Lompat ke konten utama

Kata Papua

Jangan Biarkan Manuver Politik Separatis Mengaburkan Percepatan Pembangunan Papua - Kata Papua

Jangan Biarkan Manuver Politik Separatis Mengaburkan Percepatan Pembangunan Papua

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Marthen Yikwa

Percepatan pembangunan Papua perlu terus menjadi perhatian bersama karena kemajuan Tanah Papua tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, pelayanan dasar, kesejahteraan masyarakat, dan terbukanya kesempatan bagi generasi muda. Di tengah proses tersebut, masyarakat Papua juga perlu mencermati berbagai manuver politik yang berpotensi mengaburkan fakta mengenai perkembangan pembangunan yang sedang berlangsung.

Salah satu perkembangan yang perlu dicermati adalah rencana rekonsiliasi dan penyatuan kembali kelompok-kelompok dalam United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) yang direncanakan berlangsung di Port Vila, Vanuatu, pada November 2026. Agenda tersebut melibatkan sejumlah pihak dan organisasi yang berperan sebagai fasilitator serta mendapat dukungan dari pemerintah Vanuatu. Rencana tersebut menunjukkan adanya upaya konsolidasi kelompok yang selama ini membawa isu pemisahan Papua ke dalam agenda politik regional dan internasional.

Konsolidasi tersebut tentu perlu dilihat secara jernih. Masyarakat Papua tidak perlu menjadikan setiap agenda politik kelompok tertentu sebagai representasi keseluruhan aspirasi masyarakat Papua. Papua memiliki masyarakat yang beragam, dengan kebutuhan dan harapan yang sangat luas. Sebagian besar kebutuhan tersebut berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, seperti pendidikan yang semakin baik, pelayanan kesehatan, lapangan pekerjaan, konektivitas, keamanan, serta peningkatan kesejahteraan.

Karena itu, masyarakat perlu memiliki ketahanan terhadap berbagai narasi yang berpotensi memprovokasi. Setiap informasi mengenai Papua harus dilihat berdasarkan fakta, sumber yang dapat dipercaya, dan konteks yang lengkap. Jangan sampai narasi politik tertentu membuat masyarakat mengabaikan perubahan nyata yang sedang berlangsung di berbagai wilayah Papua.

Pada kenyataannya, Indonesia sedang membangun Papua dengan maksimal. Pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur sekaligus memperkuat sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, konektivitas, dan pengembangan sumber daya manusia. Pembangunan tersebut menunjukkan bahwa Papua bukan sekadar wilayah yang menjadi perhatian dalam aspek keamanan, melainkan bagian penting dari agenda pembangunan nasional dan masa depan Indonesia.

Sebelumnya, isu Papua juga kembali menjadi perhatian dalam Sidang Umum ke-81 Perserikatan Bangsa-Bangsa. Indonesia menggunakan hak jawab untuk merespons pernyataan sejumlah negara, termasuk Solomon Islands dan Vanuatu, yang kembali mengangkat persoalan Papua. Kementerian Luar Negeri RI menegaskan bahwa Indonesia serius menangani dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang kredibel melalui institusi nasional dan mekanisme hukum yang berlaku, termasuk Komnas HAM.

Penjelasan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembahasan mengenai Papua perlu ditempatkan dalam perspektif yang utuh. Pemerintah tidak menutup mata terhadap persoalan hak asasi manusia. Namun, berbagai persoalan tersebut harus dilihat berdasarkan fakta dan mekanisme hukum yang berlaku, bukan semata-mata melalui tuduhan sepihak yang mengabaikan kondisi di lapangan.

Indonesia juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap masyarakat sipil. Dalam berbagai situasi keamanan di Papua, masyarakat sipil, guru, tenaga kesehatan, dan aparatur pemerintahan juga dapat menjadi korban kekerasan kelompok bersenjata. Karena itu, persoalan keamanan dan pembangunan tidak tepat apabila langsung dikonstruksikan sebagai bentuk pelanggaran HAM sistematis tanpa mempertimbangkan keseluruhan konteks.

Pandangan tersebut sejalan dengan sikap Ketua BKSAP DPR RI, Syahrul Aidi Maazat, yang menilai pengangkatan isu Papua secara sepihak di tingkat internasional dapat memperumit hubungan Indonesia dengan negara-negara Pasifik. Menurut Syahrul, Indonesia terbuka terhadap kritik dan dialog mengenai pembangunan, HAM, dan kesejahteraan Papua. Namun, pembahasan harus didasarkan pada fakta, data yang dapat diverifikasi, serta penghormatan terhadap hukum Indonesia dan hukum internasional.

Perspektif yang lebih berimbang juga disampaikan tokoh pemuda Papua, Max Abner Ohee. Max mengingatkan masyarakat agar tidak serta-merta menganggap satu kelompok sebagai representasi seluruh masyarakat Papua. Pandangan tersebut penting karena masyarakat Papua memiliki aspirasi yang beragam. Masa depan Papua seharusnya lebih banyak diarahkan pada pembangunan pendidikan, peningkatan kesejahteraan, pengembangan potensi ekonomi, serta penciptaan ruang yang lebih besar bagi generasi muda.

Sementara itu, tokoh Papua, Yanto Eluay, mengingatkan masyarakat agar mencermati narasi mengenai HAM dan Papua secara kritis. Menurut Yanto, narasi pelanggaran HAM kerap digunakan sebagai propaganda oleh ULMWP dan kelompok pendukungnya. Pada saat yang sama, pemerintah terus menjalankan pembangunan sumber daya manusia, infrastruktur, dan perekonomian di Papua.

Pesan dari berbagai pihak tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Papua membutuhkan informasi yang utuh agar tidak mudah terjebak dalam narasi yang hanya menonjolkan konflik. Kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari demokrasi, tetapi kritik akan lebih konstruktif apabila disampaikan berdasarkan fakta dan diarahkan untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat.

Di sinilah pentingnya menjaga agar manuver politik kelompok separatis tidak mengaburkan agenda pembangunan. Perbedaan pandangan politik tidak seharusnya menghalangi masyarakat untuk menikmati hasil pembangunan dan melihat peluang masa depan yang semakin terbuka.

Papua sedang bergerak maju. Pembangunan yang berlangsung merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan stabilitas, partisipasi masyarakat, dan kepercayaan terhadap berbagai program yang diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan. Karena itu, masyarakat perlu tetap tenang, kritis, dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang mengabaikan perkembangan nyata di Tanah Papua.

)* Penulis merupakan Pengamat Sosial Kemasyarakatan Papua

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tolak Kekerasan Bersenjata, Tokoh Adat Serukan Papua yang Aman dan Damai

Oleh : Yohanes Wandikbo Penembakan terhadap tiga warga sipil yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali menegaskan pentingnya perlindungan masyarakat dan penguatan komitmen bersama untuk menjaga kedamaian di Tanah Papua. Kekerasan terhadap warga sipil tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga berpotensi mengganggu kehidupan sosial, aktivitas ekonomi, serta keberlanjutan pembangunan. Karena itu, penolakan terhadap kekerasan perlu menjadi sikap bersama demi mewujudkan Papua yang aman, damai, dan sejahtera. Ondoafi Kampung Sabron Yaru, Nikodemus Yaboisembut, mengecam tindakan kekerasan yang mengancam keselamatan masyarakat. Menurutnya, penembakan terhadap warga sipil bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan adat Papua yang menjunjung tinggi kehidupan, persaudaraan, serta keharmonisan. Masyarakat seharusnya dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa dihantui ancaman kekerasan. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap warga sipil harus menjadi perhatian bersama, sementara setiap persoalan perlu diselesaikan melalui cara-cara yang damai dan sesuai dengan hukum. Nikodemus Yaboisembut juga menilai bahwa tokoh adat mempunyai peran strategis dalam menjaga hubungan harmonis antara masyarakat dan pemerintah. Kedudukan tokoh adat yang dekat dengan kehidupan warga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi, mencegah kesalahpahaman, serta menumbuhkan kepercayaan terhadap upaya menjaga keamanan. Melalui pendekatan persuasif dan penguatan nilai-nilai adat, para pemimpin masyarakat dapat mendorong warga untuk menolak kekerasan serta mengutamakan kepentingan bersama di atas perbedaan. Dalam konteks tersebut, kehadiran pemerintah melalui pelayanan publik dan berbagai program pembangunan perlu didukung dengan partisipasi masyarakat. Pembangunan tidak hanya membutuhkan kebijakan dan anggaran, tetapi juga lingkungan yang aman agar pelaksanaannya berjalan efektif. Ketika masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang, akses terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kesempatan ekonomi akan lebih terbuka. Karena itu, menjaga keamanan merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Seruan serupa disampaikan Ondoafi Kampung Kwadeware, Nikson Marweri, yang menyayangkan penembakan terhadap tiga warga sipil. Ia menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan. Menurutnya, koordinasi antara warga, tokoh adat, dan aparat keamanan perlu diperkuat agar potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini. Ia juga mendorong peningkatan patroli kepolisian di wilayah yang membutuhkan penguatan pengamanan sehingga masyarakat memperoleh perlindungan yang memadai. Nikson Marweri berpandangan bahwa upaya menjaga keamanan harus dilakukan melalui pendekatan yang terukur, humanis, dan mengutamakan keselamatan warga. Kehadiran aparat keamanan perlu diiringi komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat agar langkah pengamanan dapat berjalan secara efektif dan memperoleh dukungan publik. Di sisi lain, warga juga perlu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, menjaga persaudaraan, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Pendekatan tersebut penting karena keamanan bukan semata-mata persoalan penindakan terhadap pelaku kekerasan. Pencegahan konflik, penguatan solidaritas sosial, dan penyelesaian persoalan melalui dialog juga menjadi bagian penting dalam menciptakan stabilitas. Dengan demikian, kerja sama masyarakat dan aparat dapat diarahkan untuk membangun rasa aman yang berkelanjutan, tanpa mengabaikan penghormatan terhadap adat, hak warga, dan ketentuan hukum yang berlaku. Sementara itu, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Deiyai, Bernard Pekei, mengajak masyarakat adat di 67 desa atau kampung di wilayahnya untuk berperan aktif menjaga ketertiban. Ia juga mendorong dukungan masyarakat terhadap program pemerintah pusat yang bertujuan memperkuat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan warga. Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi unsur penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga berbagai program dapat berjalan dan memberikan manfaat secara optimal. Bernard Pekei menilai bahwa masyarakat adat memiliki tanggung jawab bersama untuk merawat persatuan dan mencegah berkembangnya konflik. Nilai gotong royong, musyawarah, dan penghormatan terhadap kehidupan yang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Papua dapat menjadi fondasi untuk membangun perdamaian. Melalui keterlibatan aktif di lingkungan masing-masing, masyarakat dapat memperkuat ketahanan sosial sekaligus menciptakan ruang yang lebih aman bagi generasi muda untuk belajar, bekerja, dan mengembangkan potensi. Pada akhirnya, masa depan Papua yang aman dan sejahtera membutuhkan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk kekerasan. Pemerintah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat perlu terus membangun sinergi dengan mengedepankan perlindungan warga sipil, dialog, serta penghormatan terhadap hukum. Kecaman terhadap kekerasan harus diikuti langkah nyata untuk menjaga kerukunan dan mencegah konflik berulang. Selain itu, penguatan literasi masyarakat dan penyebaran informasi yang akurat perlu menjadi bagian dari upaya menjaga kedamaian di Papua. Masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh provokasi maupun informasi yang belum terverifikasi, terutama yang berpotensi memperkeruh situasi keamanan dan memecah persatuan. Tokoh adat, tokoh agama, serta pemimpin lokal dapat berperan aktif menyampaikan pesan perdamaian dan membangun komunikasi yang konstruktif. Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, upaya pemerintah dalam menjaga keamanan, meningkatkan pelayanan publik, dan mempercepat pembangunan di Papua diharapkan dapat berjalan lebih optimal demi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. )* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua