Kata Papua

Ekonomi Indonesia Berpotensi Tumbuh 6–7 Persen di Momentum Krisis Energi Global - Kata Papua

Ekonomi Indonesia Berpotensi Tumbuh 6–7 Persen di Momentum Krisis Energi Global

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Ekonomi Indonesia Berpotensi Tumbuh 6–7 Persen di Momentum Krisis Energi Global

JAKARTA – Lonjakan harga minyak global akibat dinamika geopolitik kembali menjadi perhatian. Namun di tengah tekanan tersebut, arah kebijakan nasional dinilai mampu menjaga stabilitas sekaligus membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi. Krisis energi kini dipandang sebagai momentum untuk mengoptimalkan kekuatan sektor domestik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ekonom INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, menilai respons terhadap krisis perlu tetap rasional dan berbasis pengalaman ekonomi Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Diskusi di media sosial dan media online tentang dampak krisis harga minyak karena perang AS-Israel vs Iran cenderung berlebihan. Padahal dalam sejarahnya Indonesia sudah beberapa kali menghadapi situasi serupa dan tetap mampu menjaga stabilitas ekonomi dengan memanfaatkan kekuatan domestik,” ujar Didik J Rachbini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fundamental ekonomi yang kuat dinilai menjadi modal utama. Indonesia memiliki keunggulan pada sektor sumber daya alam yang justru diuntungkan saat harga energi global meningkat, terutama pada komoditas ekspor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurut Didik J Rachbini, krisis perlu dilihat sebagai peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Perspektif kita harus out of the box dengan melihat bahwa di balik krisis terdapat peluang besar, khususnya bagi negara yang memiliki basis sumber daya alam kuat seperti Indonesia,” tegas Didik J Rachbini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sektor seperti batubara, migas, panas bumi, hingga logam strategis dan perkebunan dinilai memiliki daya tahan tinggi. Struktur biaya domestik dan pendapatan ekspor dalam valuta asing membuat sektor ini mampu menjadi penopang ekonomi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Semua sektor tersebut basis inputnya domestik rupiah tetapi outputnya ekspor menghasilkan devisa, sehingga mampu menjadi bantalan kuat ketika terjadi tekanan global,” jelas Didik J Rachbini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain itu, pengembangan energi alternatif seperti biofuel berbasis CPO turut memperkuat ketahanan energi nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Produk CPO berperan strategis sebagai substitusi energi biofuel yang mendukung ketahanan energi sekaligus meningkatkan nilai tambah,” pungkas Didik J Rachbini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Permintaan global terhadap komoditas logam juga diperkirakan tetap tinggi, terutama untuk kebutuhan industri masa depan seperti kendaraan listrik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Permintaan komoditas tetap tinggi bahkan meningkat saat krisis untuk memenuhi kebutuhan industri global, sehingga prospeknya tetap sangat kuat,” ungkap Didik J Rachbini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan penguatan hilirisasi dan kebijakan fiskal yang adaptif, peluang mendorong pertumbuhan ekonomi semakin terbuka lebar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Krisis ini bagi pemerintah yang cerdas justru menjadi peluang untuk mendorong transformasi ekonomi sehingga pertumbuhan 6 hingga 7 persen dapat dicapai,” tutup Didik J Rachbini. (*)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

CKG, TBC, dan Pentingnya Menjangkau Kelompok Berisiko 

CKG, TBC, dan Pentingnya Menjangkau Kelompok Berisiko Oleh Ananda Rusdian Upaya membangun bangsa yang sehat tidak cukup dilakukan melalui pelayanan kesehatan yang berpusat di fasilitas kesehatan formal semata. Tetapi negara juga hadir menjangkau kelompok-kelompok yang berada dalam posisi rentan, baik karena kondisi sosial, lingkungan hidup, maupun keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Untuk itu, peluncuran Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di 532 lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di seluruh Indonesia dipandang sebagai langkah strategis sekaligus berkeadilan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa hak atas kesehatan menjangkau seluruh warga negara, termasuk warga binaan pemasyarakatan yang selama ini kerap luput dari perhatian publik.                           Program ini menegaskan bahwa pemerintah mulai menempatkan kesehatan sebagai hak dasar yang harus diakses oleh semua orang tanpa kecuali. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa arahan Presiden adalah agar program kesehatan menyasar seluruh masyarakat, termasuk ratusan ribu warga binaan di lapas dan rutan. Pernyataan itu penting karena memperlihatkan perubahan cara pandang negara bahwa warga binaan bukan sekadar objek pembinaan hukum, melainkan tetap subjek pembangunan yang berhak memperoleh perlindungan kesehatan secara layak.