Lompat ke konten utama

Kata Papua

BIN Bina Generasi Muda Melalui PYCH Demi Tingkatkan Prestasi - Kata Papua

BIN Bina Generasi Muda Melalui PYCH Demi Tingkatkan Prestasi

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jayapura – Gedung Papua Youth Creative Hub atau PYCH di Jayapura Papua, mendapat apresiasi dari segenap masyarakat Papua, khususnya para pemuda, sebagai generasi muda penerus bangsa. PYCH dibangun untuk membina, bahkan melahirkan anak muda Papua berprestasi.

Salah satu generasi muda Papua, Vitha Faidiban mengatakan, gedung PYCH ini sangat luar biasa dan mampu membantu para anak muda Papua untuk terus berkreasi dan berinovasi.

“Dengan kehadiran gedung itu, membantu para generasi muda Papua dalam membuat banyak karya dan melakukan segala hal yang bisa mereka lakukan untuk kebaikan seluruh masyarakat di Tanah Papua,” kata Vitha.

Perwakilan Pemuda Papua itu juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dan Kepala BIN Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan.

“Terima kasih kepada Presiden Jokowi dan Kepala BIN atas dukungan dalam pembangunan gedung PYCH dan semua program yang dirasakan oleh anak muda Papua,” ujar perwakilan pemuda lainnya, Paulina Ruwayari.

PYCH menjadi sarana bagi para pemuda Papua untuk menyalurkan bakat dan meningkatkan kreativitasnya. Gerakan kepemudaan yang merupakan binaan dari Badan Intelijen Negara (BIN), berkomitmen untuk terus semangat berkarya demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Papua.

Untuk diketahui, Badan Intelijen Negara (BIN) menginisiasi pembangunan Gedung Papua Youth Creative Hub (PYCH). Apalagi, terwujudnya kesejahteraan masyarakat di Tanah Papua ini sesuai dengan Intruksi Presiden No. 9 Tahun 2020 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.

Di dalam label PYCH, generasi muda juga diajarkan mengenai teknologi Informasi. Anak muda Papua dilatih untuk melek internet sehingga memiliki daya saing untuk berbisnis dalam skala internasional, mampu mengembangkan diri kearah yang positif, seperti cara berkomunikasi yang baik, termasuk kemampuan bahasa inggris.

Selain itu, generasi muda yang bernaung dalam PYCH menggencarkan program pertanian sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan Papua.

Sejumlah kelompok petani binaan telah berhasil panen jagung beberapa kali, salah satunya di kawasan Kampung Kwadeware dan Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua. Panen dilakukan di lahan 7,5 hektar dengan hasil sekitar 16,1 ton.

Selain itu, Papua Youth Creative Hub (PYCH) akan menjadi label semua produk turunan atau hasil olahan jagung hasil panen masyarakat yang dibina oleh BIN.

Salah satu tokoh perwakilan Pemuda, Daud Edison Yarisetouw menjelaskan, hasil panen akan dibeli oleh CV Tripilar Perkasa untuk dijadikan pakan ayam. Produk pakan ayam nanti akan dikemas dengan label PYCH.

“Kami mengadakan panen bersama. Jadi di lahan ini panennya bertahap. Ini (program penanaman jagung) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya ketahanan pangan,” kata Daud kepada media. []

*

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata