Lompat ke konten utama

Kata Papua

Masyarakat Papua Menolak Separatis dan Mendukung Otsus - Kata Papua

Masyarakat Papua Menolak Separatis dan Mendukung Otsus

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Warga Papua 100% mendukung Otsus karena mereka merasa daerahnya makin maju pasca diberlakukannya program ini, sejak tahun 2001. Otsus dinilai berhasil membuat wajah Papua berubah jadi makin modern.

Karena telah dibangun banyak infrastruktur dan fasilitas umum yang sudah dimanfatkan oleh rakyat Papua. Mereka juga menolak OPM dan tidak mau mendirikan Republik Federal Papua Barat.

Papua adalah wilayah timur Indonesia yang memiliki banyak potensi. Mulai dari fisik rakyatnya yang kuat, sampai hasil bumi yang kaya. Masyarakat di Papua hidup dengan damai, kecuali ketika ada serangan dari kelompok separatis. Mereka ingin mengajak warga untuk memberontak dan mengkampanyekan Papua merdeka.

Padahal warga Papua tidak suka jika dipaksa untuk bergabung dengan OPM. Sejumlah warga di Wamena melakukan aksi protes dengan membakar bendera bintang kejora (bendera kebangsaan OPM). Hal itu mereka lakukan sebagai bentuk setia kepada NKRI dan menolak jika diajak membentuk Republik Federal Papua Barat.

Aksi protes warga sipil Papua ini merupakan wujud kebencian mereka terhadap OPM. Pasalnya, kelompok separatis ini selalu memaksa masyarakat untuk mengibarkan bendera bintang kejora pada tanggal 1 desember, saat ulang tahun OPM. Padahal warga tidak ada yang mau melakukannya, karena lebih memilih mengibarkan bendera merah putih di depan rumahnya.

Masyarakat tidak mau bergabung dengan OPM walau mereka menakut-nakuti dengan senjata KKB (kelompok kriminal bersenjata), karena sudah nyaman menjadi WNI. OPM tak akan pernah tahu, saat ini warga dimanjakan oleh pemerintah berkat program Otsus. Setelah ada Otsus, ada berbagai kemajuan di Papua, sehingga daerah ini makin modern dan rakyatnya makmur.

Bagi OPM, pemerintah pusat adalah penjajah, oleh karena itu mereka menentang Otsus. Seperti pada beberapa saat lalu, ketika Jalan Trans Papua masih dalam tahap pembangunan, ada gangguan dari sejumlah anggota OPM.

Setelah kejadian itu, maka pengamanan pekerja makin ditingkatkan, dan bekerja sama dengan aparat. OPM juga tak paham bahwa masyarakat lebih memilih pemerintah pusat dan mendukung Otsus.

Pada akhir februari 2021, sejumlah warga dari perwakilan wilayah adat Tabi dan Seireri menggelar aksi damai di depan sebuah hotel.

Karena di dalam hotel ada anggota majlis rakyat Papua (MRP) yang sedang rapat. Mereka menyatakan dukungannya terhadap otonomi khusus, yang akan dilanjutkan tahun ini.
Ondofolo Baskuliboi, ketua aksi ini, menyatakan bahwa MRP harus mendengarkan suara rakyat dan harus tetap melaksanakan Otsus jilid 2.

Mereka tidak boleh memutuskan sendiri. Dalam artian, walau MRP adalah perwakilan rakyat Papua, tetapi mereka harus tetap meminta saran dan pendapat dari rakyat.

Masyarakat ngotot minta Otsus dilanjutkan karena sudah mendapatkan banyak manfaat dari program ini. Para mama (sebutan untuk ibu-ibu di Papua) di wilayah Abepura telah mendapatkan bantuan pinjaman modal, sehingga bisa berjualan sayuran dan hasil bumi lain di pasar. Anak-anak juga mendapat beasiswa, sehingga bisa sekolah sampai SMA, bahkan kuliah (bagi yang berprestasi).

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata