Lompat ke konten utama

Kata Papua

Layanan Kesehatan Pascabencana Sumatra Kembali Beroperasi untuk Memulihkan Warga - Kata Papua

Layanan Kesehatan Pascabencana Sumatra Kembali Beroperasi untuk Memulihkan Warga

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh: Dhita Karuniawati

Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dalam beberapa waktu terakhir telah membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Curah hujan tinggi yang berlangsung berhari-hari menyebabkan sungai meluap, permukiman terendam, serta berbagai fasilitas umum mengalami kerusakan, termasuk sarana layanan kesehatan. Puskesmas, rumah sakit, hingga pos pelayanan kesehatan di tingkat desa sempat lumpuh akibat genangan air, rusaknya peralatan medis, serta keterbatasan akses transportasi. Namun seiring dengan surutnya banjir dan membaiknya kondisi lapangan, layanan kesehatan pascabencana kini mulai kembali beroperasi secara bertahap.

Upaya pemulihan layanan kesehatan tidak hanya dilakukan melalui perbaikan sarana prasarana, tetapi juga penguatan layanan promotif dan preventif. Di banyak daerah terdampak banjir, tenaga kesehatan turun langsung ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan keliling, imunisasi lanjutan bagi balita, serta edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Langkah ini penting untuk mencegah munculnya kejadian luar biasa (KLB) penyakit pascabencana, terutama di lingkungan pengungsian yang padat dan memiliki keterbatasan sanitasi.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra Muhammad Tito Karnavian mengatakan bahwa layanan kesehatan di tiga provinsi terdampak bencana di wilayah Sumatra, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, telah kembali beroperasi 100 persen.

Tito mengatakan pencapaian tersebut adalah hasil percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi yang terus dilakukan pemerintah pusat bersama pemerintah daerah (Pemda).

Berdasarkan data Satgas, dari 87 rumah sakit umum daerah (RSUD) terdampak, sebelumnya terdapat 9 RSUD yang sempat berhenti beroperasi, terdiri atas 8 RSUD di Aceh dan 1 RSUD di Sumatra Utara. Saat ini, seluruh RSUD tersebut telah kembali beroperasi normal.

Sementara itu, dari 867 puskesmas terdampak, sebelumnya 152 puskesmas tidak beroperasi. Saat ini, sebanyak 865 puskesmas telah beroperasi normal, sedangkan 2 puskesmas masih beroperasi di lokasi sementara sambil menunggu pembangunan gedung baru.

Untuk memastikan percepatan pemulihan berjalan optimal, Kemendagri membentuk posko pemantauan di tingkat pusat dan daerah. Seluruh upaya tersebut dilakukan secara terpadu agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan efektif, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi masyarakat terdampak.

Sementara itu, Koordinator Krisis Kesehatan Nasional Kementerian Kesehatan, Sumarjaya, mengatakan bahwa prioritas utama saat bencana adalah memastikan rumah sakit kembali berfungsi.

Pemulihan layanan kesehatan dilakukan secara bertahap dan terencana. Rumah sakit menjadi prioritas utama, diikuti oleh puskesmas dan fasilitas kesehatan dasar lainnya. Dari 87 rumah sakit yang terdampak bencana, sembilan sempat berhenti beroperasi, namun dalam dua pekan pertama, semuanya berhasil diaktifkan kembali. Layanan krusial seperti hemodialisis menjadi perhatian khusus karena menyangkut pasien dengan ketergantungan tinggi pada alat dan jadwal terapi yang ketat.

Tahap kedua pemulihan menyasar layanan kesehatan primer. Sebanyak 867 puskesmas terdampak bencana, dengan 152 di antaranya sempat lumpuh total. Per 1 Januari 2026, hampir seluruh puskesmas telah kembali beroperasi. Dua puskesmas di Aceh Timur dan Aceh Tenggara yang mengalami kerusakan berat akan dibangun ulang menggunakan konsep bangunan modular yang dirancang untuk digunakan hingga lima tahun sambil menunggu pembangunan permanen.

Tahap ketiga melibatkan pemulihan fasilitas pendukung, termasuk perbaikan sarana dan prasarana penunjang layanan seperti komputer, alat kesehatan, dan fasilitas pendukung lainnya. Fokus utama adalah mengembalikan fungsi dasar pelayanan kesehatan agar masyarakat kembali mendapatkan layanan yang lengkap dan aman. Emergency Medical Team (EMT) yang tergabung dalam Tenaga Cadangan Kesehatan diterjunkan sejak hari pertama bencana untuk memastikan layanan tetap berjalan di wilayah terdampak.

Pemerintah pusat dan daerah terus berkoordinasi untuk memastikan ketersediaan obat-obatan, alat kesehatan, serta tenaga medis di wilayah terdampak. Distribusi logistik kesehatan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi geografis dan tingkat kebutuhan masyarakat. Selain itu, dilakukan pemantauan rutin terhadap kualitas air bersih dan sanitasi lingkungan untuk mencegah penyebaran penyakit. Kesiapsiagaan tenaga kesehatan juga ditingkatkan melalui sistem piket dan penugasan khusus di daerah rawan bencana.

Peran masyarakat dan relawan turut menjadi bagian penting dalam pemulihan layanan kesehatan. Partisipasi warga dalam menjaga kebersihan lingkungan, melaporkan kondisi kesehatan anggota keluarga, serta mengikuti anjuran tenaga medis sangat membantu mempercepat proses pemulihan. Sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat menjadi kunci agar layanan kesehatan dapat berjalan optimal pascabencana.

Pengalaman banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat ketahanan sistem kesehatan terhadap bencana. Penguatan fasilitas kesehatan yang tahan bencana, peningkatan kapasitas tenaga medis, serta perencanaan kontinjensi yang matang menjadi kebutuhan mendesak. Dengan langkah-langkah tersebut, layanan kesehatan diharapkan tidak hanya mampu pulih dengan cepat pascabencana, tetapi juga tetap berfungsi secara berkelanjutan di tengah ancaman bencana yang berulang.

Kembalinya operasional layanan kesehatan pascabencana memberikan harapan bagi masyarakat terdampak untuk bangkit dan melanjutkan kehidupan secara lebih baik. Dengan dukungan semua pihak, pemulihan kesehatan masyarakat di wilayah terdampak banjir diharapkan dapat berjalan menyeluruh, berkelanjutan, dan menjadi fondasi penting dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Mitigasi Erupsi Harus Berbasis Data, Bukan Ketakutan dan Informasi Liar

Oleh : Radjiman Arif Aktivitas vulkanik kembali mengingatkan Indonesia bahwa hidup di kawasan cincin api menuntut kesiapsiagaan yang tinggi. Namun, kesiapsiagaan tidak sama dengan kepanikan. Ketika erupsi terjadi, masyarakat membutuhkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan agar setiap langkah perlindungan diri dilakukan berdasarkan kondisi nyata, bukan ketakutan yang dipicu oleh kabar yang belum terverifikasi. Situasi terkini terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan pentingnya prinsip tersebut. Erupsi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah menimbulkan dampak berupa sebaran abu vulkanik dan gangguan terhadap sejumlah aktivitas masyarakat, termasuk penerbangan. Pemerintah bersama lembaga kebencanaan dan pemerintah daerah terus melakukan pemantauan serta langkah mitigasi sesuai perkembangan kondisi di lapangan. Dalam kondisi seperti ini, arus informasi di media sosial menjadi tantangan tersendiri. Video lama dapat kembali beredar seolah-olah merupakan kejadian terbaru, sementara spekulasi mengenai potensi bencana lanjutan dapat menyebar lebih cepat dibandingkan informasi resmi. Padahal, informasi yang keliru dapat memicu kepanikan, mengganggu aktivitas masyarakat, bahkan mendorong munculnya tindakan yang justru membahayakan keselamatan. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menekankan bahwa masyarakat perlu tetap tenang dan mengikuti perkembangan berdasarkan data resmi. Kekhawatiran terhadap potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau memang menjadi perhatian pemerintah, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung. Namun, setiap penilaian risiko harus didasarkan pada hasil pemantauan dan analisis lembaga yang memiliki kewenangan. Berton menjelaskan bahwa pemerintah terus memantau aktivitas gunung api melalui koordinasi BNPB, PVMBG, BPBD, dan unsur terkait. Berdasarkan evaluasi kondisi terkini, masyarakat diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama mengenai isu ancaman tsunami. Pemerintah tetap meningkatkan kesiapsiagaan dengan memastikan jalur evakuasi, sarana komunikasi, titik kumpul, serta langkah perlindungan masyarakat dapat digunakan apabila terjadi perubahan kondisi. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa mitigasi bencana yang baik harus berjalan dalam dua arah: pemerintah wajib memberikan informasi secara cepat dan terbuka, sementara masyarakat perlu memiliki disiplin untuk mengakses sumber resmi. Kewaspadaan harus tetap tinggi, tetapi tidak boleh berubah menjadi ketakutan tanpa dasar. Data menjadi pembeda antara kesiapsiagaan yang rasional dan kepanikan yang tidak produktif. Pelajaran serupa terlihat dalam penanganan informasi mengenai aktivitas Gunung Semeru. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, sebelumnya mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap video erupsi yang beredar di media sosial. Setelah dilakukan penelusuran, video tersebut dipastikan tidak sesuai dengan kondisi terkini berdasarkan data pemantauan resmi aktivitas Gunung Semeru. Menurut Isnugroho, penyebaran informasi kebencanaan yang tidak terverifikasi berpotensi menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Karena itu, publik perlu membiasakan diri melakukan pengecekan sebelum membagikan konten. Dalam situasi bencana, satu video yang salah konteks dapat menciptakan persepsi bahwa ancaman sedang berlangsung, padahal kondisi sebenarnya mungkin telah berubah atau tidak sesuai dengan narasi yang beredar. Kasus tersebut menjadi bukti bahwa mitigasi modern tidak hanya berkaitan dengan pemantauan gunung api dan kesiapan evakuasi. Mitigasi juga menyangkut pengelolaan informasi. Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam melakukan klarifikasi secara cepat agar informasi keliru tidak berkembang menjadi kepanikan yang lebih luas. Tantangan komunikasi kebencanaan juga terlihat di Jakarta setelah adanya informasi mengenai kemungkinan paparan abu vulkanik. Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan. Ia menekankan pentingnya mengikuti informasi dari lembaga resmi dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum melalui proses verifikasi. Menurut Chico, masyarakat perlu menjadikan informasi dari BMKG, PVMBG, BPBD, dan pemerintah daerah sebagai rujukan utama. Sikap tersebut penting agar warga dapat mengambil langkah yang sesuai dengan kondisi sebenarnya, termasuk menggunakan perlindungan diri apabila diperlukan, tanpa terpengaruh oleh narasi berlebihan yang beredar di media sosial. Kehadiran pemerintah dalam menghadapi erupsi tidak hanya terlihat melalui penanganan dampak fisik, tetapi juga melalui penguatan komunikasi publik. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB, BPBD, BMKG, dan PVMBG menjadi fondasi penting untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang sama dan tidak tersesat oleh kabar liar. Indonesia membutuhkan budaya mitigasi yang berbasis data. Masyarakat harus memahami bahwa informasi resmi dapat berubah sesuai perkembangan aktivitas gunung api. Karena itu, mengikuti pembaruan secara berkala jauh lebih penting daripada mempercayai satu unggahan viral yang belum jelas sumbernya. Pada akhirnya, bencana alam memang tidak selalu dapat