Kata Papua

HUT ke-76 RI, Tokoh Agama di Papua Serukan Jaga Persatuan dan Pancasila - Kata Papua

HUT ke-76 RI, Tokoh Agama di Papua Serukan Jaga Persatuan dan Pancasila

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Ketua Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Pendeta M.P.A Maury mengimbau masyarakat Papua tetap jaga persatuan dan kesatuan jelang HUT ke-76 RI.”Mari kita rayakan kemerdekaan dengan semangat perjuangan dan terus memupuk jiwa nasionalisme. Semoga kesejahteraan dan kedamaian selalu menyertai masyarakat Indonesia. Serta bisa membawa Indonesia ke titik yang lebih baik,” katanya, Jumat (6/8). Maury mengajak seluruh masyarakat Papua tetap menjaga keamanan dan ketertiban, sehingga perayaan HUT ke-76 RI dapat berjalan dengan bai. “Perayaan kemerdekaan tahun ini dirayakan di tengah pandemi COVID-19. Kami mengajak seluruh tokoh agama, masyarakat, maupun tokoh adat, mengajak seluruh lapisan masyarakat tetap menjaga protokol kesehatan,” jelasnya.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden 

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden         Oleh: Fajar Dwi Santoso         Taklimat Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna kembali memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang tidak hanya berfokus pada pencapaian pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan reformasi tata kelola pemerintahan. Di hadapan jajaran kabinet, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan nasional harus menyentuh persoalan mendasar masyarakat, mulai dari pemenuhan gizi anak hingga penyederhanaan birokrasi melalui digitalisasi layanan publik. Kedua agenda tersebut saling berkaitan sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih produktif, inklusif, dan berdaya saing.                           Komitmen pemerintah terhadap peningkatan kualitas generasi penerus kembali ditegaskan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden memandang program tersebut bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia unggul. Menurut Presiden, masih tingginya angka stunting dan masih adanya anak-anak yang belum memperoleh asupan makanan yang memadai menjadi alasan utama mengapa negara harus hadir secara langsung melalui program pemenuhan gizi.