Kata Papua

Fundamental Ekonomi Nasional Tetap Kuat di Tengah Guncangan Pasar - Kata Papua

Fundamental Ekonomi Nasional Tetap Kuat di Tengah Guncangan Pasar

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Fundamental Ekonomi Nasional Tetap Kuat di Tengah Guncangan Pasar

Jakarta — Guncangan yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa waktu terakhir dinilai tidak semata-mata mencerminkan volatilitas jangka pendek pasar keuangan. Sejumlah kalangan memandang dinamika tersebut justru menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui pembenahan struktural di dalam negeri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Edy Prasetyono, mengatakan bahwa guncangan pasar harus dibaca sebagai pengingat perlunya peningkatan tata kelola dan transparansi ekonomi. Menurut dia, penguatan fundamental merupakan agenda jangka panjang yang tidak bergantung pada situasi pasar sesaat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Ada atau tidak guncangan di bursa, perbaikan tetap harus dilakukan. Bukan hanya untuk memenuhi standar global, melainkan agar perekonomian nasional benar-benar kuat,” ujar Edy.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia menilai gejolak di BEI tidak dapat dipandang semata sebagai peristiwa teknis pasar modal. Penilaian lembaga asing seperti MSCI dan Moody’s, yang memengaruhi peringkat maupun outlook, menurut Edy, menggunakan standar global yang tidak sepenuhnya netral.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Guncangan ini terjadi karena ada lembaga asing menyatakan Indonesia tidak sesuai dengan standar. MSCI, Moody’s, dan segala macam itu lalu menurunkan peringkat. Standar siapa? Untuk kepentingan siapa standar itu? Tidak ada yang bebas nilai, bebas kepentingan,” kata Edy.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia menjelaskan, standar dan peringkat internasional kerap menjadi rujukan utama dalam menentukan rekomendasi investasi, termasuk penilaian atas saham tertentu. “Standar itu menjadi dasar menentukan mana saham yang baik atau tidak, mana yang direkomendasikan dibeli. Siapa pembelinya? Apakah ada kaitan, langsung atau tidak langsung, dengan penyusun standar?” ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meski demikian, Edy mengingatkan bahwa guncangan pasar saham tidak serta-merta mencerminkan kondisi ekonomi mayoritas masyarakat. “Saham-saham yang terguncang itu apakah terkait hajat hidup orang banyak? Ataukah lebih banyak menyangkut kepentingan segelintir pihak?” katanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sementara itu, pemerintah menegaskan bahwa fundamental perekonomian Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika global. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menilai perkembangan terbaru justru menunjukkan ketahanan ekonomi nasional yang relatif solid.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,39 persen pada kuartal IV-2025, tertinggi sejak pandemi Covid-19, dengan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen. Di sisi fiskal, defisit anggaran tetap berada di bawah 3 persen terhadap PDB, sementara rasio utang pemerintah sekitar 40 persen terhadap PDB.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan pemerintah optimistis berbagai kebijakan dan penguatan kelembagaan yang sedang berjalan akan menjawab kekhawatiran pasar. “Terkait perubahan outlook, kami yakin perkembangan kebijakan dan kerangka kelembagaan yang telah dan sedang diimplementasikan akan menjawab kekhawatiran yang disampaikan,” ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan demikian, guncangan pasar dinilai dapat menjadi momentum reflektif untuk mempercepat reformasi tata kelola ekonomi, memperkuat kepercayaan publik, serta memastikan fondasi ekonomi nasional semakin tangguh menghadapi dinamika global. (*)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts