Jakarta— Penguatan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan terus didorong di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, melalui edukasi mitigasi, simulasi evakuasi, dan evaluasi keamanan infrastruktur sekolah. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko korban jiwa akibat gempa bumi, pergerakan tanah, dan tanah longsor, mengingat Bukittinggi berada di kawasan patahan lempeng aktif.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan pentingnya penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), yang mencakup penyediaan fasilitas sekolah yang aman, prosedur evakuasi yang jelas, serta integrasi pendidikan kebencanaan dalam pembelajaran. Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus menjadi proses pembelajaran berkelanjutan.
“Kesiapsiagaan bencana itu bukan pembelajaran sekali untuk seumur hidup, melainkan pembelajaran seumur hidup. Kejadian bencananya sendiri tidak bisa kita hentikan. Gunung Krakatau butuh meletus agar tubuhnya tumbuh, dan gempa bumi terjadi demi menjaga stabilitas kerak bumi. Namun, yang wajib kita lakukan sebagai manusia adalah mengurangi dampak risikonya. Karena itu, kunci utamanya terletak pada pembangunan infrastruktur gedung yang tahan gempa serta kesiapan manusianya,” ujar Abdul Muhari.
Sejalan dengan upaya tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bukittinggi mendorong edukasi dan simulasi kebencanaan sejak pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Bukittinggi, Sudarman, menegaskan pentingnya menanamkan pemahaman mitigasi sejak dini agar siswa mampu menghadapi situasi darurat tanpa kepanikan.
“Kita harus menanamkan kepada murid-murid agar ketika terjadi bencana mereka tidak takut. Kita memberikan pengertian bahwa memang wilayah kita ini berada di kawasan lempengan, dan suka tidak suka kita harus siap,” ujar Sudarman.
Selain edukasi, evaluasi keamanan bangunan dan prosedur evakuasi juga menjadi perhatian. Kepala SD Negeri 14 Aur Tanjungkang Tangah Sawah (ATTS) Kota Bukittinggi, Rahmat Fuad, M.Pd., menekankan peran guru dalam memberikan perlindungan psikologis kepada siswa ketika bencana terjadi.
“Garda terdepannya itu adalah kita guru memberikan rasa anak-anak itu merasa terlindungi bagi kita, sehingga anak-anak itu dalam apapun kejadian kita bisa terlebih dahulu menenangkan jiwa peserta didik supaya tidak cemas,” ungkapnya.
Rahmat juga menekankan perlunya pendampingan dari instansi terkait dalam mengevaluasi kesiapan sekolah. “Seharusnya kita di sekolah sekurangnya menyurati BPBD untuk melakukan kesiapan bencana di sekolah,” jelas Rahmat.
Melalui kolaborasi BPBD, sekolah, dan tenaga pendidik, edukasi berkelanjutan, simulasi evakuasi, serta evaluasi infrastruktur diharapkan memperkuat keselamatan dan kesiapsiagaan pelajar di Kota Bukittinggi.




