Lompat ke konten utama

Kata Papua

Gotong Royong Cegah Penggunaan Isu SARA dalam Pemilu 2024 - Kata Papua

Gotong Royong Cegah Penggunaan Isu SARA dalam Pemilu 2024

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Naufal Putra Bratajaya

Isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) berpotensi dipolitisasi oleh kelompok kepentingan untuk memenangkan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Oleh sebab itu, masyarakat perlu terus meningkatkan sinergitas untuk bersama-sama bergotong royong cegah penggunaan isu SARA tersebut jelang Pemilu.
Isu SARA merupakan sebuah persoalan yang paling diwaspadai, khususnya bagi masyarakat heterogen seperti Indonesia. Adanya berbagai macam suku, ras, agama, dan antargolongan membuat banyak kepala yang memiliki ideologi masing-masing. Dengan adanya Pancasila sebagai ideologi bangsa inilah yang pada akhirnya menyatukan kita semua.
Isu-isu seperti ini berkembang sudah sejak lama, khususnya menjelang tahun-tahun Pemilu. Agenda paling dekat saat ini yaitu Pemilu di tahun 2024 mendatang. Hal ini menjadi kewaspadaan sendiri bagi seluruh bangsa Indonesia. Pasalnya, isu-isu tentang SARA sangatlah berbahaya, bahkan bisa mengancam perpecahan antarumat manusia.
Sudah lama Indonesia merdeka, kita harus benar-benar menjaga persatuan dan kesatuan itu. Perbedaan pendapat, pilihan, analisis tokoh yang dipilih merupakan sebuah hal yang amat sangat wajar, setiap orang punya hak masing-masing untuk memilih berdasarkan preferensinya. Maka kita harus menghormati hal tersebut. Bagaimana caranya? Dengan menjunjung tinggi rasa toleransi dan saling menghargai perbedaan pilihan.
Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surabaya, M Febriyanto Firman Wijaya menekankan kepada masyarakat Indonesia guna menghormati Hak Asasi Manusia (HAM) untuk mencegah isu SARA menjelang pesta demokrasi di tahun 2024 mendatang. Isu SARA memberikan banyak dampak negatif, seperti dapat memecah belah masyarakat, juga mengganggu stabilitas politik, hingga mengancam keharmonisan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karenanya, diperlukan upaya untuk menjaga keharmonisan dan kedamaian itu secara bersama-sama.
Bangsa Indonesia adaah satu bangsa yang memiliki berbagai macam suku, ras, agama, dan latarbelakang yang berbeda-beda. Persatuan dalam perbedaan dan keberagaman merupakan kekuatan kita semua, maka dari itu kita harus menjaganya sebaik mungkin. Jaminan HAM bagi seluruh umat manusia harus benar-benar ditegakkan tanpa pandang bulu sekalipun. Pasalnya memang semua orang memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dan memiliki pendapat politik dalam Pemilu. Isu SARA sebisa mungkin harus dihindari, tidak ada tempat untuk diskriminasi, Saat ini, pertarungan yang sebenarnya terletak pada ide dan kreativitas masing-masing manusia, sudah bukan waktunya lagi memecah belah bangsa dengan isu-isu SARA yang menghalangi kita semua untuk mencapai kesepakatan yang baik bersama-sama.
Selain itu, untuk mengatasi adanya isu SARA yang berpotensi menimbulkan perpecahan, perlu diatasi dengan pengadaan diskusi yang sehat. Diskusi yang sehat seperti apa? Tentunya diskusi yang fokus pada argumen fakta dan kebijakan yang diiringi dengan kesopanan serta adab yang berlaku. Hal-hal inilah yang dinamakan sebagai rasa toleransi dan saling menghargai pendapat orang lain.
Fokus lainnya yang menjadi sasaran penting bagi kita semua untuk mencegah adanya perpecahan yaitu dengan kita harus menyadari bahwa tujuan kita bersama yakni membangun Indonesia yang lebih baik menuju Indonesia Emas 2045 yang menjadi cita-cita dapat terwujud. Bukan hal yang mudah memang, untuk itu perlu adanya komitmen bersama-sama dan saling menyadari bahwa kita harus menjaga Indonesia tetap utuh.
Pemilu 2024 nantinya memang berpotensi membawa bola panas yang dapat memicu konflik. Apalagi di zaman sekarang yakni maraknya digitalisasi, apapun bisa terjadi di dunia siber. Media sosial bertebaran dengan jenis yang bermacam-macam. Hal yang seperti ini juga memicu konflik antarsesama manusia. Sebagai manusia yang sadar, sebaiknya kita harus membentengi diri dari media sosial yang mengandung unsur-unsur negatif.
Dalam hal ini, Pemilu 2024 sangat berpotensi menimbulkan berita palsu atau hoaks yang beredar di masyarakat, sehingga bagi mereka yang tidak mengetahuinya akan langsung percaya. Namun, hal itu bisa diatasi dengan memperbanyak literasi digital dan membangun diri dengan mengecek sebelum percaya.
Dengan adanya berbagai upaya yang dilakukan, isu-isu SARA menjelang Pemilu 2024 sangat bisa diatasi dengan mudah, asalkan seluruh warga negara Indonesia bersama-sama menjaga HAM dan tidak menyinggung argumentasi mengenai SARA. Dengan demikian Indonesia terbebas dari perpecahan dan justru semakin memperkuat serta mempersatukan bangsa Indonesia seperti apa yang menjadi cita-citanya. Untuk menuju Pemilu 2024 dan Indonesia Emas 2045, mari ciptakan perdamaian serta kerukunan antarsesama, keberlangsungan Pemilu 2024 dengan aman dan damai.

)* Penulis adalah kontributor Lembaga Inti Medi

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata