Kata Papua

Makan Bergizi Gratis Dukung Pertumbuhan Ekonomi Lokal dan Kesehatan Nasional - Kata Papua

Makan Bergizi Gratis Dukung Pertumbuhan Ekonomi Lokal dan Kesehatan Nasional

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Makan Bergizi Gratis Dukung Pertumbuhan Ekonomi Lokal dan Kesehatan Nasional

JAKARTA – Pemerintah terus mendorong keterlibatan UMKM dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan kesehatan nasional.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, mengajak para pelaku usaha kecil dan menengah untuk berkontribusi melalui pola kemitraan, termasuk dalam pembentukan dapur bersama.

“Dengan skema kemitraan ini, UMKM tidak hanya berperan dalam produksi, tetapi juga mendapatkan keuntungan langsung untuk pengembangan usaha mereka,” ujar Maman.

Ia menegaskan bahwa UMKM memiliki peran strategis dalam berbagai sektor program MBG, mulai dari penyediaan bahan baku, produksi makanan siap saji, hingga distribusi. Menurutnya, keterlibatan UMKM dalam rantai pasok pangan nasional akan memperkuat posisi mereka di sektor ekonomi.

“Ini adalah peluang yang perlu dimaksimalkan sebaik mungkin,” tambahnya.

Pemerintah, lanjut Maman, telah menunjukkan komitmen nyata dalam memberdayakan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi rakyat. Ia optimistis bahwa dengan kolaborasi yang terintegrasi, UMKM di sektor pangan akan terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional.

“Program MBG juga terus mendapatkan masukan dari berbagai pihak, terutama terkait perlunya melibatkan UMKM daerah dalam pelaksanaannya,” ujarnya.

Badan Gizi Nasional telah menyiapkan berbagai skema dalam implementasi program ini, termasuk melalui uji coba yang melibatkan UMKM di berbagai daerah. Maman mencontohkan bahwa kebutuhan bahan pokok seperti beras, sayur, dan daging akan didorong untuk dipasok oleh UMKM lokal.

“Kami telah mengkomunikasikan ini kepada kepala daerah agar UMKM di daerah dapat terlibat dalam pemenuhan kebutuhan dapur program MBG,” ujarnya.

Senada dengan itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Rina Sa’adah, menilai bahwa dapur dalam program MBG perlu menggandeng UMKM pangan sebagai pemasok bahan pokok.

Menurutnya, hal ini akan memastikan pasokan bahan yang segar dan berkualitas bagi penerima manfaat, seperti anak sekolah, balita, dan ibu hamil.

“Dengan melibatkan UMKM pangan lokal, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bisa beroperasi dengan lebih efektif,” ujar Rina.

Pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 dapur SPPG di berbagai daerah pada 2025. Keberadaan dapur ini akan meningkatkan permintaan komoditas pangan lokal dan mendorong roda perekonomian daerah. Selain itu, kerja sama ini dapat mengatasi permasalahan biaya transportasi yang tinggi bagi petani dan produsen pangan.

“Program MBG dapat menjadi peluang bagi UMKM untuk tumbuh. Presiden Prabowo menekankan bahwa kebutuhan utama dalam program ini harus dipenuhi dari dalam negeri dan melarang impor,” lanjut Rina.

***

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.