Kata Papua

Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh Positif dan Jauh dari Ancaman Krisis Seperti 1998 - Kata Papua

Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh Positif dan Jauh dari Ancaman Krisis Seperti 1998

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh Positif dan Jauh dari Ancaman Krisis Seperti 1998

Jakarta – Pemerintah memastikan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam situasi yang stabil dan jauh dari ancaman krisis seperti yang pernah terjadi pada 1998. Di tengah ketidakpastian global, tekanan geopolitik, serta fluktuasi nilai tukar dan pasar keuangan dunia, fundamental ekonomi nasional dinilai masih kuat dan mampu menjaga momentum pertumbuhan secara berkelanjutan.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menegaskan bahwa berbagai indikator ekonomi menunjukkan Indonesia berada dalam kondisi yang sehat. Pada triwulan I tahun 2026, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat mencapai 5,61 persen. Sementara itu, inflasi April 2026 tetap terkendali di level 2,42 persen yang mencerminkan stabilitas harga dan daya beli masyarakat yang tetap terjaga.

 

“Kalau melihat angka-angka tadi, kita itu jauh dari situasi krisis,” ujar Juda Agung dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah Tahun 2026 di Jakarta.

 

Juda menjelaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibanding krisis 1997–1998. Pada masa itu, krisis dipicu oleh lemahnya neraca pembayaran, tingginya utang luar negeri swasta, serta tekanan besar terhadap nilai tukar rupiah. Kini, neraca pembayaran Indonesia dinilai relatif sehat dan lebih seimbang.

 

Ia juga menyampaikan bahwa indikator fiskal Indonesia masih berada dalam batas aman. Defisit APBN tetap dijaga di bawah 3 persen dan tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal nasional masih tinggi. Hal itu terlihat dari imbal hasil atau yield surat utang negara yang masih stabil.

 

“Kalau investor tidak percaya pada fiskal kita maka yield-nya akan melonjak. Sekarang ini di sekitar 6,5 sampai 6,7 persen dan peningkatannya tidak signifikan,” kata Juda.

 

Selain itu, pemerintah menilai tidak terdapat indikasi gelembung ekonomi atau bubble pada sektor Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid meskipun menghadapi tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Terlepas dari tantangan global dan volatilitas nilai tukar, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat,” ujar Luhut.

 

Pernyataan tersebut memperkuat optimisme bahwa ekonomi Indonesia masih berada pada jalur pertumbuhan positif. Stabilitas fiskal, konsumsi domestik yang kuat, serta sistem keuangan yang sehat menjadi modal utama Indonesia dalam menghadapi dinamika ekonomi global sekaligus memastikan situasi nasional tetap aman dari ancaman krisis seperti 1998.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.