Lompat ke konten utama

Kata Papua

Persiapan Relaunching AMANAH Hadirkan Ruang Inovasi Daur Ulang, Dorong Ekonomi Kreatif Pemuda Aceh - Kata Papua

Persiapan Relaunching AMANAH Hadirkan Ruang Inovasi Daur Ulang, Dorong Ekonomi Kreatif Pemuda Aceh

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Sylmi Mubaro

Relaunching Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) menghadirkan terobosan baru melalui Ruang Inovasi berbasis daur ulang yang menjadi simbol penguatan ekonomi kreatif di kalangan pemuda Aceh. Program ini menampilkan berbagai produk inovatif hasil olahan sampah seperti SOBOTIK (sofa botol plastik), briket ampas kopi, hingga eco enzym, yang tidak hanya bernilai ekonomis tetapi juga ramah lingkungan. Kehadiran inisiatif tersebut menegaskan komitmen AMANAH dalam mendorong lahirnya generasi muda yang kreatif, produktif, sekaligus peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.

Keberadaan kawasan kreatif AMANAH di Ladong, Aceh Besar, menjadi simbol konkret dari keseriusan dalam membangun fondasi ekonomi masa depan. Dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp200 miliar sejak diresmikan pada akhir 2024, AMANAH kini hadir sebagai pusat inovasi yang menggabungkan berbagai sektor strategis, mulai dari industri kreatif, pertanian modern, hingga pengembangan UMKM berbasis teknologi.

Dalam relaunching kali ini, AMANAH menampilkan berbagai program unggulan yang menegaskan arah pengembangan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan. Salah satu sorotan utama adalah kehadiran Ruang Inovasi yang menampilkan enam produk hasil pengolahan sampah bernilai ekonomi tinggi. Produk-produk tersebut meliputi SOBOTIK (sofa berbahan botol plastik), briket dari ampas kopi, pouch dari kain perca, pupuk berbahan daun nilam, eco enzym, serta berbagai produk daur ulang dari sampah plastik rumah tangga.

Inisiatif ini tidak hanya menunjukkan kreativitas, tetapi juga mengintegrasikan prinsip ekonomi sirkular dalam pengembangan industri kreatif. Generasi muda tidak hanya didorong untuk menciptakan produk, tetapi juga untuk menghadirkan solusi atas persoalan lingkungan yang semakin kompleks.

Selain itu, geliat UMKM binaan AMANAH juga semakin terlihat nyata. Hingga 17 April 2026, tercatat sebanyak 45 produk UMKM telah terverifikasi, dengan 40 produk di antaranya telah dipajang di Galeri UMKM. Sementara itu, lima produk lainnya masih dalam proses kurasi di sekretariat AMANAH Banda Aceh. Capaian ini menunjukkan bahwa AMANAH tidak hanya menjadi ruang kreativitas, tetapi juga menjadi inkubator bisnis yang mampu mengantarkan produk lokal ke pasar yang lebih luas.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, sebelumnya juga menilai bahwa fasilitas yang dimiliki Gedung AMANAH merupakan lompatan besar dalam mendukung pengembangan potensi anak muda. Dengan adanya studio musik modern, ruang podcast, hingga bengkel kreatif, AMANAH menjadi wadah yang relevan dengan kebutuhan industri kreatif masa kini.

Di sektor industri, AMANAH turut menghadirkan fasilitas produksi minyak nilam yang menjadi komoditas unggulan Aceh. Tidak berhenti pada produksi bahan mentah, pengolahan nilam juga diarahkan hingga menghasilkan produk turunan seperti kosmetik dan skincare. Pendekatan hilirisasi ini menjadi kunci dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat daya saing produk lokal.

Sementara itu, sektor pertanian modern juga menjadi bagian penting dalam ekosistem AMANAH. Penggunaan greenhouse dan teknologi hortikultura membuka perspektif baru bagi generasi muda bahwa pertanian dapat menjadi sektor yang modern, produktif, dan menguntungkan. Program budidaya cabai dan sistem perikanan bioflok juga menjadi strategi dalam menjaga stabilitas harga pangan sekaligus menekan inflasi daerah.

Dalam konteks pengembangan kapasitas sumber daya manusia, AMANAH juga aktif menghadirkan program pelatihan berbasis keterampilan. Salah satunya adalah kegiatan “Pelatihan Teknik Dasar Menjahit AMANAH x Ija Kroeng” yang diselenggarakan di Rumah Fashion, Gedung AMANAH. Hingga saat ini, jumlah peserta yang telah mendaftar mencapai 17 orang. Program ini menjadi langkah konkret dalam menciptakan wirausaha baru di sektor fashion berbasis kearifan lokal.

Tidak hanya itu, sektor kuliner juga mendapatkan perhatian melalui fasilitas roasting kopi profesional. Aceh yang dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri kopi berbasis nilai tambah. Kehadiran fasilitas ini memungkinkan pelaku usaha muda meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas akses pasar.

Penguatan ekosistem ini semakin solid melalui kolaborasi strategis dengan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia Perwakilan Aceh. Sinergi ini tidak hanya berfokus pada pengembangan ekonomi kreatif, tetapi juga pada penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan sebagai bagian dari stabilitas ekonomi daerah.

Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menegaskan bahwa restrukturisasi organisasi yang dilakukan bertujuan untuk memastikan pengelolaan yang profesional dan berkelanjutan. Dengan sistem yang lebih terintegrasi, AMANAH diharapkan mampu menjadi model pengembangan ekonomi kreatif yang dapat direplikasi di daerah lain.

Pada akhirnya, relaunching AMANAH menjadi momentum penting dalam memperkuat optimisme bahwa Aceh mampu menjadi salah satu pusat ekonomi kreatif di Indonesia. Dengan dukungan fasilitas yang lengkap, program yang terarah, serta kolaborasi lintas sektor, generasi muda Aceh kini memiliki ruang yang lebih luas untuk berinovasi dan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi.

Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa masa depan ekonomi Aceh tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi juga pada kreativitas, inovasi, dan semangat kewirausahaan generasi mudanya.

*) Pemerhati ekonomi

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Kampung Nelayan Merah Putih: Negara Hadir Angkat Hidup Warga Pesisir

Oleh: Bagas Nurahman Kehadiran negara di tengah masyarakat pesisir terus diperkuat melalui Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas kehidupan nelayan melalui pembangunan kawasan yang lebih layak, penyediaan sarana pendukung perikanan, hingga bantuan kapal penangkap ikan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengangkat produktivitas dan kesejahteraan warga pesisir secara berkelanjutan. Pemerintah kini mematangkan percepatan pembangunan 100 Kampung Nelayan tahap pertama di berbagai daerah. Selain pembangunan kawasan, dukungan juga diberikan melalui pendistribusian bantuan kapal bagi para nelayan. Rangkaian program tersebut menunjukkan upaya pemerintah menghadirkan solusi yang tidak hanya berorientasi pada perbaikan lingkungan tempat tinggal, tetapi juga memperkuat kemampuan masyarakat pesisir dalam mengembangkan kegiatan ekonomi. Pembahasan mengenai perkembangan program tersebut dilakukan dalam pertemuan antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono serta Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani di Hambalang, Kabupaten Bogor, Selasa, 1 September 2026. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari koordinasi pemerintah untuk memastikan program strategis sektor kelautan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat. Bagi masyarakat pesisir, pembangunan Kampung Nelayan memiliki arti penting karena kawasan tempat tinggal memiliki hubungan erat dengan aktivitas ekonomi sehari-hari. Karena itu, pemerintah mendorong pembangunan yang mampu menghadirkan lingkungan yang lebih tertata sekaligus mendukung kegiatan nelayan. Pendekatan tersebut diharapkan menciptakan kawasan pesisir yang lebih produktif, nyaman, dan memiliki fasilitas yang memadai. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya mengatakan perkembangan pembangunan Kampung Nelayan menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Pembangunan kawasan diarahkan untuk mendukung aktivitas masyarakat sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih layak dan produktif. Dukungan terhadap nelayan juga diperkuat melalui penyediaan kapal yang dapat menunjang kegiatan mereka di laut. Bantuan kapal menjadi salah satu bentuk nyata dukungan pemerintah terhadap produktivitas nelayan. Ketersediaan sarana melaut yang lebih memadai dapat membantu nelayan menjalankan aktivitas penangkapan ikan dengan lebih optimal. Dengan meningkatnya kapasitas produksi, manfaat ekonomi diharapkan dapat dirasakan tidak hanya oleh nelayan, tetapi juga oleh keluarga dan masyarakat yang bergantung pada sektor perikanan. Konsep KNMP sendiri dikembangkan berdasarkan peninjauan langsung ke berbagai kampung nelayan sejak 2020. Hasil peninjauan menunjukkan masih terdapat kebutuhan terhadap penataan kawasan dan sarana penunjang aktivitas perikanan. Pemerintah kemudian mendorong pembangunan yang disusun berdasarkan kondisi serta kebutuhan nyata masyarakat di setiap wilayah. Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono mengatakan pentingnya menjadikan produktivitas sebagai dasar dalam meningkatkan taraf hidup nelayan. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan Kampung Nelayan tidak berhenti pada perbaikan rumah atau lingkungan, tetapi diarahkan untuk membentuk ekosistem ekonomi yang mampu meningkatkan penghasilan dan kemandirian masyarakat. Pengembangan di Biak menjadi salah satu gambaran bagaimana kebutuhan masyarakat menjadi dasar perencanaan KNMP. Kawasan tersebut dikembangkan dengan memperhatikan berbagai fasilitas pendukung, seperti stasiun pengisian bahan bakar nelayan, pabrik es, cold storage, bengkel, balai pertemuan, kawasan kuliner, hingga kantor pengelola. Kehadiran fasilitas yang saling terhubung diharapkan dapat memperlancar rantai kegiatan perikanan dari proses melaut hingga pengelolaan hasil tangkapan. Pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 kampung nelayan hingga 2029. Target tersebut memperlihatkan besarnya perhatian pemerintah terhadap masyarakat pesisir sekaligus potensi sektor kelautan sebagai salah satu kekuatan ekonomi nasional. Pengembangan kampung nelayan juga berjalan seiring dengan program budi daya tematik yang mempertimbangkan pemanfaatan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) untuk meningkatkan efisiensi produksi. Penguatan masyarakat pesisir juga berkaitan dengan agenda swasembada protein. Sektor kelautan dan perikanan memiliki peran penting dalam menyediakan sumber pangan sekaligus membuka peluang ekonomi. Pengembangan sektor tersebut diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat serta memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Agar manfaat program benar-benar diterima masyarakat, pemerintah memperkuat sinergi lintas kementerian serta sistem pengawasan. Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf mengatakan pentingnya pelaksanaan program yang tepat sasaran, objektif, dan didukung sistem pengawasan yang terukur. Koordinasi internal terus diperkuat agar pembangunan dapat berlangsung cepat, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Melalui Kampung Nelayan Merah Putih, kehadiran negara diwujudkan melalui pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat pesisir. Rumah dan lingkungan yang lebih tertata, fasilitas perikanan yang semakin lengkap, bantuan kapal, serta penguatan teknologi menjadi bagian dari langkah terpadu untuk meningkatkan produktivitas nelayan. Program tersebut pada akhirnya tidak hanya membangun kawasan, tetapi