lintas generasi. Semangat pembangunan yang diwariskan para pemimpin terdahulu, menurutnya, perlu diteruskan untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Dalam agenda tersebut, Presiden meresmikan komersialisasi empat proyek industri, yaitu Blue Sparking Energy, REPT Battero Indonesia, Pioneer Aluminium Industries, dan XCMG Indonesia Manufacturing. Pemerintah juga mencanangkan pembangunan tujuh proyek baru, meliputi Guangqing Nickel Cobalt, Eno Prima Material, Tinci Materials Indonesia, Weda Bay Aluminium, Bintang Karya Aluminium, Flat Solar Energy Indonesia, serta Guangqing Motor Indonesia. Keseluruhan proyek itu memiliki nilai investasi mencapai 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp180 triliun.
Besarnya investasi tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi menjadi instrumen penting dalam transformasi ekonomi Indonesia. Memasuki tahun kedua pemerintahan Prabowo-Gibran, pemerintah berupaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global, terutama pada sektor mineral, baterai kendaraan listrik, dan produk logam olahan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa realisasi investasi Indonesia pada semester pertama 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka tersebut meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan mampu menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja. Capaian ini menunjukkan bahwa aktivitas investasi tetap menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional, meskipun kualitas lapangan kerja dan pemerataan manfaatnya tetap perlu menjadi perhatian pemerintah.
Rosan menjelaskan bahwa kontribusi investasi hilirisasi juga mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir. Jika sebelumnya berada di kisaran 25 persen, porsinya kini mencapai sekitar 30 persen dari total realisasi investasi nasional. Perubahan tersebut menunjukkan semakin kuatnya peran industri pengolahan dalam arah pembangunan ekonomi. Berdasarkan sektor usaha, investasi semester pertama 2026 didominasi industri logam dasar dan barang logam bukan mesin beserta peralatannya, disusul jasa lainnya, pertambangan, transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, serta perumahan, kawasan industri dan perkantoran.
Keberhasilan pemerintah selama setahun terakhir dalam mendorong investasi, memperluas kegiatan industri, dan memperkuat hilirisasi menjadi modal penting bagi agenda pembangunan berikutnya. Pertumbuhan investasi dan penyerapan tenaga kerja menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang terus bergerak. Namun, keberhasilan tersebut harus diikuti peningkatan keterampilan tenaga kerja, penguatan usaha mikro dan kecil, serta keterlibatan masyarakat setempat agar pertumbuhan industri tidak hanya dinikmati perusahaan besar dan investor.
Rosan turut menyoroti penyebaran investasi yang semakin luas ke luar Pulau Jawa. Ia melaporkan bahwa lebih dari 75 persen realisasi investasi berada di luar Jawa. Menurutnya, hilirisasi berpotensi memperkuat pemerataan pembangunan dengan menghadirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah yang memiliki sumber daya alam melimpah. Maluku Utara menjadi salah satu contoh perubahan tersebut, dari wilayah penghasil tambang menjadi kawasan penting bagi industri pengolahan nasional.
Perubahan itu terlihat dari semakin beragamnya produk mineral yang dihasilkan. Ekspor Maluku Utara tidak lagi hanya bertumpu pada bijih mentah, tetapi berkembang menuju feronikel, nickel matte, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nickel sulfate, hingga cobalt. Diversifikasi produk tersebut membuka peluang peningkatan nilai ekonomi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam industri baterai dan kendaraan listrik. Meski demikian, pengembangan industri harus tetap memperhatikan perlindungan lingkungan, tata kelola pertambangan, serta keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, hilirisasi bukan semata-mata tentang besarnya investasi atau banyaknya proyek yang diresmikan. Ukuran keberhasilannya terletak pada kemampuan negara mengubah kekayaan alam menjadi pekerjaan yang layak, pendapatan masyarakat yang meningkat, industri nasional yang kuat, dan pembangunan yang lebih merata. Pemerintah terus berupaya menjaga kesinambungan kebijakan sekaligus memastikan manfaatnya dirasakan hingga ke daerah penghasil sumber daya. Dengan pengawasan yang baik, pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, dan keberpihakan kepada rakyat, hilirisasi dapat menjadi jalan bagi Indonesia untuk mewujudkan kemakmuran yang berkelanjutan.
)* penulis merupakan pengamat ekonomi energi



