Lompat ke konten utama

Kata Papua

Billy Mambrasar Ajak Warga Papua Dukung Otsus Sukseskan PON - Kata Papua

Billy Mambrasar Ajak Warga Papua Dukung Otsus Sukseskan PON

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Staf Khusus (Stafsus) Presiden RI, Billy Mambrasar memaknai otonomi khusus (otsus) sebagai upaya membangun Papua. Selain membangun infrastruktur di wilayah itu, melalui otsus sumber daya manusia (SDM) juga dapat dikembangkan. 

“Ketika kita berbicara tentang otsus, maka kita berbicara tentang pembangunan dan pembaharuan. Pembangunan saat ini di periode kedua fokusnya adalah pelibatan orang asli Papua untuk membangun dirinya sendiri mensejahterakan dirinya dalam rangka ikut membangun Indonesia dari Tanah Papua,” ujar Billy di Jakarta, Kamis (3/6). 

Atas itu, ia mengajak seluruh pihak, khususnya masyarakat Papua dan Papua Barat, untuk terus mendukung program otonomi khusus. Hal ini demi kemajuan Tanah Papua dan orang-orang di dalamnya. 

“Oleh sebab itu otonomi khusus diteruskan untuk memberikan hak penuh previlege kepada orang asli Papua untuk membangun. Kesempatan terbuka luas untuk siapa pun, mari kita dukung pembangunan tersebut,” kata Billy. 

Apalagi, Presiden Jokowi telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2020 tentang percepatan pembangunan Papua dan Papua Barat yang berbasis kesejahteraan untuk orang asli Papua. Kebijakan tersebut, kata dia, sekali lagi menunjukkan perhatian dan keberpihakan pemerintah pusat terhadap masyarakat Papua.

Selain Papua, pemerintah pusat kini juga melibatkan masyarakat Papua untuk bersama-sama membangun bangsa, melalui sejumlah program. 

“Telah banyak hasil yang telah kita lihat, anak-anak Papua ikut membangun negeri ini mulai dari pada ilmuwan, pelaku seni, bagian sosial, maupun mereka-mereka yang baru saja 1.000 orang direkrut di BUMN atau mereka yang direkrut di aparatur sipil negara,” papar Billy. 

“Kesempatan terbuka luas untuk kita semua, anak-anak Papua ikut membangun. Jadi saya mengajak kita dukung proses pembangunan tersebut, mari kita sukseskan dan mari kita rawat kebersamaan keberagaman ini sama-sama kita saling berkolaborasi, kita saling mendukung untuk mendukung pembangunan kesejahteraan di tanah Papua,” lanjutnya. 

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Investasi Besar di Era Presiden Prabowo Menunjukkan Kepercayaan terhadap Ekonomi Indonesia

Oleh : Jonathan Janoel Peta investasi Indonesia memasuki fase penting. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa investasi dalam jumlah besar akan masuk dalam beberapa pekan mendatang menjadi sinyal bahwa Indonesia masih dipandang memiliki ruang pertumbuhan oleh pemodal. Pernyataan tersebut tidak berdiri sendiri. Realisasi investasi semester I 2026 telah mencapai Rp1.010,6 triliun atau 49,5 persen dari target nasional Rp2.041,3 triliun dan menyerap hampir 1,45 juta tenaga kerja. Dalam keterangannya, Prabowo menyebut sejumlah indikator ekonomi menunjukkan kondisi Indonesia tetap kuat di tengah ketidakpastian global. Presiden juga menilai gelombang investasi yang akan masuk perlu diarahkan untuk memperkuat perekonomian nasional. Pesan ini penting karena investasi bukan sekadar angka dalam laporan pemerintah, melainkan sumber pembiayaan bagi ekspansi usaha, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kapasitas produksi, dan penguatan rantai industri di dalam negeri. Arah tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong hilirisasi dan investasi bernilai tambah. Dalam forum Eastern Economic Forum di Vladivostok awal September, Prabowo menekankan bahwa pembangunan harus menghasilkan manfaat yang luas, sementara investasi diharapkan menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, serta penguasaan teknologi. Dengan demikian, arus modal yang masuk tidak berhenti pada pembangunan aset, tetapi diarahkan untuk memperbesar kapasitas ekonomi Indonesia. Keyakinan tersebut memperoleh contoh konkret dari sektor teknologi finansial. Presiden Komisaris Ajaib Group, Andi Gani Nena Wea, menilai masuknya investasi sebesar US$270 juta atau sekitar Rp4,8 triliun dari SBI Holdings Jepang menunjukkan bahwa minat investor asing terhadap Indonesia masih tinggi. Investasi itu disebut sebagai salah satu pendanaan terbesar yang diterima perusahaan teknologi Indonesia dalam lima tahun terakhir. Andi juga menjelaskan bahwa sebagian besar dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan bisnis di Indonesia. Aliran modal itu diarahkan antara lain untuk pengembangan sumber daya manusia, produk, dan edukasi finansial. Artinya, investasi asing dapat memberikan manfaat lebih luas ketika modal yang masuk ikut memperkuat kapasitas perusahaan dan talenta domestik. Sinyal tersebut semakin menarik karena datang ketika pasar global masih menghadapi ketidakpastian. Investor tentu mempertimbangkan banyak faktor sebelum menempatkan dana, mulai dari prospek pertumbuhan, regulasi, stabilitas kebijakan, hingga kemampuan pasar menyerap produk. Masuknya investasi SBI Holdings menunjukkan bahwa terdapat pelaku global yang tetap melihat peluang bisnis di Indonesia. Dari sisi industri, CEO Ajaib Group Anderson Sumarli menilai pendanaan tersebut dapat membuka ruang bagi pengembangan sumber daya manusia dan penciptaan pekerjaan berkualitas. Ia juga melihat peluang investasi pada sektor kecerdasan buatan, pusat data, dan blockchain. Menurut Anderson, kepercayaan investor global dapat menjadi pintu masuk bagi lebih banyak modal ke sektor teknologi Indonesia. Pada saat yang sama, perkembangan pasar modal domestik menunjukkan bahwa sumber pertumbuhan tidak hanya berasal dari investor asing. Data KSEI yang dikutip dalam pemberitaan menunjukkan jumlah investor pasar modal telah mencapai 30,30 juta, dengan jumlah investor saham menembus lebih dari 10 juta. Sebagian besar merupakan investor ritel domestik. Perkembangan ini memperlihatkan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam perekonomian berbasis investasi. Pemerintah juga terus memperkuat iklim investasi melalui percepatan perizinan dan kebijakan hilirisasi. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi semester I tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Komposisi PMA dan PMDN juga relatif berimbang, masing-masing sekitar Rp507,6 triliun dan Rp502,9 triliun. Capaian tersebut menunjukkan bahwa investasi menjadi aktivitas ekonomi yang melibatkan modal internasional sekaligus kekuatan pelaku usaha domestik. Namun, besarnya investasi tetap perlu diikuti kualitas pelaksanaan. Pemerintah perlu memastikan proyek yang masuk memberikan nilai tambah, menyerap tenaga kerja Indonesia, memperkuat industri lokal, dan mendorong transfer teknologi. Kepastian regulasi serta pelayanan investasi yang cepat juga menjadi faktor penting agar komitmen investasi benar-benar berubah menjadi proyek yang terealisasi. Kinerja tersebut juga perlu dilihat dalam konteks persaingan memperebutkan modal global. Indonesia harus terus menawarkan kepastian, efisiensi, dan nilai tambah agar investor memiliki alasan ekonomi yang kuat untuk memperluas kegiatan usahanya di tanah air. Dalam konteks tersebut, pernyataan Prabowo mengenai masuknya investasi besar dapat dibaca bersama dengan perkembangan investasi yang sudah tercatat. Optimisme pemerintah memperoleh dukungan dari realisasi konkret, sementara investasi baru akan menjadi penting apabila mampu memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat. Pada akhirnya, kepercayaan investor bukan sesuatu yang terbentuk hanya