Kata Papua

CKG Nasional Diperluas, Pemerintah Fokus Deteksi Penyakit Menular dan Tidak Menular - Kata Papua

CKG Nasional Diperluas, Pemerintah Fokus Deteksi Penyakit Menular dan Tidak Menular

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

CKG Nasional Diperluas, Pemerintah Fokus Deteksi Penyakit Menular dan Tidak Menular

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat transformasi layanan kesehatan melalui perluasan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan deteksi dini penyakit menular maupun tidak menular. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan kesehatan berkualitas sekaligus memperkuat pencegahan agar masyarakat memperoleh penanganan sejak tahap awal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, mengatakan bahwa perluasan CKG merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat transformasi kesehatan nasional. Menurutnya, program tersebut telah menunjukkan hasil yang signifikan dengan pemeriksaan kesehatan yang menjangkau lebih dari 70 juta penduduk sepanjang 2025 dan bertambah lebih dari 42,3 juta peserta di 38 provinsi pada 2026.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teddy menjelaskan bahwa mulai tahun ini CKG tidak hanya berfokus pada deteksi dini, tetapi juga pada tindak lanjut pengobatan. Masyarakat yang terdiagnosis hipertensi dan diabetes akan memperoleh obat serta pemantauan secara gratis di Puskesmas. Selain itu, pemerintah memperkuat penanggulangan tuberkulosis (TBC) melalui integrasi deteksi dengan CKG dan penerapan layanan one-stop service (OSS), sehingga skrining, diagnosis, dan pengobatan TBC dapat dilakukan di Puskesmas pada hari yang sama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengatakan fokus pemerintah pada 2026 adalah memastikan setiap hasil pemeriksaan CKG ditindaklanjuti hingga masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang diperlukan. Menurutnya, orientasi program kini bergeser dari sekadar pemeriksaan menuju pengendalian penyakit secara nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aji menambahkan bahwa pemerintah juga terus memperkuat komunikasi publik agar semakin banyak masyarakat memanfaatkan layanan CKG di fasilitas kesehatan primer. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan program sekaligus menekan risiko penyakit tidak menular yang masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, dr. Maria Endang Sumiwi, mengatakan evaluasi pelaksanaan CKG menunjukkan masih tingginya faktor risiko kesehatan pada berbagai kelompok usia. Karena itu, mulai 2026 pasien hipertensi dan diabetes yang terdeteksi akan langsung memperoleh obat di Puskesmas pada hari yang sama. Pemerintah menargetkan cakupan CKG mencapai lebih dari 130 juta penduduk atau sekitar 46 persen populasi Indonesia pada 2026 sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan preventif yang inklusif.__

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

CKG, TBC, dan Pentingnya Menjangkau Kelompok Berisiko 

CKG, TBC, dan Pentingnya Menjangkau Kelompok Berisiko Oleh Ananda Rusdian Upaya membangun bangsa yang sehat tidak cukup dilakukan melalui pelayanan kesehatan yang berpusat di fasilitas kesehatan formal semata. Tetapi negara juga hadir menjangkau kelompok-kelompok yang berada dalam posisi rentan, baik karena kondisi sosial, lingkungan hidup, maupun keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Untuk itu, peluncuran Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di 532 lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di seluruh Indonesia dipandang sebagai langkah strategis sekaligus berkeadilan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa hak atas kesehatan menjangkau seluruh warga negara, termasuk warga binaan pemasyarakatan yang selama ini kerap luput dari perhatian publik.                           Program ini menegaskan bahwa pemerintah mulai menempatkan kesehatan sebagai hak dasar yang harus diakses oleh semua orang tanpa kecuali. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa arahan Presiden adalah agar program kesehatan menyasar seluruh masyarakat, termasuk ratusan ribu warga binaan di lapas dan rutan. Pernyataan itu penting karena memperlihatkan perubahan cara pandang negara bahwa warga binaan bukan sekadar objek pembinaan hukum, melainkan tetap subjek pembangunan yang berhak memperoleh perlindungan kesehatan secara layak.