Lompat ke konten utama

Kata Papua

Aksi Bengis KST Ancam Kedamaian Papua - Kata Papua

Aksi Bengis KST Ancam Kedamaian Papua

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp


Oleh : Alfred JIgibalom 


Kelompok separatis dan teroris (KST) kembali berulah dengan membakar belasan rumah warga Papua hingga menewaskan rakyat sipil.

Masyarakat mendukung TNI/Polri untuk menumpas KST karena aksi bengis gerombolan tersebut telah mengancam kedamaian Papua.
Papua kembali bergejolak setelah KST kembali menyengsarakan warga.

Keberadaan kelompok separatis ini bagai duri dalam daging karena mereka selalu berulah dan korbannya adalah masyarakat sipil yang tak berdosa. Padahal KST berkoar-koar akan kemerdekaan, tetapi malah jelas-jelas merugikan orang asli Papua, sungguh sebuah tindakan yang kontras dan mengherankan.


KST membakar sampai 16 rumah warga di Kampung Kago, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua. Peristiwa itu membuat masyarakat mengungsi ke tempat-tempat yang aman.

Mirisnya, aparat yang akan menyelamatkan warga malah ditembak saat dalam perjalanan, sehingga terjadi kontak senjata. Saat mereka akan memadamkan api juga dihalang-halangi. Hal ini dipaparkan oleh Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal.


Masyarakat mengecam aksi keji KST karena hal ini bukan untuk pertama kalinya. Tanggal 31 maret 2022 lalu mereka juga membakar rumah warga di Ilaga, bahkan juga menganiaya seorang pengajar. Mereka juga pernah membakar gedung sekolah. Warga sudah muak dengan KST yang hanya bisa merusak dan membakar tetapi tidak pernah memberikan manfaat bagi orang asli Papua.
Orang asli Papua sendiri tidak menyukai KST karena mereka terlalu sering melakukan aksi berupa teror dan perusakan, baik ke fasilitas umum maupun properti milik warga sipil. Kerugiannya tentu tidak sedikit dan mereka tidak pernah bertanggungjawab akan penggantian material atau uangnya.
KST bahkan membunuh warga sipil di Bumi Cendrawasih seperti seorang tukang ojek yang kehilangan nyawa setelah ia dan rekannya diserang di Kawasan Puncak Jaya. Menurut Kapolda Papua Irjen Mathius Fakiri, peristiwa itu terjadi tanggal 12 april 2022 jam 10 WIT. Kedua tukang ojek langsung dievakuasi ke RSUD Mulia, satu tidak selamat sementara satu lagi dirawat karena terkena rekoset di bagian kepala.
Penyerangan yang terjadi ke warga sipil selalu dengan alasan bahwa ia adalah mata-mata aparat. padahal itu hanya fitnah yang dikarang oleh KST sendiri. Warga yang tidak memiliki senjata untuk melindungi diri tentu langsung meregang nyawa begitu kena muntahan pelor panas.
Padahal KST adalah anak buah OPM (organisasi Papua Merdeka) yang selalu menjanjikan tentang republik federal papua barat. Bagaimana bisa mereka membelot dan menarik simpati orang asli Papua jika warga asli selalu dirugikan? Amatlah aneh karena KST makin menggila sampai tega membakar rumah saudara sesukunya sendiri.
Sudah terlalu banyak daftar kekejaman KST dan pentolan-pentolannya masuk ke dalam daftar pencarian orang. Oleh karena itu masyarakat Papua sendiri mendukung tindakan aparat, khususnya Satgas Damai Cartenz, untuk melakukan penangkapan KST. Penyebabnya karena KST sudah masuk ke ranah kriminal dengan melakukan perusakan.
Masyarakat mendukung Satgas Damai Cartenz dengan menjadi informan, jadi ketika ada kegiatan yang mencurigakan bisa langsung dilaporkan. Penyebabnya karena bisa jadi di sana ada anggota KST yang sedang menyamar. Jika ada pelaporan seperti ini maka makin bagus karena anggota KST bisa dicokok dengan cepat.
Sementara itu, warga mendukung aparat dengan tidak mau menyembunyikan anggota KST yang melarikan diri dari kejaran petugas, baik setelah melakukan penembakan atau bukan. Mereka sadar bahwa KST amat merugikan sehingga tidak mau diajak bekerja sama. KST bukanlah pahlawan tetapi malah penjahat yang sukanya mengacak-acak perdamaian di Bumi Cendrawasih.
Keberadaan KST amat mengganggu masyarakat di Bumi Cenderawasih, apalagi mereka tidak sekadar menakut-nakuti dengan senjata api, tetapi sampai melakukan pembakaran rumah. Warga sipil sudah jenuh dengan tingkah mereka yang makin tidak terkontrol. Oleh karena itu masyarakat mendukung penuh Satgas Damai Cartenz dalam menangkap KST agar perdamaian di Bumi Cendrawasih selalu terwujud.
)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

PTN Gratis: Agenda Keadilan Pendidikan

Oleh : Jonathan Janoel Wacana pendidikan tinggi gratis kembali mengemuka setelah Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa biaya pendidikan pada satuan pendidikan negeri, termasuk perguruan tinggi negeri (PTN), harus dapat digratiskan. Pernyataan tersebut disampaikan dan langsung diikuti arahan untuk menggelar rapat terbatas. Di tengah kebutuhan memperluas akses pendidikan tinggi, agenda ini dapat menjadi momentum untuk menempatkan pendidikan sebagai investasi negara dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Presiden Prabowo menilai akses pendidikan negeri tidak semestinya menjadi beban berat bagi masyarakat. Karena itu, pemerintah akan membahas desain kebijakan dan pembiayaannya secara lebih mendalam. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan gratis PTN mulai diarahkan dari gagasan menuju pembahasan kebijakan. Pendekatan ini penting agar tujuan memperluas akses pendidikan tetap berjalan seiring dengan kemampuan fiskal dan keberlanjutan pengelolaan perguruan tinggi. Menindaklanjuti arahan tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan bahwa kementeriannya akan melakukan kajian mengenai kemungkinan penggratisan biaya kuliah di PTN. Kajian tersebut mencakup berbagai opsi skema pembiayaan yang nantinya dilaporkan kepada Presiden untuk dibahas bersama kementerian dan lembaga terkait. Brian juga menjelaskan bahwa pemerintah sebenarnya telah memberikan dukungan pembiayaan melalui KIP Kuliah dan berbagai program beasiswa. Data yang disampaikan Brian menunjukkan sekitar 28,2 persen mahasiswa baru yang diterima di PTN memperoleh dukungan melalui berbagai skema pembiayaan, terutama mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah telah memiliki fondasi kebijakan untuk memperluas akses pendidikan tinggi. Agenda PTN gratis dapat menjadi pengembangan berikutnya dengan desain yang lebih terukur sehingga dukungan negara dapat menjangkau lebih banyak calon mahasiswa. Gagasan tersebut mendapat perspektif ekonomi dari Ekonom Senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini. Didik menilai pendidikan gratis hingga PTN bukan sesuatu yang mustahil. Menurutnya, sebagian fondasi pembiayaan pendidikan gratis telah dibangun melalui kebijakan wajib belajar dan dukungan operasional pendidikan pada periode sebelumnya. Pemerintah saat ini dapat melanjutkan fondasi tersebut dengan melakukan penataan kembali prioritas anggaran pendidikan. Didik juga menilai persoalan utama bukan semata-mata mencari anggaran baru, melainkan bagaimana anggaran pendidikan yang tersedia diarahkan secara lebih efektif. Ia menyebut alokasi fungsi pendidikan dalam APBN mencapai sekitar Rp769,09 triliun dan sebagian dapat ditata untuk mendukung pendidikan tinggi. Ia juga mendorong evaluasi pola pembiayaan PTN, termasuk jalur mandiri, agar perguruan tinggi tidak terlalu bergantung pada penerimaan dari mahasiswa. Masukan tersebut memberikan dimensi penting bagi agenda pendidikan gratis. Pembiayaan negara harus dibarengi tata kelola yang sehat agar PTN tetap mampu menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Efisiensi kelembagaan, penyesuaian kebutuhan operasional, serta penerapan prinsip meritokrasi dalam penerimaan mahasiswa dapat menjadi bagian dari desain kebijakan. Dengan demikian, perluasan akses tidak mengurangi kualitas akademik maupun kapasitas riset perguruan tinggi. Di sisi lain, pendidikan gratis perlu dipahami lebih luas daripada sekadar pembebasan uang kuliah. Mahasiswa masih menghadapi biaya hidup, transportasi, buku, perangkat pembelajaran, dan kebutuhan akademik lainnya. Program seperti KIP Kuliah menunjukkan pentingnya dukungan yang lebih komprehensif, khususnya bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Kebijakan baru dapat disusun dengan mempertimbangkan karakteristik kebutuhan mahasiswa di berbagai daerah. Momentum ini juga relevan dengan agenda peningkatan kualitas tenaga kerja nasional. Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Akses yang lebih luas terhadap PTN berpotensi memperbesar basis talenta yang dapat masuk ke sektor strategis, termasuk industri, digitalisasi, kesehatan, energi, dan manufaktur. Karena itu, pembiayaan pendidikan tinggi perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi produktivitas nasional. Perluasan akses pendidikan tinggi juga memiliki dimensi pemerataan pembangunan antardaerah. Anak muda dari daerah yang memiliki keterbatasan ekonomi sering menghadapi pilihan pendidikan yang lebih sempit dibandingkan mereka yang tinggal di pusat-pusat ekonomi. Dukungan pembiayaan yang tepat dapat memperbesar kesempatan mereka untuk memperoleh pendidikan berkualitas. Dalam jangka panjang, lulusan tersebut dapat kembali berkontribusi terhadap pembangunan daerah melalui keahlian yang diperoleh selama menempuh pendidikan. Implementasi kebijakan tetap membutuhkan perencanaan yang cermat. Pemerintah perlu menetapkan cakupan biaya yang ditanggung negara, mekanisme penyaluran anggaran, standar layanan, serta pembagian peran antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, PTN, dan perguruan tinggi swasta. Kejelasan tersebut akan menentukan apakah kebijakan dapat diterapkan secara adil sekaligus menjaga kesehatan keuangan institusi pendidikan. Selain pembiayaan, pengawasan juga perlu diperkuat untuk memastikan anggaran pendidikan digunakan secara efektif. Transparansi, evaluasi berkala, dan indikator yang jelas diperlukan agar kebijakan PTN gratis tidak hanya memperluas akses, tetapi juga meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan arah tersebut, agenda PTN gratis dapat menjadi langkah penting dalam memperluas keadilan pendidikan di Indonesia. Arahan Presiden Prabowo yang segera ditindaklanjuti melalui kajian Kemdiktisaintek menunjukkan bahwa gagasan tersebut mulai bergerak menuju desain implementasi. Jika pembiayaan ditata secara tepat, tata kelola diperkuat, dan kualitas akademik tetap dijaga, pendidikan tinggi dapat semakin terbuka bagi anak-anak Indonesia tanpa mengorbankan keberlanjutan perguruan tinggi. Komitmen pemerintah untuk memperluas akses pendidikan pada akhirnya dapat menjadi investasi strategis dalam mencetak sumber daya manusia unggul dan memperkuat daya saing Indonesia. )* Penulis merupakan Pengamat Sosial dan Kebijakan Pemerintah