Kata Papua

Jangan Terpancing Hoaks, Masyarakat Papua Diminta Tenang - Kata Papua

Jangan Terpancing Hoaks, Masyarakat Papua Diminta Tenang

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jangan Terpancing Hoaks, Masyarakat Papua Diminta Tenang


Oleh : Alfisyah Dianasari 


Masyarakat Papua diminta untuk tenang dan tidak terprovokasi oleh hoaks yang dapat menyulut kembali konflik di Yahukimo, Papua. Saat ini TNI/Polri dibantu instansi lainnya terus melakukan pemulihan keamanan dan penegakan hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab atas kerusuhan tersebut.
Bupati Yakuhimo Aboc Busup dikabarkan meninggal dunia pada tanggal 3 Oktober 2021 sekitar pukul 09.30. Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Papua itu bukan meninggal karena tertembak. Viva Yoga Mauladi selaku Wakil Ketua Umum PAN membantah tudingan tersebut, dirinya mengatakan bahwa Bupati Yakuhimo wafat bukan karena tembakan, pihaknya masih meminta konfirmasi ke dokter karena diduga terkena serangan jantung mendadak.
Dia menjelaskan, Aboc Busup sudah dua hari berada di Jakarta. Dia ke Ibu Kota untuk mengurus SK DPD PAN ke kantor DPP PAN, serta akan mengikuti Bimtek Anggota Legislatif PAN seluruh Indonesia. Karena acara tersebut mengundang seluruh ketua DPW seluruh Indonesia.
Viva Yoga mengutarakan, kadernya Abock Busup merupakan pejuang partai. Serta dalam berpolitik tidak pernah berkata kasar atau membentak. Viva juga mengaku sangat kehilangan sosok kader sekaligus rekan kerja, Dia menyampaikan bahwa Abock Busup sudah seperti keluarganya. Dirinya juga merasa terpukul sekaligus kehilangan, Bagi Viva, Abock sudah dianggap sebagai abang dan keluarga sendiri.
Menurut Mumtaz, Abock adalah seorang pejuang tangguh PAN yang berhasil menorehkan sejarah baru PAN di Tanah Papua dengan tinta emas. Sementara itu Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, juga membantah akan beredarnya jabar yang menyebutkan bahwa kerusuhan antara kelompok suku Yali dan Suku Kimyal di Yakuhimo Papua, dipicu oleh kematian mantan Bupati Abock Busup. Zulhas mengungkapkan, kericuhan dipicu oleh pergantian kepala distrik di Yakuhimo.
Zulhas menuturkan, Bupati Yakuhimo yang saat ini menjabat telah mengganti kepala distrik di sejumlah wilauah di Yakuhimo. Hal ini kemudian yang memicu keributan antarwarga. Tercatat, kericuhan antara kedua suku tersebut menewaskan 6 orang dan 41 orang terluka.
Sementara itu Kepala Bagian (Kabag) Penum Divisi Huma Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan mengatakan, Polri bersama TNI masih terus melakukan pengamanan terkait peristiwa kerusuhan antarsuku di Yakuhimo, Papua. Ramadhan menyampaikan, penyidik Polda Papua juga masih melakukan penyelidikan terkait latar belakang kerusuhan tersebut.
Diketahui, terjadi peristiwa penyerangan terhadap masyarakat suku Yali yang diduga dilakukan oleh kelompok masyarakat dari suku Kimyal, di Distrik Dekai, Kabupaten Yakuhimo, Papua sekitar pukul 12.45 WIT.
Polri juga masih memburu penyebar isu yang disebut menjadi penyebab bentrokan antara dua suku di Yakuhimo, Papua. Puluhan orang saksi sudah diperiksa. Hasil penyelidikan sementara memang belum mengarah kepada penyebar isu, tetapi sudah diketahui suku yang melakukan penyerangan.
Selain itu, dalam proses pengungkapan kasus, Polda Papua telah memeriksa 56 orang saksi. Dalam waktu dekat, polisi disebut Rusdi akan menetapkan tersangka.Rusdi menuturkan, masih ada sekitar 56 orang yang dimintai keterangan, pihaknya tengah menunggu kabar dari Poda Papua terkait beberapa orang yang akan dijadikan sebagai tersangka dalam kasus kericuhan antar 2 suku tersebut.
Kericuhan antara kedua suku tersebut pecah pada 3 Oktober 2021. Masyarakat Suku Yali mendapatkan serangan dari Suku Kimyal dengan menggunakan panah dan parang. Aksi penyerangan tersebut dipimpin langsung oleh kepala suku Kimyal, Morome Keya Busup. Aparat penegak hukum diminta untuk dapat menjami keamanan warga yang tinggal di Yakuhimo Papua khususnya di distrik Dekai.
Sementara itu SekretarIS Fraksi DPR RI, Achmad Baidowi mengatakan jaminan keamanan itu bertujuan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dari warga sipil. Baidowi juga meminta tindakan tegas perlu diperlihatkan untuk para oknum, yang sengaja menyulut kerusuhan dan mengambil keuntungan dari situasi dan kondisi yang tak kondusif saat ini.
Baidowi berharap, aparat hukum perlu menangkap “aktor” di balik kerusuhan Yakuhimo dan meluruskan semua hoax yang sengaja dimanfaatkan kelompok tertentu untuk menyulut permusuhan dan kebencian. Baidowi juga berharap kepada aparat keamanan agar dalam menangani kasus tersebut, perlu memperhatikan aspek sensitif, agar kerusuhan tidak meluas. Karena kerusuhan awalnya terjadi di rumah ibadah dan dilakukan oleh kelompok suku tertentu.
Aparat keamanan harus bisa menjami keamanan yang tinggal di Yakuhimo, jangan sampai kerusuhan yang terjadi di satu tempat, akhirnya menyebabkan pertikaian antar warga yang justru akan merugikan dan merusak perdamaian.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.