Lompat ke konten utama

Kata Papua

Koperasi Desa Merah Putih Lindungi Masyarakat dari Rentenir - Kata Papua

Koperasi Desa Merah Putih Lindungi Masyarakat dari Rentenir

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dengan membentuk Koperasi Desa Merah Putih di seluruh wilayah pedesaan.

Inisiatif ini bertujuan untuk memutus mata rantai distribusi barang yang tidak adil serta melindungi warga dari praktik rentenir dan pinjaman online yang kerap menjerat mereka.

Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi, menjelaskan bahwa selama ini banyak masyarakat di desa kesulitan mendapatkan akses ke layanan perbankan maupun koperasi. Kondisi ini memaksa mereka mencari alternatif pembiayaan yang sering kali berbunga tinggi dan memperburuk kondisi ekonomi mereka.

“Presiden ingin agar Koperasi Desa Merah Putih menjadi solusi bagi masyarakat desa agar tidak lagi bergantung pada rentenir, tengkulak, maupun pinjaman online yang memperparah kemiskinan,” ujar Budi

Salah satu unit utama dalam koperasi ini adalah layanan simpan pinjam yang akan memberikan akses pendanaan lebih mudah dan terjangkau bagi masyarakat. Dengan demikian, warga desa tidak lagi terjebak dalam siklus utang yang terus bertambah, seperti praktik gali lubang tutup lubang yang selama ini menjadi permasalahan.

Selain itu, koperasi ini juga berperan dalam menstabilkan harga hasil pertanian. Selama ini, hasil panen petani sering dibeli dengan harga murah oleh perantara atau tengkulak. Dengan adanya koperasi, pemerintah dapat memastikan harga jual yang lebih menguntungkan bagi petani.

“Koperasi Desa Merah Putih ini diharapkan dapat membawa perubahan positif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” tambah Budi.

Program ini akan dikembangkan melalui tiga pendekatan utama, yaitu membangun koperasi baru, merevitalisasi koperasi yang sudah ada, serta membentuk dan memperkuat kelompok tani di setiap desa.

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, menyatakan bahwa koperasi ini juga akan memperkuat program makan bergizi gratis (MBG) dan meningkatkan penyerapan gabah kering panen (GKP) petani.

“Dengan koperasi ini, suplai untuk program MBG serta penyerapan gabah oleh Bulog dapat lebih optimal. Ini adalah langkah penting dalam memperkuat ekonomi pedesaan,” ungkap Arief

Arief menambahkan bahwa Koperasi Desa Merah Putih akan berperan sebagai penyerap hasil panen, sehingga harga di tingkat petani dapat terjaga dan mereka tidak mengalami kerugian akibat harga jual yang terlalu rendah.

“Ini kabar baik bagi petani. Harga hasil panen mereka tidak akan jatuh karena koperasi siap menyerapnya. Saat ini, kami sedang menyiapkan skema pelaksanaannya,” pungkasnya.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Lapangan Kerja, Upskilling, dan Kepastian Usaha Harus Menjadi Napas RUU Ketenagakerjaan

Oleh : Abdul Razak Pemerintah bersama DPR RI tengah mempercepat pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Ketenagakerjaan sebagai upaya menjawab perubahan dan tantangan dunia kerja yang semakin kompleks. Regulasi baru tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat perlindungan pekerja, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang adaptif, mendorong peningkatan keterampilan, memperluas kesempatan kerja, sekaligus memberikan kepastian bagi dunia usaha. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan pembahasan RUU tersebut kini berlangsung secara intensif bersama DPR. Pemerintah menargetkan regulasi mengenai perlindungan tenaga kerja itu dapat diselesaikan pada akhir Oktober 2026. Yassierli menilai tantangan ketenagakerjaan nasional tidak ringan. Dari sekitar 155 juta angkatan kerja Indonesia, sekitar 60 persen berada di sektor informal. Kelompok tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan pekerja formal karena sebagian besar belum memperoleh jaminan sosial maupun perlindungan hari tua yang memadai. Menurut Yassierli, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk memastikan perlindungan ketenagakerjaan dapat mencakup seluruh pekerja tanpa membedakan status formal maupun informal. Regulasi baru diharapkan menjadi landasan yang lebih kuat dalam memberikan kepastian hak sekaligus memperluas kepesertaan program perlindungan sosial. Yassierli menyebut penyelesaian regulasi tersebut diharapkan menjadi tonggak baru perlindungan ketenagakerjaan di Indonesia. Selain melalui pembentukan undang-undang, Kementerian Ketenagakerjaan juga akan mendorong peningkatan kepesertaan perlindungan sosial bagi pekerja. Urgensi perlindungan tersebut semakin besar seiring Indonesia menghadapi perubahan struktur demografi. Saat ini Indonesia masih menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar. Namun, kondisi tersebut tidak akan berlangsung selamanya karena Indonesia diproyeksikan memasuki fase aging population. Yassierli menekankan pentingnya penguatan program dana pensiun agar masyarakat yang memasuki usia lanjut tetap memiliki sumber pendapatan dan tidak sepenuhnya bergantung kepada generasi yang masih produktif. Menurutnya, menjaga kehidupan masyarakat setelah masa kerja merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Di sisi lain, RUU Perlindungan Ketenagakerjaan juga perlu menjawab kebutuhan pekerja di tengah perubahan struktur ekonomi dan teknologi. Perlindungan tidak cukup hanya diberikan ketika terjadi pemutusan hubungan kerja, tetapi juga perlu disertai upaya meningkatkan kemampuan pekerja agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri. Program upskilling dan reskilling menjadi semakin relevan karena perkembangan teknologi dapat mengubah jenis pekerjaan, kompetensi yang dibutuhkan, serta pola hubungan kerja. Pekerja perlu memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kemampuan agar tidak tertinggal oleh perubahan dunia usaha. Dengan demikian, perlindungan ketenagakerjaan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan daya saing tenaga kerja. Pada saat yang sama, kepastian usaha juga menjadi bagian penting dalam penyusunan regulasi. Dunia usaha membutuhkan aturan yang jelas, terukur, dan dapat dilaksanakan agar mampu mengambil keputusan investasi, melakukan ekspansi, serta menciptakan lapangan pekerjaan secara berkelanjutan. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh menjelaskan bahwa DPR mengusulkan perluasan jaminan sosial bagi pekerja, termasuk mekanisme jaminan pesangon. Usulan tersebut tercantum dalam Pasal 129 RUU Perlindungan Ketenagakerjaan dan merupakan inisiatif DPR, bukan usulan dari Asosiasi Pengusaha Indonesia maupun serikat buruh. Nihayatul menjelaskan, selama ini perusahaan pada dasarnya telah melakukan pencadangan kewajiban imbalan kerja sebagaimana diatur dalam PSAK 24. Namun, dana tersebut masih berada di dalam perusahaan dan belum dipisahkan dari kekayaan perusahaan. Karena itu, DPR mengusulkan agar dana jaminan pesangon dikelola melalui BPJS Ketenagakerjaan. Mekanisme tersebut dinilai dapat memberikan kepastian bagi pekerja sekaligus mengurangi potensi beban perusahaan ketika terjadi persoalan keuangan atau pemutusan hubungan kerja. Nihayatul mengatakan usulan tersebut salah satunya berkaca pada kasus perusahaan yang mengalami kepailitan dan kemudian tidak mampu memenuhi kewajiban pesangon. Kasus PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex menjadi salah satu contoh yang disebutnya karena berdampak terhadap sekitar 10.000 pekerja. Menurut Nihayatul, mekanisme jaminan pesangon perlu diperkuat agar pekerja tetap memperoleh hak ketika perusahaan menghadapi kondisi sulit. DPR juga mendorong adanya kontribusi pemerintah dalam skema tersebut, sehingga pembiayaan tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab perusahaan. Penguatan perlindungan pekerja pada akhirnya perlu ditempatkan dalam kerangka yang seimbang. Regulasi harus mampu menjamin hak pekerja, mendorong peningkatan kompetensi, sekaligus memberikan kepastian bagi pengusaha dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Keseimbangan tersebut penting agar perlindungan tidak menjadi beban yang menghambat penciptaan lapangan kerja, melainkan menjadi fondasi hubungan industrial yang lebih sehat. Dengan target penyelesaian pada akhir