Lompat ke konten utama

Kata Papua

Pemerintah Mampu Kendalikan Inflasi Akibat Penyesuaian Harga BBM - Kata Papua

Pemerintah Mampu Kendalikan Inflasi Akibat Penyesuaian Harga BBM

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Pemerintah Mampu Kendalikan Inflasi Akibat Penyesuaian Harga BBM.
Oleh : Savira Ayu )*
Penyesuaian harga BBM membuat harga-harga di pasar mengalami perubahan. Namun pemerintah memiliki strategi jitu agar keadaan ini tidak memburuk dan menjadi inflasi parah. Salah satunya dengan pemberian BLT BBM sebagai bantalan sosial, sehingga masyarakat masih bisa belanja dengan menggunakan uang bantuan tersebut.
Dunia terancam resesi karena efek pandemi selama lebih dari 2 tahun, dan ditambah dengan kenaikan harga minyak mentah. Keadaan ini tentu mengerikan, dan bisa memicu inflasi berkepanjangan. Pemerintah ingin agar keadaan ekonomi Indonesia tetap stabil dan tidak jatuh ke dalam jurang resesi dan terjadi inflasi yang parah, seperti negara-negara lain.
Inflasi adalah keadaan ketika harga barang dan jasa naik terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Ketika harga BBM terpaksa disesuaikan (karena harga minyak mentah dunia juga mengalami perubahan), maka ada ancaman inflasi. Namun pemerintah bersiap-siap untuk mengendalikan perekonomian dan menghindari inflasi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa pemerintah meredam gejolak inflasi dan scarring effect alias efek luka pasca pandemi, dengan beberapa strategi. Pertama dengan menyehatkan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), kedua dengan menyehatkan masyarakat, dan perekonomian. Diharap dengan strategi ini maka Indonesia terhindar dari inflasi parah dan tidak kena resesi seperti yang terjadi di negara-negara Eropa.
Dalam artian, pemerintah menyehatkan APBN karena merupakan anggaran negara yang harus dipatuhi selama setahun. APBN tidak boleh merugi karena akan berbahaya bagi perekonomian Indonesia. Setelah dikalkulasi maka ada potensi kerugian APBN sebesar 500 triliun rupiah karena harga minyak dunia naik drastis, dari 65 ke 100 dollar Amerika per barrelnya.
Oleh karena itu pemerintah terpaksa mengambil jalan penyelamatan dengan mengurangi subsidi BBM, sehingga harga Pertalite dan Solar disesuaikan. Dengan cara ini maka APBN kembali seimbang dan tidak mengalami kerugian besar. Pemerintah Indonesia tidak akan menambah hutang negara karena kurangnya dana APBN.
Penyesuaian harga BBM tentu membawa gejolak di masyarakat dan jika tidak tertangani, akan mengakibatkan inflasi. Penyebabnya karena harga barang-barang juga mengalami perubahan. Namun pemerintah tidak tinggal diam dan memberikan BLT BBM ke rakyat kecil yang terdampak efek perubahan harga bensin.
BLT BBM diberikan ke lebih dari 20 juta rakyat yang membutuhkan. Mereka mendapatkan uang sebesar Rp. 600.000, dan bisa mengantri di Kantor Pos. Penyaluran BLT BBM dilakukan sejak awal bulan September 2022.
BLT BBM diberikan sebagai bantalan sosial, sehingga rakyat kecil tidak terlalu terdampak oleh penyesuaian harga BBM. Mereka tidak mengalami inflasi karena masih bisa membeli beras dan kebutuhan lain, dan menggunakan dana BLT tersebut. Masyarakat merasa senang karena merasa diperhatikan oleh pemerintah.
Pengendalian laju inflasi oleh BLT BBM sangat penting, karena di kala harga barang-barang naik, rakyat kecil tidak mampu membelinya, atau terpaksa berhutang sekadar untuk membeli beras. Namun ketika ada dana BLT, mereka bisa belanja dengan tenang. Inflasi parah tidak akan terjadi karena situasi di pasar makin aman.
Inflasi harus dihindari karena bisa menyebabkan kekacauan di perekonomian Indonesia. Jangan sampai terjadi lagi krisis ekonomi seperti tahun 1998, di mana harga-harga meroket dan ada PHK massal. Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan jurus agar tidak terjadi inflasi dan resesi, salah satunya dengan pemberian BLT BBM.
Kemudian, BLT BBM juga mampu meningkatkan daya beli masyarakat sehingga menjalankan roda perekonomian dengan lancar. Jika daya beli turun, bahkan mati, sangat berbahaya bagi perekonomian Indonesia. Oleh karena itu pemerintah memberi stimulus dengan BLT BBM, demi kesejahteraan rakyat dan keamanan finansial negara.
Pakar Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Arin Setyowati menyatakan bahwa inflasi bisa meningkatkan kemiskinan di Indonesia dan berpotensi menghambat laju perekonomian di negeri ini. Oleh karena itu, inflasi dihindari dengan cara kebijakan fiskal, moneter, menstabilkan pendapatan masyarakat (tingkat upah), memudahkan masuknya barang-barang impor, dan meningkatkan hasil produksi.
Kebijakan fiskal tahun 2022 yang diambil oleh pemerintah berfokus pada pemulihan ekonomi. Pertama dengan insentif pajak. PPN (pajak pertambahan nilai) tidak dipungut dan PPH pasal 22 dibebaskan. Dengan intensif pajak maka wajib pajak tetap mematuhi kewajibannya tanpa merasa keberatan, karena diberi bantuan oleh pemerintah.
Pemerintah juga mempermudah masuknya barang-barang impor dengan melalui jalur hijau. Pemeriksaan fisik barang impor tidak dilakukan, hanya pemeriksaan dokumen. Dengan cara ini maka tidak akan makan waktu lama dan para importir bisa berbisnis dengan lancar. Laju inflasi juga terkendali karena perekonomian Indonesia dan laju impor serta ekspor aman.
Pemerintah berusaha mengendalikan inflasi akibat penyesuaian harga BBM. Tidak bisa dipungkiri, harga barang-barang di pasar mengalami perubahan. Namun masih dalam taraf yang wajar dan tidak mencekik rakyat kecil. Mereka masih tetap bisa belanja dengan lancar karena diberi BLT BBM oleh pemerintah.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

2 Tahun Prabowo-Gibran, Pangan dan Energi Diperkuat hingga Pelosok

Oleh : Aditya Perdana Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum untuk menilai kemajuan sekaligus pekerjaan rumah di bidang pangan dan energi. Pemerintah mencatat peningkatan produksi beras dan memperkuat agenda transformasi energi. Namun, keberhasilan kebijakan pada akhirnya perlu diukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat pertumbuhan. Di bidang pangan, Indonesia mencatat produksi beras sebesar 34,69 juta ton sepanjang Januari hingga Desember 2025. Cadangan beras pemerintah mencapai 4,61 juta ton per 19 September 2026. Dengan perkiraan ketersediaan nasional sebesar 26,91 juta ton, stok beras diproyeksikan mencukupi kebutuhan hingga 310 hari. Capaian tersebut memperkuat upaya pemerintah membangun kemandirian pangan dan menjaga pasokan di tengah dinamika kebutuhan masyarakat. Perubahan tata kelola pertanian ikut mendukung peningkatan produksi. Pemerintah menyederhanakan penyaluran pupuk bersubsidi agar distribusinya lebih cepat dan tepat sasaran. Alokasi pupuk ditambah 700 ribu ton, sementara harga eceran tertinggi diturunkan hingga 20 persen. Langkah ini dapat membantu petani mengurangi beban biaya dan memperoleh sarana produksi yang dibutuhkan. Agar kebijakan tersebut benar-benar terasa, pelaksanaannya perlu terus diperiksa dari sudut pandang petani. Pupuk harus tersedia sesuai musim tanam, mudah diakses, dan tidak menyulitkan petani dengan proses administrasi yang berbelit. Pemerintah daerah, kelompok tani, dan koperasi dapat dilibatkan dalam pemantauan distribusi. Saluran pengaduan yang sederhana juga perlu disertai kepastian tindak lanjut, sehingga laporan tentang keterlambatan atau kelangkaan pupuk segera ditangani. Ketahanan pangan tidak berhenti pada ketersediaan beras. Petani juga membutuhkan kepastian pasar, harga jual yang wajar, akses pembiayaan, dan pendampingan untuk meningkatkan produktivitas. Perluasan produksi sebaiknya berjalan bersama perlindungan lahan pertanian dan perbaikan sarana irigasi. Pemerintah dapat menggunakan masukan dari petani di tiap daerah untuk mengetahui kendala yang berbeda, mulai dari kondisi lahan hingga jalur distribusi hasil panen. Energi juga menjadi fondasi bagi kegiatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Presiden Prabowo mengarahkan transformasi menyeluruh PT PLN (Persero), mencakup pembenahan model bisnis, peningkatan efisiensi dan produktivitas, serta percepatan pemanfaatan tenaga surya dengan ambisi kapasitas 100 gigawatt. Rancangan transformasi PLN akan dikaji bersama Danantara sebelum dipaparkan kepada Presiden. Pembenahan ini penting seiring kebutuhan listrik rumah tangga, industri, dan layanan publik yang terus meningkat. Bagi masyarakat, ukuran kemajuan energi tampak dalam pasokan listrik yang andal dan pelayanan yang tanggap. Listrik yang stabil membantu anak belajar, menjaga kegiatan usaha kecil, serta mendukung layanan kesehatan dan pendidikan. Karena itu, evaluasi kinerja PLN perlu memperhatikan pengalaman pelanggan, termasuk warga di wilayah terpencil yang menghadapi gangguan lebih lama atau akses layanan yang terbatas. Efisiensi perusahaan juga perlu berjalan seiring dengan perlindungan konsumen dan pemberian subsidi yang tepat sasaran. Percepatan energi bersih dapat menjadi peluang untuk memperkuat ketahanan sekaligus daya saing Indonesia. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2025–2034 memuat tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan sebesar 69,5 gigawatt, termasuk 17,1 gigawatt tenaga surya. Sementara itu, ambisi pengembangan tenaga surya hingga 100 gigawatt memerlukan tahapan yang jelas. Kesiapan jaringan, kepastian investasi, ketersediaan teknologi, dan pelatihan tenaga kerja perlu dirancang secara terpadu. Pengembangan energi bersih juga sebaiknya membuka manfaat ekonomi di daerah. Pemerintah dapat mendorong pelatihan bagi tenaga kerja lokal, mendukung industri komponen, dan memastikan masyarakat sekitar memperoleh informasi serta kesempatan berpartisipasi. Dengan demikian, proyek energi tidak hanya menambah kapasitas pembangkit, tetapi juga menciptakan keterampilan, lapangan kerja, dan kegiatan ekonomi baru. Pilihan teknologi lain, termasuk tenaga nuklir, memerlukan pembahasan yang terbuka. Pembangkit listrik tenaga nuklir telah tercantum dalam RUPTL 2025–2034 dan pemerintah menerima masukan dari kalangan akademisi serta kelompok cendekiawan. Potensi pasokan listrik rendah emisi dan stabil perlu dinilai bersama persyaratan keselamatan, pengawasan independen, kesiapan teknologi, serta dampaknya bagi masyarakat. Penjelasan yang mudah dipahami dapat membantu publik ikut menilai kebijakan berdasarkan informasi yang utuh. Pangan dan energi juga saling berkaitan. Produksi dan distribusi pangan membutuhkan energi, sedangkan listrik yang andal mendukung pengolahan hasil pertanian dan kegiatan usaha. Pemerintah dapat memperkuat koordinasi kedua sektor dengan melibatkan petani, pelaku UMKM, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan warga. Masukan mereka sejak tahap perencanaan akan membantu kebijakan lebih sesuai dengan kebutuhan lokal dan mengurangi risiko program tidak berjalan optimal. Memasuki tahun ketiga pemerintahan, pekerjaan berikutnya adalah menjaga capaian sekaligus memperbaiki pelaksanaan yang masih menghadapi kendala. Ketahanan pangan perlu terasa melalui pasokan terjangkau dan kesejahteraan petani. Ketahanan energi perlu tampak dalam listrik yang andal, layanan yang responsif, dan manfaat pembangunan yang menjangkau daerah. Evaluasi berkala, keterbukaan informasi, dan kesediaan mendengar masyarakat akan membantu pemerintah menentukan langkah yang lebih tepat. Pangan dan energi yang kuat hingga pelosok tidak tercapai hanya melalui target nasional. Keduanya membutuhkan pelayanan yang dekat dengan masyarakat dan kebijakan yang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi tiap daerah. Jika kemajuan terus diiringi masukan publik dan pembenahan yang terukur, agenda kemandirian pangan dan energi dapat menjadi bagian nyata dari peningkatan kesejahteraan rakyat. )* Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis