Lompat ke konten utama

Kata Papua

BIN Konsisten Memberdayakan Pemuda dan Perekonomian Papua - Kata Papua

BIN Konsisten Memberdayakan Pemuda dan Perekonomian Papua

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Papua – BIN terus menunjukkan konsistensi dan komitmennya dengan melakukan kerja nyata secara konkret untuk bisa memberdayakan sumber daya manusia (SDM), khususnya bagi para pemuda di Papua melalui pembangunan Gedung Papua Youth Creative Hub (PYCH).

Dengan adanya peningkatan SDM yang berkualitas, maka secara otomatis juga akan berdampak pada pemberdayaan perekonomian masyarakat di Bumi Cenderawasih.

Terkait dengan adanya pembangunan Gedung PYCH yang diinisiasi oleh BIN dan terus digencarkan oleh Pemerintah RI tersebut, Wakil Bupati Kabupaten Manokwari, Edi Budoyo menyatakan harapannya bahwa semoga dengan dibangunnya gedung tersebut, maka para pemuda dapat melakukan kegiatan yang penuh inspiratif, positif, mampu menambah keterampilan dan soft skill mereka.

“Dengan pembangunan Gedung PYCH di Manokwari maka para pemuda dapat melakukan kegiatan inspiratif, positif, menambah keterampilan dan soft skill mereka, demi menunjang percepatan kesejahteraan masyarakat di Papua dan Papua Barat”, ujar Edi.

Bukan tanpa alasan, namun tentunya ketika seluruh generasi muda Papua tersebut bisa banyak melakukan kegiatan yang positif dan terus mengembangkan bakat hingga minat serta potensi yang mereka miliki, maka semuanya akan mampu menunjang adanya percepatan pembangunan dan membantu mensejahterakan masyarakat di Bumi Cendrawasih sendiri.

Badan Intelijen Negara (BIN) Republik Indonesia (RI) menginisiasi adanya pembangunan Gedung PYCH. Pembangunan tersebut juga dibantu secara langsung Pemerintah Daerah (Pemda) setempat yang telah menghibahkan lahan mereka seluas 2 (dua) hektare kepada BIN.

Memang pembangunan PYCH yang digagas langsung oleh BIN, Jend Pol (Purn) Budi Gunawan berdasarkan arahan dari Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo ini akan menjadi sebuah wadah pengembangan diri bagi seluruh generasi muda di Bumi Cendrawasih.

Hal tersebut dikarenakan bukan hanya sekedar bangunan fisik berupa gedung yang megah saja beserta banyaknya fasilitas yang ada di dalamnya, namun pihak BIN selaku inisiator juga akan mengadakan berbagai macam pelatihan untuk bisa memberikan fasilitas kepada seluruh pemuda Papua untuk lebih mengasah potensi dan bakat hingga talenta yang mereka miliki.

Terkait pembangunan PYCH, pemuda asal Manokwari, Papua Barat, Simon Tabuni, menyambut baik adanya pembangunan PYCH di Manokwari. Ia berterima kasih kepada BIN, Pemda dan semua pihak yang mendorong terwujudnya pembangunan tersebut.

“Anak muda dan masyarakat Papua Barat menyambut dengan positif dan mengapresiasi upaya pemerintah membangun gedung PYCH di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Gedung PYCH di Manokwari dapat menjadi wadah bagi anak muda untuk mengembangkan diri, minat dan bakat sehingga bisa ikut memajukan Tanah Papua.” kata Simon Tabuni.

Pemberdayaan akan sumber daya manusia (SDM) memang terus saja dilakukan oleh BIN dengan sangat konsisten di Tanah Papua. Lantaran dengan adanya pemberdayaan SDM, khususnya para generasi muda tersebut, yang salah satunya melalui pembangunan Gedung PYCH, maka juga secara otomatis akan mampu berdampak pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di Bumi Cenderawasih.

*

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata