Kata Papua

Investor Baru Berikan Harapan Bagi 10.000 Pekerja Sritex - Kata Papua

Investor Baru Berikan Harapan Bagi 10.000 Pekerja Sritex

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Investor Baru Berikan Harapan Bagi 10.000 Pekerja Sritex

 

Sukoharjo – Pemerintah kembali menunjukkan keberhasilannya dalam menyelamatkan industri strategis nasional. PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), perusahaan tekstil kebanggaan Indonesia, akan segera kembali beroperasi berkat dukungan penuh dari pemerintah melalui fasilitasi pengambilalihan oleh investor baru.

 

 

 

 

Langkah penyelamatan ini menjadi angin segar bagi lebih dari 10.000 eks pekerja Sritex, yang sebelumnya terdampak akibat kebangkrutan perusahaan pada Oktober 2024. Kini, harapan untuk kembali bekerja dalam waktu dekat semakin nyata.

 

 

 

 

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa proses pengambilalihan telah selesai secara tuntas, sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam melindungi dunia usaha dan tenaga kerja.

 

 

 

 

“Sudah clear, Sritex sudah clear, nggih. Sudah, sebentar lagi operasional,” ujarnya dengan optimis.

 

 

 

 

Dukungan juga datang dari dunia usaha. Wakil Sekretaris Apindo Solo, Sri Saptono Basuki, menyampaikan apresiasi terhadap langkah cepat pemerintah pusat yang mengawal proses ini hingga tuntas. Menurutnya, percepatan operasional akan menjaga keberlangsungan aset dan mendorong pemulihan ekonomi daerah.

 

 

 

 

“Syukur bisa di bulan Mei atau Juni, itu kan jadi bagus buat mereka,” ucapnya.

 

 

 

 

Lebih lanjut, Basuki menekankan bahwa kebijakan ini akan mencegah pengangguran massal, dan menciptakan stabilitas iklim usaha yang sehat dan produktif.

 

 

 

 

“Kalau banyak yang menganggur Apindo juga resah karena iklimnya jadi tidak kondusif,” tambahnya.

 

 

 

 

Kembalinya Sritex ke jalur produksi bukan sekadar kabar baik bagi para pekerja, melainkan juga membawa efek domino positif terhadap UMKM, sektor perdagangan, hingga transportasi lokal. Pemerintah terbukti sigap menjaga denyut nadi ekonomi masyarakat.

 

 

 

 

“Ketika mereka punya pekerjaan akan mengangkat daya belilah,” jelas Basuki, menegaskan bahwa langkah ini juga akan meningkatkan daya beli masyarakat secara langsung.

 

 

 

 

Lebih menggembirakan, investor baru akan menyerap sekitar 10.000 pekerja dari Sritex dan tiga anak perusahaannya. Ini adalah bukti konkret bahwa pemerintah berhasil menciptakan ekosistem investasi yang sehat dan pro-rakyat.

 

 

 

 

Sebagian dari eks buruh telah mulai menandatangani kontrak kerja baru, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Ketenagakerjaan Yassierli.

 

 

 

 

“Sedang proses, sudah tanda tangan kontrak,” tegasnya.

 

 

 

 

Ia menambahkan bahwa proses administrasi kini tengah difinalisasi antara tim kurator dan pemegang saham baru, sebagai bagian dari tata kelola yang transparan dan efisien yang terus didorong oleh pemerintah.

 

 

 

 

“Produksinya jalan lancar, itu yang kita harapkan,” imbuh Yassierli, menegaskan bahwa pemerintah mengawal penuh seluruh transisi ini demi memastikan keberhasilan jangka panjang.

 

 

 

 

Dengan proses transisi yang hampir rampung, publik kini menantikan kebangkitan baru dari Sritex sebagai simbol sukses pemulihan industri tekstil nasional di bawah kepemimpinan pemerintah yang visioner dan berpihak pada rakyat.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

Most Popular

Categories

Related Post

Uncategorized
Mengecam Kelicikan KST Papua Jadikan Masyarakat Papua Tameng Hidup Oleh : Clara Anastasya Wompere Kelompok separatis dan teroris (KST) di Papua merupakan gerombolan kriminal dan pengacau yang sangat licik. Bagaimana tidak, pasalnya mereka dengan sangat tegas menggunakan warga yang merupakan masyarakat orang asli Papua (OAP) untuk menjadi tameng hidup pada saat terjadinya baku tembak dengan pihak aparat keamanan dari personel gabungan ketika mereka sedang terpojok. Satuan Tugas (Satgas) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Batalyon Infanteri 133 Yudha Sakti terlibat baku tembak dengan gerombolan separatis tersebut, yang mana juga termasuk ke dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kampung Ayata, Kabupaten Maybrat. Dalam baku tembak itu, sebanyak ratusan warga setempat berhasil dievakuasi oleh aparat keamanan untuk bisa menghindarkan mereka dari adanya upaya ataupun potensi akan intimidasi dari kelompok separatis. Seluruh warga telah dievakuasi ke tempat yang aman agar bisa menghindarkan mereka dari KST Papua. Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Letnan Kolonel (Letkol) Infanteri Andika Ganesha Sakti yang memimpin langsung Satgas tersebut berhasil menggagalkan upaya pengibaran bendera Bintang Kejora yang hendak dilakukan oleh kelompok separatis dan teroris dari Organisasi Papua Merdeka itu di Dusun Aimasa Lama, Kampung Ayata, Distrik Aifat Timur Tengah. Diketahui bahwa aksi pengibaran bendera Bintang Kejora tersebut dilakukan dalam rangka untuk memperingati Hari Manifesto Politik Papua Merdeka pada tanggal 1 Desember. Sempat terjadi baku tembak antara gerombolan separatis itu dengan pihak aparat keamanan dari Satgas TNI. Baku tembak tersebut terjadi saat aparat keamanan hendak berupaya untuk menggagalkan rencana pengibaran Bendera Bintang Kejora yang dilakukan oleh kelompok penentang ideologi negara itu. Mereka semua bahkan sempat sangat terdesak karena adanya tindakan tegas yang dilakukan oleh aparat keamanan. Akan tetapi, tatkala sedang terdesak, alih-alih menyerahkan diri, justru KST Papua melakukan cara licik lainnya, yakni melakukan intimidasi kepada warga setempat untuk menjadikan mereka sebagai tameng hidup pada saat baku tembak tersebut terjadi. Sontak, mengetahui adanya kelicikan yang dilakukan oleh gerombolan teroris dari Bumi Cenderawasih itu, aparat keamanan pun langsung bergerak dengan cepat dan dengan sangat hati-hati untuk melakukan penyelamatan kepada para penduduk kampung demi bisa menghindari jatuhnya korban jiwa dari masyarakat sipil. Pergerakan tempur yang dilakukan oleh pihak Satgas TNI sendiri kemudian membuahkan hasil yang sangat optimal, yakni aparat keamanan pada akhirnya berhasil memukul mundur KST Papua dan membuat mereka semua langsung melarikan diri masuk ke arah hutan dan perbukitan. Tentu saja upaya yang dilakukan oleh aparat keamanan tidak hanya berhenti sampai di situ saja, melainkan pihak Satgas TNI langsung mengerahkan sejumlah drone untuk melakukan pemantauan dari udara mengenai pergerakan yang dilakukan oleh gerombolan separatis tersebut. Dari hasil pantauan yang dilakukan melalui drone di udara, ternyata diketahui bahwa KST Papua yang melakukan penyerangan dan sempat melakukan kontak tembak dengan aparat keamanan bahkan hingga menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup itu berjumlah sekitar delapan orang yang merupakan pimpinan dari Manfred Fatem. Mereka semua juga terlihat membawa beberapa pucuk senjata api. Terkait hasil pemantauan dan juga penyelidikan yang langsung dilakukan oleh aparat keamanan setelah sempat terjadinya kontak tembak hingga membuat KST Papua terpojok dan melarikan diri itu, Letkol Infanteri Andika Ganesha Sakti kemudian menuturkan bahwa ditemukan rencana dari pihak gerombolan teroris tersebut selain melakukan pengibaran akan bendera Bintang Kejora, namun mereka juga hendak menyusun rencana untuk melakukan penyerangan kepada aparat keamanan serta melakukan aksi teror yang dapat mengganggu kenyamanan serta kedamaian dari masyarakat setempat. Meski begitu, namun untuk saat ini, situasi akan keamanan dan kondusifitas di Kampung Ayata sendiri sudah secara sepenuhnya dikuasai oleh aparat keamanan dari personel gabungan yang terdiri dari TNI dan juga Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), yang mana seluruh aparat keamanan itu jelas akan tetap terus hadir bagi masyarakat untuk bisa memberikan rasa aman kepada warga setempat di Bumi Cenderawasih. Guna bisa memastikan upaya memberikan kenyamanan dan mendatangkan keamanan bagi masyarakat setempat di Papua hingga mereka semua bisa merasa aman, aparat TNI dari Satgas Yonif 133 Yudha Sakti juga memberikan bantuan logistik berupa makanan dan juga dukungan pelayanan kesehatan yang ditujukan bagi sebanyak ratusan penduduk. Lebih lanjut, pihak pasukan aparat keamanan juga sampai saat ini masih terus berupaya untuk melakukan pemburuan kepada para pelaku dari kelompok separatis dan teroris Papua itu serta membuat parameter akan pengamanan di sekitar wilayah perkampungan agar tidak sampai disusupi lagi oleh KST pimpinan Manfred Fatem. Sebenarnya gerombolan teroris dari KST Papua tersebut sama sekali tidak berdaya, pasalnya mereka hanya bisa melancarkan aksi yang sangat licik ketika sedang terpojok dalam baku tembak melawan aparat keamanan Republik Indonesia. Mereka dengan sangat tega bahkan menggunakan warga sipil yang tidak berdosa sebagai tameng hidup. )* Penulis adalah Mahasiswa Papua Tinggal di Yogyakart
On Key

Related Posts