Lompat ke konten utama

Kata Papua

BINDA Jabar Hadir Bantu Korban Gempa Cianjur - Kata Papua

BINDA Jabar Hadir Bantu Korban Gempa Cianjur

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp


Oleh : Dodik Prasetyo

BINDA Jabar buktikan bahwa pihaknya hadir secara nyata untuk membantu para korban gempa di Cianjur. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Jawa Barat (Jabar), Ruddy Prasemilsa Mahks mengucapkan duka cita yang mendalam kepada pihak korban meninggal dalam gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Cianjur.

Bahkan pihaknya langsung memberikan bantuan kemanusiaan berupa barang-barang kebutuhan sehari-hari. Dirinya berharap supaya semua bantuan tersebut mampu untuk meringankan beban masyarakat.


Dalam kesempatan tersebut, KABINDA Jawa Barat berharap bantuan yang disalurkan dapat membantu warga yang terdampak bencana memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk sementara waktu.

Dirinya yang datang secara langsung ke daerah bencana gempa Cianjur, sekaligus membawa logistik bantuan sebanyak 2 unit truk, pada hari Selasa (22/11).


Sebagai informasi, tepat pada Senin (21/11) kemarin siang, dengan titik koordinat 6.84 LS – 107.5 BT ( 10 Km Barat Daya Kabupaten Cianjur) dengan kedalaman 10 Km, kekuatan 5,6 magnitudo di Kabupaten Cianjur menelan korban jiwa hingga 162 orang, dan ratusan korban mengalami luka -luka, selain itu juga mengakibatkan sekitar 13.784 orang harus mengungsi.


Melihat kejadian tersebut, Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Jawa Barat (Jabar) langsung mendirikan Posko kemanusian di Jln Labuan – Cianjur, Desa Cijedil Kecamatan Sugenang Kabupaten Cianjur untuk memberikan bantuan kepada korban yang terdampak bencana.
Hal tersebut menjadi bukti konkret bahwa memang pihak BIN Daerah Jawa Barat sangat peduli dan ingin membantu meringankan beban yang saat ini sedang menimpa para korban. Dalam tenda Posko Kemanusiaan BIN Daerah Jawa Barat tersebut, terdapat 3 tenda posko, dimana ada 2 tenda untuk pengungsi dengan kapasitas 60 dan 25 orang. Kemudian tenda ke 3 untuk tenaga kesehatan, guna memberikan layanan kesehatam kepada masyarakat terdampak Gempa.
Pendirian Posko Bantuan BINDA Jabar di Cianjur langsung dipimpin Kabinda Jabar Brigjen TNI Ruddy Prasemilsa Mahks, dengan mendirikan 3 posko, diantaranya tenda pengungsi 1 (kapasitas 60 orang) berisi pengungsi dari Desa Cijedil sebanyak 57 orang yang terdiri dari laki-laki 20 orang (anak-dewasa), perempuan 24 orang (anak-dewasa), dan anak bayi 13 orang. Kemudian tenda pengungsi 2 (kapasitas 25 orang), tenda untuk tenaga kesehatan dalam rangka memberikan bantuan layanan kesehatan kepada masyarakat.
Selain itu juga BINDA Jabar membawa logisitik Bantuan Kemanusiaan Mabes BIN untuk korban bencana gempa di Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. Logistik bantuan Kemanusiaan Mabes BIN berupa kebutuhan pokok dan makanan ringan, diantaranya: 1) 200 Karton Indomie (@isi 48 pcs); 2) 200 Karton Pop Mie (@isi 24 pcs); 3) 400 Karton Air Mineral 330 ml (@isi 24 pcs); 4) 230 Karton Susu UHT 200 ml (@isi 24 pcs); 5) 20 Kotak Tissue Kering (@isi 12 pcs); 6) 1.000 Kg Beras; 7) 100 Karton Minyak Goreng kemasan 1 liter (@isi 12 pcs); 8) 720 Pcs Sosis Siap Makan; 9) 50 Karton Ikan Sarden Kaleng (@isi 50 pcs); 10) 1.000 Pcs Roti Sobek; 11) 600 Karton Aneka Biskuit (@isi 24 pcs); 12) 20 Pack Pampers ukuran M/L; 13) 10 karton Pembalut Wanita (@isi 12 pcs); 14) 20 Karton Sabun Mandi (@isi 60 pcs); 15) 3 Karton Energen (@isi 160 pcs). Selain memberikan Bantuan logistik dan bahan makanan, BINDA Jawa Barat juga melakukan pengobatan kepada para korban bencana Gempa Bumi di Kabupaten Cianjur.
Sebenarnya Badan Intelijen Negara sendiri juga bisa dikatakan berpengalaman dalam memberikan bantuan berupa logistik bagi korban terdampak gempar bumi. Hal tersebut pernah terjadi beberapa bulan silam saat terjadi gempa di Pasaman Barat, Sumatera barat. Bukan hanya sekedar memberikan bantuan saja, namun pihaknya juga terus mengupayakan agar bagaimana masyarakat bisa beraktivitas dengan normal.
Setelah terjadinya gempa di Kabupaten Cianjur kemarin, sontak pihak Badan Intelijen Negara Daerah Jawa Barat langsung membuktikan bagaimana kehadiran mereka secara konkret di tengah-tengah warga dengan memberikan sejumlah bantuan dan juga pendirian posko untuk membantu pemulihan para korban bencana.

)* Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata