Lompat ke konten utama

Kata Papua

Guru Besar Ekonomi: Stabilitas Politik, Kepastian Hukum, dan Optimisme Publik Kunci Ketahanan Ekonomi Nasional - Kata Papua

Guru Besar Ekonomi: Stabilitas Politik, Kepastian Hukum, dan Optimisme Publik Kunci Ketahanan Ekonomi Nasional

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

*Jakarta* – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Yarsi Prof. Perdana Wahyu Santosa mengatakan ketahanan ekonomi nasional saat ini baik. Hal tersebut ditopang dengan stabilitas politik, kepastian hukum dan optimisme publik yang baik juga.

“Dengan adanya stabilitas Politik saat ini, kemudian disusul kepastian hukum yang baik, serta optimisme publik menjadi kunci terciptanya ketahanan ekonomi nasional yang baik juga”, ujar Guru Besar FEB Universitas Yarsi Prof. Perdana Wahyu Santosa saat dialog disalah satu stasiun televisi swasta nasional di Jakarta, rabu, 21/10/2026.

Menurutnya ketahanan ekonomi nasional yang baik saat ini tidak dapat berdiri sendiri. Politik yang stabil, penegakan hukum yang tidak tebang pilih dan opini publik yang positif memperkuat resiliensi ekonomi Indonesia.

“yang paling penting adalah menjaga stabilitas politik, kepastian hukum, dan optimisme ekonomi. Optimisme ini akan membentuk ekspektasi yang rasional sehingga Indeks Keyakinan Konsumen bisa terus berada di atas angka 100,” tuturnya.

Lebih lanjut Prof Perdana mengungkapkan stabilitas makro ekonomi Indonesia luar biasa. Pertumbuhan ekonomi hingga kuartal III mencapai 5,29 persen, dan itu merupakan capaian yang sangat tinggi sekalipun dibandingkan dengan negara maju ataupun negara-negara ASEAN.

“Dari sisi inflasi, angka 3,85 persen yang capai saat ini merupakan tingkat inflasi yang sangat terjaga. Sekalipun ada imported inflation akibat gangguan logistik global, kondisi perekonomian kita dari sisi inflasi dan pertumbuhan PDB masih cukup baik sekali”, jelasnya.

“Gangguan logistik global memang memberikan dampak terhadap kenaikan harga, tetapi itu bisa diredam dengan berbagai kebijakan ekonomi. Otoritas moneter dan pemerintah masih mampu menjaga inflasi kita pada jalur yang cukup terkendali”, kata Guru Besar Ekonomi.

Sementara, Prof Perdana menyebutkan daya beli masyarakat untuk konsumsi berada di atas 5,8 persen. Hal ini tentu akan menjaga optimisme dan kestabilan masyarakat, karena setelah stabilitas makro bisa dijaga, kita bisa melihat dampaknya terhadap sektor-sektor ekonomi di bawahnya.

Pengamat GREAT Institute Prof Perdana Wahyu menjelaskan investasi Indonesia yang diumumkan Pak Rosan telah mencapai Rp1.575 triliun, atau sekitar 75 persen dari target tahun 2026.

“Capaian itu juga sekitar 7 persen di atas tahun lalu, sehingga memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional,” ucapnya.

Ditambahkannya ketika investor asing masuk dan melakukan industrialisasi serta hilirisasi, tentu itu akan berdampak positif kepada perekonomian kita.

“Masuknya investasi dalam bentuk mata uang asing juga memberikan sisi positif di tengah perubahan nilai tukar rupiah”, pungkasnya.

Prof Perdana juga menilai program Makan Bergizi Gratis sekarang serapannya sudah sekitar Rp150 triliun. Berarti ada uang sekitar Rp150 triliun yang berputar dalam ekonomi kerakyatan, di akar rumput, dan itu sudah sedikit banyak menggerakkan perekonomian pedesaan.

“Program MBG juga menciptakan berbagai lapangan kerja dan banyak vendor kebutuhan pokok. Permintaan telur, ayam, daging, sayuran, dan bahan pangan lainnya akan menciptakan multiplier effect terhadap perekonomian, khususnya di pedesaan”, tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, pengamat politik Ujang Komarudin mengatakan program – program pemerintahan Prabowo – Gibran saat ini sudah dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia.

“Saya melihat yang paling penting adalah bagaimana grand design pemerintahan Pak Prabowo–Gibran ini dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Saya melihat apa yang dilakukan Pak Presiden adalah bagian dari skema untuk mengentaskan kemiskinan dan memperbaiki pendidikan Indonesia”, imbuh Ujang.

Ia menilai apa yang dilakukan Presiden, capaian-capaian itu, merupakan bagian dari skema untuk menyejahterakan rakyat Indonesia dari ujung ke ujung, dari hulu ke hilir. Ini adalah bagian dari fondasi dasar untuk memastikan bangsa ini berada di arah yang tepat dan baik.

“Musuh kita ini apa? Kemiskinan dan kebodohan. Pak Prabowo turun tangan di sini, intervensi negara ada di sini, terbukti anak-anak yang kurang mampu diasramakan, disekolahkan, dan gratis,” ujarnya.

Lanjutnya, ada Sekolah Garuda, bagaimana anak-anak yang pintar dan cerdas bisa kuliah di kampus-kampus terbaik. Lalu ada MBG, ekonomi masyarakat kelas bawah sudah mulai terlihat terangkat, dan Koperasi Desa Merah Putih juga menjadi bagian dari skema memperbaiki ekonomi rakyat

“Program Makan Bergizi Gratis ini sebenarnya menjadi wajah dari Bapak Presiden, menjadi wajah dari pemerintah. Program ini sudah direalisasikan sesuai dengan janji Bapak Presiden, tetapi kalau ada kekurangan, tentu harus diperbaiki”, tuturnya.

“MBG bukan hanya sekadar memberi makan, tetapi ekonomi di sekitar dapur, bahkan di desa, juga berputar. Pekerja-pekerja yang tadinya menganggur mendapatkan pekerjaan, emak-emak yang tadinya tidak punya pekerjaan ikut turut membantu,” tutup Ujang.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts