Lompat ke konten utama

Kata Papua

Masyarakat Aktif Dilibatkan Dalam Pembangunan Fasilitas Ekowisata Pulau Padar - Kata Papua

Masyarakat Aktif Dilibatkan Dalam Pembangunan Fasilitas Ekowisata Pulau Padar

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

JAKARTA – Rencana pembangunan fasilitas ekowisata di Pulau Padar, Taman Nasional Komodo (TNK), tengah menjadi sorotan publik. Di tengah kekhawatiran akan dampak lingkungan, pemerintah menegaskan bahwa konservasi tetap menjadi prioritas, dengan tata kelola yang ketat, teknologi pengawasan, dan pelibatan aktif masyarakat setempat.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan setiap pemanfaatan Pulau Padar harus tunduk pada prinsip kehati-hatian ekologis. Pembangunan, jika dilakukan, hanya dimungkinkan di zona pemanfaatan terbatas, dengan kuota pengunjung sesuai daya dukung. Infrastruktur yang diizinkan akan bersifat non-permanen dan dapat dipindahkan agar tidak merusak ekosistem.

“Pulau Padar akan aman karena prosesnya melalui kajian dampak lingkungan mendalam, termasuk pelibatan UNESCO,” ujarnya.

PT Komodo Wildlife Ecotourism (KWE), pemegang izin pemanfaatan sejak 2014, kini berada dalam proses Environmental Impact Assessment (EIA) yang melibatkan pemerintah daerah, pelaku pariwisata, LSM, dan warga lokal. Dalam forum konsultasi publik di Labuan Bajo, sejumlah pihak menyoroti pentingnya kontribusi nyata bagi Kabupaten Manggarai Barat.

Pengurus Badan Peduli Taman Nasional Komodo (BPTNK), P. Marsel Agot dan Ludgerius Minus, menilai pengelolaan sebagian Pulau Padar belum memberi dampak signifikan bagi daerah. Mereka mendesak adanya skema bagi hasil yang lebih adil melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) maupun kontribusi langsung ke masyarakat.

“Manggarai Barat berhak mendapat porsi lebih besar karena TNK memberikan pendapatan terbesar dibanding taman nasional lain,” tegas Pater Marsel.

Merespons hal ini, Kepala Subdirektorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam, Dr. Johan Setiawan, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan regulasi baru yang memberi ruang lebih besar bagi kontribusi langsung ke daerah.

Dari sisi teknis, Peneliti BRIN Destika Cahyana menekankan dua hal penting: status lahan harus sesuai aturan, dan pelibatan formal masyarakat harus menjadi syarat. Ia mendorong pembentukan wadah seperti koperasi atau BUMDes agar warga menjadi mitra strategis, bukan sekadar penonton. Proporsi ruang hijau terhadap bangunan juga harus dijaga untuk mencegah erosi dan menjaga kualitas laut.

Pemerintah menegaskan, model ekowisata di Pulau Padar akan mengedepankan benefit-sharing, yaitu pembagian manfaat yang adil antara pengelola dan masyarakat. Skema yang dirancang mencakup kemitraan formal dengan koperasi desa, kuota keterlibatan pemandu lokal, dan penggunaan layanan logistik dari penyedia setempat.

Dengan kerangka kebijakan ini, konservasi tetap menjadi tujuan utama, ekowisata menjadi alat, masyarakat menjadi subjek, dan ilmu pengetahuan menjadi kompas. Melalui pengawasan ketat, keterlibatan aktif warga, dan indikator keberhasilan yang mengukur aspek ekologis sekaligus sosial-ekonomi, pemerintah optimistis Pulau Padar dapat dikelola secara berkelanjutan.

Antoni menambahkan warisan dunia seperti Komodo dan lanskap Pulau Padar, harus dijaga dengan kewaspadaan cerdas—bukan ketakutan total.

“Menjaga bukan berarti mengurung, tetapi mengajari manusia hidup selaras dalam batas-batas ekologisnya,” pungkasnya.

(*/rls)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata