Lompat ke konten utama

Kata Papua

Jadi Ketua Kadin, Ronald Bonay Siap Bangkitkan Ekonomi Papua - Kata Papua

Jadi Ketua Kadin, Ronald Bonay Siap Bangkitkan Ekonomi Papua

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Ronald Antonio Bonay terpilih sebagai Ketua Kadin Papua periode 2021-2026 dalam Musyawarah provinsi (Musprov) Kadin VII yang berlangsung di salah satu hotel Jayapura, Sabtu 22 Mei 2021.

Ronald terpilih setelah menyingkirkan tiga calon lainnya yang dinyatakan tidak memenuhi syarat sebagaimana disampaikan oleh Steering Committee. Mereka yakni, George Waromi, Radia Wanggai dan Markus Yanteo.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Andi Rukman Karumpa menyampaikan, terpilihnya Ronald Antonio Bonay diharapkan bisa membangun kembali kejayaan Kadin Papua seperti dahulu.

“Harapan kita, Kadin Papua dulu pernah berjaya di bawah pemimpin sebelumnya, kita berharap dengan dilantiknya pengurus baru ini. Keramaian itu bukan hanya saat Musprov saja, tetapi memang ketua terpilih benar benar menjadi mitra strategis pemerintah,” kata Andi Rukman.

Andi berharap ketua terpilih bisa merangkul pelaku usaha, khususnya Orang Asli Papua (OAP) agar bisa berkolaborasi dengan asosiasi dan pengusaha pendatang bangun bersama sama, seperti yang disampaikan Sekda Papua Dance Yulian Flassy.

“Di masa dulu banyak investor yang masuk membuka perkebunan, tetapi tiba – tiba tertahan, ke depan diharapkan emas, vanila, perkebunan, kopi ini bisa terangkut semuanya, dengan harapan teman-teman tidak hanya berharap di proyek infrastruktur,” pesannya.

Ketua Umum Pengurus Sementara Kadin Papua Ali Said mengingatkan agar sinergitas antara Kadin dan Pemerintah Daerah harus tetap terjaga hingga di tingkat kabupaten dan kota.  Dalam menggerakkan ekonomi Papua, menurut Ali, Kadin dan Pemda tidak dapat jalan sendiri.

“Pemda dan Kadin semua daerah kita begitu, karena Kadin tidak mungkin jalan sendiri tanpa Pemda, pemda juga butuh pengusaha yang perhimpunan di dalam Kadin. Inilah penggerak ekonomi di daerah. jadi harus sinergi bangun komunikasi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Kadin Papua terpilih Ronald Antonio Bonay menyatakan kesiapannya merangkul semua para pelaku usaha untuk terus maju dalam menggerakkan perekonomian di 29 kabupaten kota,” Mari milenial bangkitkan ekonomi Papua,” ajak Ronald.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Lapangan Kerja, Upskilling, dan Kepastian Usaha Harus Menjadi Napas RUU Ketenagakerjaan

Oleh : Abdul Razak Pemerintah bersama DPR RI tengah mempercepat pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Ketenagakerjaan sebagai upaya menjawab perubahan dan tantangan dunia kerja yang semakin kompleks. Regulasi baru tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat perlindungan pekerja, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang adaptif, mendorong peningkatan keterampilan, memperluas kesempatan kerja, sekaligus memberikan kepastian bagi dunia usaha. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan pembahasan RUU tersebut kini berlangsung secara intensif bersama DPR. Pemerintah menargetkan regulasi mengenai perlindungan tenaga kerja itu dapat diselesaikan pada akhir Oktober 2026. Yassierli menilai tantangan ketenagakerjaan nasional tidak ringan. Dari sekitar 155 juta angkatan kerja Indonesia, sekitar 60 persen berada di sektor informal. Kelompok tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan pekerja formal karena sebagian besar belum memperoleh jaminan sosial maupun perlindungan hari tua yang memadai. Menurut Yassierli, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk memastikan perlindungan ketenagakerjaan dapat mencakup seluruh pekerja tanpa membedakan status formal maupun informal. Regulasi baru diharapkan menjadi landasan yang lebih kuat dalam memberikan kepastian hak sekaligus memperluas kepesertaan program perlindungan sosial. Yassierli menyebut penyelesaian regulasi tersebut diharapkan menjadi tonggak baru perlindungan ketenagakerjaan di Indonesia. Selain melalui pembentukan undang-undang, Kementerian Ketenagakerjaan juga akan mendorong peningkatan kepesertaan perlindungan sosial bagi pekerja. Urgensi perlindungan tersebut semakin besar seiring Indonesia menghadapi perubahan struktur demografi. Saat ini Indonesia masih menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar. Namun, kondisi tersebut tidak akan berlangsung selamanya karena Indonesia diproyeksikan memasuki fase aging population. Yassierli menekankan pentingnya penguatan program dana pensiun agar masyarakat yang memasuki usia lanjut tetap memiliki sumber pendapatan dan tidak sepenuhnya bergantung kepada generasi yang masih produktif. Menurutnya, menjaga kehidupan masyarakat setelah masa kerja merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Di sisi lain, RUU Perlindungan Ketenagakerjaan juga perlu menjawab kebutuhan pekerja di tengah perubahan struktur ekonomi dan teknologi. Perlindungan tidak cukup hanya diberikan ketika terjadi pemutusan hubungan kerja, tetapi juga perlu disertai upaya meningkatkan kemampuan pekerja agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri. Program upskilling dan reskilling menjadi semakin relevan karena perkembangan teknologi dapat mengubah jenis pekerjaan, kompetensi yang dibutuhkan, serta pola hubungan kerja. Pekerja perlu memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kemampuan agar tidak tertinggal oleh perubahan dunia usaha. Dengan demikian, perlindungan ketenagakerjaan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan daya saing tenaga kerja. Pada saat yang sama, kepastian usaha juga menjadi bagian penting dalam penyusunan regulasi. Dunia usaha membutuhkan aturan yang jelas, terukur, dan dapat dilaksanakan agar mampu mengambil keputusan investasi, melakukan ekspansi, serta menciptakan lapangan pekerjaan secara berkelanjutan. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh menjelaskan bahwa DPR mengusulkan perluasan jaminan sosial bagi pekerja, termasuk mekanisme jaminan pesangon. Usulan tersebut tercantum dalam Pasal 129 RUU Perlindungan Ketenagakerjaan dan merupakan inisiatif DPR, bukan usulan dari Asosiasi Pengusaha Indonesia maupun serikat buruh. Nihayatul menjelaskan, selama ini perusahaan pada dasarnya telah melakukan pencadangan kewajiban imbalan kerja sebagaimana diatur dalam PSAK 24. Namun, dana tersebut masih berada di dalam perusahaan dan belum dipisahkan dari kekayaan perusahaan. Karena itu, DPR mengusulkan agar dana jaminan pesangon dikelola melalui BPJS Ketenagakerjaan. Mekanisme tersebut dinilai dapat memberikan kepastian bagi pekerja sekaligus mengurangi potensi beban perusahaan ketika terjadi persoalan keuangan atau pemutusan hubungan kerja. Nihayatul mengatakan usulan tersebut salah satunya berkaca pada kasus perusahaan yang mengalami kepailitan dan kemudian tidak mampu memenuhi kewajiban pesangon. Kasus PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex menjadi salah satu contoh yang disebutnya karena berdampak terhadap sekitar 10.000 pekerja. Menurut Nihayatul, mekanisme jaminan pesangon perlu diperkuat agar pekerja tetap memperoleh hak ketika perusahaan menghadapi kondisi sulit. DPR juga mendorong adanya kontribusi pemerintah dalam skema tersebut, sehingga pembiayaan tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab perusahaan. Penguatan perlindungan pekerja pada akhirnya perlu ditempatkan dalam kerangka yang seimbang. Regulasi harus mampu menjamin hak pekerja, mendorong peningkatan kompetensi, sekaligus memberikan kepastian bagi pengusaha dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Keseimbangan tersebut penting agar perlindungan tidak menjadi beban yang menghambat penciptaan lapangan kerja, melainkan menjadi fondasi hubungan industrial yang lebih sehat. Dengan target penyelesaian pada akhir