Lompat ke konten utama

Kata Papua

Apresiasi Hasil PSU Pilkada, Masyarakat Kembali Guyub dan Jaga Iklim Demokrasi - Kata Papua

Apresiasi Hasil PSU Pilkada, Masyarakat Kembali Guyub dan Jaga Iklim Demokrasi

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Darius Daryono

Pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada di Provinsi Papua dan Kabupaten Boven Digoel tahun 2025 menjadi bukti bahwa demokrasi di tanah Papua mampu berjalan dengan aman, tertib, dan penuh kedewasaan politik. Meski sempat diwarnai dinamika dan perbedaan pendapat, secara umum situasi wilayah tetap kondusif. Seluruh pihak, mulai dari penyelenggara pemilu, aparat keamanan, tokoh masyarakat, hingga warga, telah menunjukkan komitmen untuk menjaga persatuan pasca-PSU.

Penjabat Gubernur Papua, Agus Fatoni, mengungkapkan apresiasinya terhadap kelancaran PSU yang dinilai sebagai salah satu yang paling damai dalam sejarah Pilkada di Papua. Pihaknya mengatakan hal ini harus terus dijaga agar bisa beraktivitas, bekerja, dan beribadah dengan baik. Fatoni menegaskan, keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama semua elemen yang menjaga stabilitas dan keamanan selama proses berlangsung. Ia pun mengajak seluruh masyarakat agar menerima hasil pemungutan suara dengan lapang dada. Siapa yang terpilih, itu ketentuan Tuhan dan harus menerima.

KPU juga mengambil peran penting dalam memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan. Anggota KPU, Iffa Rosita Teknis Eberta Kawima, yang memimpin supervisi PSU di Boven Digoel, menekankan pentingnya memahami syarat sah penggunaan hak pilih. Keputusan Mahkamah Konstitusi terkait siapa yang berhak memilih dalam PSU harus dihormati, karena bersifat mengikat dan menjadi dasar hukum. Siapa pun yang terpilih nantinya adalah hasil dari pilihan sah warga. Iffa mengapresiasi masyarakat yang tetap mematuhi aturan meskipun sempat terjadi protes di beberapa TPS. Menurutnya, koordinasi cepat antara KPU kabupaten, distrik, dan TPS berhasil meredam potensi konflik.

Tidak dapat dipungkiri, dinamika lapangan sempat terjadi, seperti aksi spontan relawan di Jayapura Selatan yang menuntut pleno tingkat distrik berjalan jujur dan tanpa intervensi. Ada pula insiden keributan antarpendukung di Distrik Biak Kota yang dipicu kesalahpahaman teknis. Namun, seluruh perbedaan itu tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan, justru berakhir dengan penyelesaian damai. Situasi ini menunjukkan bahwa kesadaran demokrasi di Papua semakin matang, di mana kritik dan protes dapat disampaikan tanpa mengorbankan keamanan bersama.

Hasil PSU Pilkada Provinsi Papua yang dirilis menunjukkan persaingan ketat antara dua pasangan calon. Paslon 01, Benhur Tomi Mano – Constant Karma (BTM-CK) memperoleh 249.668 suara atau 49,71 persen, sementara Paslon 02, Matius D. Fakhiri – Aryoko Rumaropen (MARI-YO) mengumpulkan 252.598 suara atau 50,29 persen. Di Boven Digoel, PSU diikuti empat pasangan calon dengan pengawasan ketat di 221 TPS, yang tersebar di 112 kampung di 20 distrik.

Kedua pasangan calon yang bertarung di tingkat provinsi sama-sama memberikan pesan persatuan. Juru Bicara Paslon BTM-CK, Marshel Morin, menyampaikan terima kasih kepada masyarakat dan penyelenggara pemilu. Ia juga menyampaikan ras syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena PSU Pilkada Papua dapat berlangsung aman dan damai di sembilan kabupaten/kota. Meski mengingatkan agar rekapitulasi suara diawasi dengan ketat demi transparansi, Marshel menegaskan komitmen pihaknya untuk menjaga proses tetap damai.

Sementara itu, Cagub Matius D. Fakhiri menyatakan bahwa hasil PSU adalah mandat rakyat yang harus dijaga untuk membangun Papua ke depan. Kemenangan ini bukan untuk mengalahkan pihak manapun, melainkan untuk merangkul seluruh masyarakat Papua. Ia juga menegaskan apresiasi kepada semua pihak, termasuk penyelenggara, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, perempuan, dan kaum intelektual yang telah berkontribusi menjaga suasana damai.

Pengamat politik dan tokoh masyarakat Papua, Dr. Yulianus Wenda, menilai pelaksanaan PSU kali ini menjadi pembelajaran penting bagi demokrasi lokal. Menurutnya, perbedaan pilihan politik di Papua kini mulai disikapi dengan kedewasaan. Meskipun ada aksi dan keributan kecil, tidak ada yang berujung pada kekerasan luas. Ini artinya masyarakat Papua sudah semakin siap menjalani proses demokrasi dengan kepala dingin. Yulianus menambahkan, hasil PSU yang ketat justru menjadi pemicu agar pemimpin terpilih bekerja lebih inklusif, karena rakyat yang mendukung maupun yang tidak, sama-sama memiliki hak untuk merasakan manfaat pembangunan.

Pasca-PSU, tantangan terbesar adalah menjaga agar semangat persatuan yang telah terbentuk tidak tergerus oleh provokasi. Penjabat Gubernur Agus Fatoni mengingatkan agar semua pihak menghindari narasi yang memecah belah. Masyarakat Papua telah menunjukkan teladan dalam berdemokrasi. Jangan biarkan provokasi dari luar merusak persatuan yang sudah terbangun.

KPU dan Bawaslu juga memastikan bahwa setiap pihak yang merasa dirugikan dapat menempuh jalur penyelesaian sengketa sesuai aturan hukum. Langkah ini penting agar kepercayaan publik terhadap proses demokrasi tetap terjaga. Bagi Papua, keberhasilan PSU yang aman dan kondusif menjadi modal sosial yang sangat berharga untuk memperkuat keutuhan bangsa.

Pilkada sejatinya bukan sekadar soal siapa yang menang atau kalah, tetapi tentang bagaimana proses politik mampu mempererat persaudaraan warga. Di Papua, pelaksanaan PSU tahun ini membuktikan bahwa perbedaan pilihan politik bisa diiringi rasa saling menghormati. Proses demokrasi berjalan beriringan dengan budaya lokal yang menjunjung musyawarah dan kebersamaan.

Ke depan, semua elemen masyarakat Papua diharapkan terus menjaga iklim demokrasi yang sehat. Pemimpin terpilih di tingkat provinsi maupun kabupaten diharapkan dapat merangkul semua pihak dan fokus membangun Papua yang damai, adil, dan sejahtera. Dengan demikian, momentum PSU 2025 bukan hanya menjadi catatan sejarah politik, tetapi juga tonggak penting yang meneguhkan Papua sebagai bagian integral dari Indonesia yang demokratis dan berkeadaban.

)* Penulis adalah Pengamat Politik

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Isu September Hitam Jangan Sampai Mengikis Solidaritas Sesama Anak Bangsa 

Oleh: Gavin Asadit Munculnya isu September Hitam 2026 perlu disikapi secara bijak agar tidak berkembang menjadi narasi yang mengikis solidaritas dan persatuan sesama anak bangsa. Refleksi terhadap berbagai catatan sejarah hak asasi manusia (HAM) tetap penting, tetapi penyikapannya perlu dilakukan dengan mengedepankan informasi yang benar, dialog, serta semangat menjaga keutuhan bangsa. Momentum September Hitam dapat menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan pemahaman mengenai sejarah, demokrasi, dan HAM. Refleksi tersebut sebaiknya tidak berhenti pada penyebaran informasi di media sosial, tetapi disertai upaya memahami konteks dan fakta secara utuh. Kepala Bakom Pemerintah Republik Indonesia Muhammad Qodari menekankan pentingnya komunikasi publik yang mampu menghadirkan informasi secara tepat kepada masyarakat. Dalam konteks ruang digital, kualitas informasi menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan dan mencegah berkembangnya narasi yang dapat memecah belah. Pesan tersebut relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Setiap isu dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial dan membentuk persepsi publik dalam waktu singkat. Karena itu, masyarakat perlu mampu membedakan informasi faktual, opini, maupun narasi yang sengaja dibuat untuk memancing emosi. Pemerintah terus mendorong peningkatan literasi digital di kalangan generasi muda. Kemampuan memeriksa informasi sebelum membagikannya merupakan salah satu bentuk tanggung jawab warga negara di era digital. Informasi palsu, provokasi, ujaran kebencian, dan narasi yang mempertajam perbedaan dapat merusak hubungan sosial apabila tidak disikapi dengan bijak. Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono mengajak masyarakat memperkuat persatuan dengan membangun komunikasi dan silaturahim. Menurutnya, interaksi yang baik antarelemen masyarakat penting agar warga tidak mudah terpengaruh maupun terprovokasi oleh berbagai isu yang berkembang. Muhamad Mardiono juga mengingatkan pentingnya memperkuat silaturahim agar masyarakat dapat menghadapi perbedaan secara lebih tenang dan dewasa. Semangat tersebut menjadi relevan dalam menyikapi berbagai informasi yang berkembang selama momentum September Hitam 2026. Isu September Hitam tidak semestinya menjadi alasan masyarakat untuk saling berhadapan. Sebaliknya, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran bahwa sejarah harus dipelajari secara objektif agar generasi berikutnya mampu mengambil pelajaran dan mencegah terulangnya berbagai persoalan kemanusiaan. Aktivis pemuda dan mahasiswa M. Fad mengajak kalangan mahasiswa dan masyarakat luas lebih bijak menyikapi informasi yang beredar dalam momentum September Hitam 2026. Ia menekankan pentingnya menjaga solidaritas, persatuan, keamanan, dan ketertiban masyarakat. Menurut M. Fad, mahasiswa memiliki posisi penting dalam menjaga kualitas diskursus publik. Sebagai kelompok yang dekat dengan tradisi intelektual dan gerakan sosial, mahasiswa diharapkan menyampaikan aspirasi berdasarkan pengetahuan dan data, bukan sekadar mengikuti arus informasi yang sedang ramai. Penyampaian aspirasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, aspirasi perlu disampaikan secara tertib dan bertanggung jawab agar tidak berubah menjadi konflik yang merugikan masyarakat. Ruang diskusi, edukasi, kajian sejarah, serta kegiatan sosial dapat menjadi sarana memperkuat solidaritas sekaligus mencegah konflik akibat kesalahpahaman informasi. Peran generasi muda semakin penting karena sebagian besar percakapan mengenai September Hitam berlangsung di ruang digital. Media sosial menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi, berdiskusi, sekaligus membentuk pandangan terhadap berbagai persoalan. Penggunaan media sosial tanpa kemampuan memilah informasi dapat menimbulkan persoalan baru. Konten yang dipotong dari konteks, judul provokatif, hingga informasi yang belum terverifikasi dapat dengan mudah menyebar dan memengaruhi persepsi masyarakat. Dalam edukasi HAM, media sosial dapat menjadi pintu awal untuk mengenali berbagai isu, tetapi informasi yang ditemukan tetap perlu diperdalam melalui sumber kredibel dan pembelajaran komprehensif. Generasi muda perlu memahami sejarah pelanggaran HAM secara utuh, bukan untuk membangun kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan sebagai pembelajaran agar nilai kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama semakin kuat. Di sisi lain, masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah maupun berbagai persoalan sosial. Kritik merupakan bagian dari demokrasi dan dapat menjadi sarana mendorong perbaikan. Namun, kritik sebaiknya tidak berubah menjadi permusuhan antarsesama warga negara. Persatuan bukan berarti masyarakat harus memiliki pandangan yang seragam. Persatuan justru terlihat ketika perbedaan dapat dikelola melalui dialog dan penghormatan terhadap satu sama lain. Perbedaan pilihan, pendapat, maupun cara melihat sejarah seharusnya tidak menghilangkan kesadaran bahwa seluruh masyarakat merupakan bagian dari bangsa yang sama. Dalam konteks September Hitam 2026, generasi muda memiliki kesempatan menunjukkan bahwa refleksi sejarah dapat dilakukan secara dewasa. Mahasiswa dan pemuda dapat menjadi penggerak diskusi yang sehat, menyebarkan informasi yang benar, serta membangun ruang publik yang edukatif. Masyarakat juga dapat berkontribusi dengan tidak langsung mempercayai setiap informasi di media sosial. Memeriksa sumber, membaca informasi secara utuh, membandingkan dengan sumber lain, dan tidak terburu-buru menyebarkan konten merupakan langkah sederhana untuk menjaga ruang digital tetap sehat. Sinergi antara mahasiswa, pemuda, pemerintah, dan masyarakat diperlukan agar penyampaian aspirasi tetap berjalan sekaligus menjaga keamanan bersama. Dengan komunikasi yang baik dan literasi informasi yang kuat, perbedaan pandangan dapat dikelola tanpa mengganggu persatuan. *) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan