Lompat ke konten utama

Kata Papua

Optimisme terhadap Rupiah Ditopang Fundamental Ekonomi yang Kuat - Kata Papua

Optimisme terhadap Rupiah Ditopang Fundamental Ekonomi yang Kuat

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Rivka Mayangsari

Kondisi perekonomian Indonesia dinilai masih memiliki fondasi yang kuat di tengah tekanan eksternal dan dinamika pasar keuangan global. Sejumlah indikator makroekonomi, mulai dari neraca perdagangan hingga stabilitas harga, menunjukkan perkembangan yang relatif positif. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang optimisme terhadap ketahanan ekonomi nasional, termasuk dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah. Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat hingga November 2026. Menurutnya, kekuatan fundamental ekonomi dapat dilihat melalui sejumlah indikator makroekonomi yang mencerminkan kesehatan dan daya tahan perekonomian nasional. Indikator tersebut mencakup kinerja perdagangan, perkembangan ekspor, inflasi, serta stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Capaian positif pada sejumlah sektor tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Salah satu indikator yang menunjukkan ketahanan ekonomi nasional adalah kinerja neraca perdagangan. Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026. Surplus perdagangan tersebut menunjukkan bahwa kinerja ekspor nasional masih mampu memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian. Kemampuan mempertahankan surplus di tengah perubahan permintaan global menjadi salah satu penopang ketahanan sektor eksternal Indonesia. Kondisi ini juga memperlihatkan pentingnya menjaga daya saing produk dalam negeri, memperluas pasar ekspor, dan memperkuat sektor industri agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah. Dengan demikian, kinerja perdagangan dapat terus mendukung aktivitas ekonomi serta memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi dinamika perdagangan internasional.

Selain neraca perdagangan, perkembangan ekspor nasional turut menjadi perhatian pemerintah. Airlangga menyebut kinerja ekspor Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif. Peningkatan ekspor berperan dalam memperkuat penerimaan devisa dan mendukung aktivitas sektor produksi di dalam negeri. Ketika permintaan terhadap produk nasional tetap terjaga, kegiatan industri dan rantai pasok juga berpeluang berkembang.

Dari sisi stabilitas harga, pemerintah juga mencermati perkembangan inflasi sebagai salah satu indikator penting daya tahan ekonomi. Airlangga menyampaikan bahwa inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), serta 0,22 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm). Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year-to-date (ytd) mencapai 2,4 persen. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari gambaran kondisi harga barang dan jasa yang terus dipantau pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.

Pengendalian inflasi memiliki keterkaitan erat dengan stabilitas perekonomian dan kepercayaan masyarakat. Kenaikan harga yang terkendali dapat membantu rumah tangga mengelola pengeluaran, sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam menyusun rencana produksi dan investasi. Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga kelancaran distribusi barang, ketersediaan pasokan, serta koordinasi pengendalian harga di tingkat pusat dan daerah. Langkah tersebut penting agar tekanan harga tidak berkembang menjadi beban yang lebih besar bagi masyarakat.

Di tengah indikator ekonomi yang relatif positif, nilai tukar rupiah tetap menghadapi tekanan akibat perkembangan pasar keuangan global. Bank Indonesia memastikan akan terus menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan yang disesuaikan dengan kondisi pasar. Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan.

Destry menerangkan bahwa pergerakan rupiah merupakan bagian dari dinamika pasar keuangan. Nilai tukar terbentuk melalui mekanisme permintaan dan penawaran valuta asing serta dipengaruhi persepsi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi. Perubahan kebijakan moneter negara maju, perkembangan geopolitik, dan perubahan arus modal internasional juga dapat memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang. BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. Menurut Destry, stabilitas nilai tukar merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan iklim perekonomian yang kondusif.

Upaya menjaga stabilitas nilai tukar tentunya berkaitan dengan keberlangsungan sektor riil. Dunia usaha membutuhkan kondisi ekonomi yang relatif stabil untuk mempertahankan produksi, memperluas kegiatan usaha, dan membuka lapangan pekerjaan. Oleh sebab itu, koordinasi kebijakan antara pemerintah dan BI menjadi penting untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan. Pemerintah juga perlu melanjutkan penguatan sektor produktif agar sumber pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada konsumsi, tetapi turut ditopang investasi, industri, dan ekspor.

Berbagai indikator tersebut memberikan gambaran bahwa perekonomian Indonesia memiliki sejumlah penopang untuk menghadapi tekanan eksternal. Surplus perdagangan, pertumbuhan ekspor, serta perkembangan inflasi menjadi faktor yang diperhatikan dalam menilai ketahanan ekonomi nasional. Meski demikian, kewaspadaan terhadap dinamika global dan pergerakan pasar keuangan tetap diperlukan. Konsistensi kebijakan, penguatan fundamental ekonomi, dan koordinasi antarlembaga diharapkan dapat menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan sektor riil. Dengan fondasi ekonomi yang terus diperkuat, optimisme terhadap prospek perekonomian Indonesia dapat dipertahankan di tengah ketidakpastian global.

*) Pemerhati ekonomi

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global

Oleh: Agus Yanuar Perekonomian Indonesia memperlihatkan daya tahan di tengah ketidakpastian global dengan mencatat pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Angka yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih bergerak positif, meskipun belum menyamai capaian awal tahun. Kinerja ini menjadi modal untuk menjaga optimisme, sekaligus pengingat bahwa ketahanan ekonomi perlu diperkuat melalui kebijakan konsisten dan pembangunan yang manfaatnya dirasakan masyarakat. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 mencapai 5,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut memang lebih rendah daripada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen, tetapi meningkat dibandingkan kuartal II 2026 sebesar 5,29 persen dan kuartal III 2025 sebesar 5,04 persen. Perbandingan tersebut memperlihatkan momentum perekonomian masih terjaga, meskipun perkembangan setiap kuartal perlu dicermati agar perlambatan tidak berlanjut. BPS mencatat produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal III 2026 mencapai Rp6.741 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.633,2 triliun. Seluruh lapangan usaha berhasil membukukan pertumbuhan positif. Kondisi ini menunjukkan pergerakan ekonomi tidak hanya bergantung pada satu bidang, melainkan ditopang berbagai sektor yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nasional. Lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Edy Mahmud menyebutkan bahwa gabungan kelima sektor tersebut mencakup sekitar 65,31 persen dari total PDB nasional. Industri pengolahan memberikan kontribusi 19,22 persen, disusul pertanian 13,46 persen, perdagangan 13,24 persen, konstruksi 10,20 persen, serta pertambangan sebesar 9,19 persen. *Penulis merupakan pengamat kebijakan publik Dari sisi pertumbuhan, industri pengolahan meningkat 5,87 persen dan berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Kinerja tersebut memperlihatkan peran industri dalam menciptakan nilai tambah, menjaga produksi, serta mendukung rantai pasok dan kesempatan kerja. Perdagangan tumbuh 7,14 persen dan konstruksi mencapai 6,42 persen, sementara pertambangan kembali mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,91 persen. Adapun pertanian hanya tumbuh 0,46 persen. Angka ini patut menjadi perhatian karena pertanian berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, penghidupan masyarakat pedesaan, dan stabilitas harga kebutuhan sehari-hari. Pertumbuhan tertinggi justru dicatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, yakni mencapai 11,22 persen. Peningkatan tersebut didorong oleh bertambahnya hunian kamar hotel serta konsumsi masyarakat di rumah makan dan restoran. Perkembangan ini mencerminkan aktivitas pariwisata dan mobilitas masyarakat yang turut menggerakkan industri perhotelan, kuliner, transportasi, serta berbagai usaha kecil di daerah wisata. Selanjutnya, sektor jasa keuangan mencatat pertumbuhan sebesar 8,47 persen berkat peningkatan intermediasi perbankan. Sementara itu, jasa lainnya tumbuh 8,32 persen, antara lain didorong oleh meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara. Pertumbuhan berbagai sektor jasa tersebut memperlihatkan bahwa permintaan domestik dan mobilitas masyarakat masih menjadi penopang penting perekonomian Indonesia. BPS juga mengungkapkan bahwa industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar pada kuartal III 2026 dengan kontribusi mencapai 1,20 poin persentase. Edy Mahmud menjelaskan bahwa dari total pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47 persen, sebanyak 1,20 poin persentase berasal dari industri pengolahan. Selain itu, perdagangan menyumbang 0,94 poin persentase, konstruksi 0,62 poin persentase, informasi dan komunikasi 0,49 poin persentase, sedangkan sektor lainnya memberikan kontribusi sebesar 2,22 poin persentase. Dalam setahun terakhir, pemerintah juga terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi melalui penguatan kebijakan fiskal, keberlanjutan pembangunan, serta pemeliharaan aktivitas ekonomi domestik. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen penting untuk meredam tekanan ekonomi atau shock absorber. Berbagai upaya menjaga konektivitas, memperkuat layanan dasar, dan menciptakan iklim usaha yang kondusif turut menjadi bagian dari strategi mempertahankan pertumbuhan. Keberhasilan tersebut perlu terus ditingkatkan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat. Meskipun demikian, capaian positif tersebut tidak berarti Indonesia terbebas dari berbagai tantangan. Pertumbuhan sektor pertanian yang masih terbatas, kebutuhan meningkatkan daya saing industri, serta kerentanan terhadap perubahan kondisi ekonomi global tetap membutuhkan perhatian serius. Pemerintah perlu memastikan kebijakan anggaran berjalan tepat sasaran, sementara dunia usaha didorong meningkatkan investasi, inovasi, dan produktivitas agar perekonomian semakin kuat. Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah akan menganalisis perkembangan ekonomi terkini sekaligus prospek perekonomian menjelang akhir tahun. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap kuat di sekitar 5,5 persen. Optimisme tersebut didasarkan pada aktivitas ekonomi domestik yang diyakini masih menjadi penopang utama serta peran APBN yang stabil dan kuat dalam menghadapi berbagai guncangan. Suahasil menegaskan bahwa sinergi kebijakan dan momentum aktivitas ekonomi harus terus dijaga untuk mendukung pencapaian target tersebut. Oleh karena itu, koordinasi antarkementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi penting agar berbagai peluang pertumbuhan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen pada kuartal