Lompat ke konten utama

Kata Papua

Mendukung Peran Aktif Pemda Dalam Penindakan KST Papua - Kata Papua

Mendukung Peran Aktif Pemda Dalam Penindakan KST Papua

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Charles Tabuni

Seluruh pihak harus bisa saling mendukung peran masing-masing serta saling menguatkan dalam rangka melakukan penindakan pada KST Papua, termasuk juga pihak Pemerintah Daerah (Pemda) setempat. Semua upaya tersebut demi bisa mengembalikan kedamaian di Bumi Cenderawasih.

Pada hari Jumat, tanggal 12 Mei 2023 lalu, diketahui bahwa kelompok separatis dan teroris (KST) Papua telah melakukan penyerangan kepada 6 (enam) pekerja proyek Base Transceiver Station (BTS) dari PT Inti Bangun Sejahtera (IBS) di Okibab. Ternyata bukan hanya melakukan penyerangan saja, namun aksi keji kembali mereka lanjutkan dengan melakukan penyanderaan terhadap 4 (empat) orang dari seluruh korban.

Mengenai kejadian itu, Danrem 172/PWY, Brigjen Juinta Omboh Sembiring menjelaskan bahwa pada awalnya, para rombongan pekerja itu terbang dari Apron Baru Bandar Udara (Bandara) Oksibil untuk menuju ke Bandara Okibab pada pukul 08:35 Waktu Indonesia bagian Timur (WIT) dengan menggunakan pesawat Elang Nusantara Air PK-ELM.

Seluruh rombongan pekerja BTS yang melakukan penerbangan tersebut dipimpin oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Alferus Sanuari. Rombongan keenam orang tersebut terdiri dari sebanyak 3 (tiga) orang karyawan dari PT IBS, bernama Benjamin Sembiring, Asmar dan Feryan Erlangga. Kemudian satu diantaranya adalah merupakan staf dari Distrik Kibab bernama Paes Kulka dan satu lagi merupakan seorang pemuda dari Distrik Borme.

Saat seluruh rombongan telah tiba di Bandara Okibab, secara tiba-tiba mereka dihampiri oleh sebanyak 5 (lima) orang dari anggota Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua. kemudian, rombongan diminta untuk berdiri dan lalu sempat ditelanjangi oleh gerombolan tersebut.

Selanjutnya, pada pukul 09:00 WIT, gerombolan anggota KST Papua yang berjumlah 5 (lima) orang lengkap dengan persenjataan tadi memerintahkan kepada 6 (enam) orang rombongan untuk berdiri sejajar serta merampas seluruh barang dari korban, yang mana diantaranya adalah handphone, dompet dan juga alat survei.
Tidak hanya sampai di sana, gerombolan kelompok separatis dan teroris di Papua itu melakukan penyerangan kepada 3 (tiga) orang karyawan dari PT IBS. Mereka melakukan pembacokan kepada Benjamin, Asmar dan juga Feryan.
Terbaru, KST Papua pada akhirnya melepaskan sebanyak 4 (empat) pekerja tower BTS dari PT IBS tersebut yang sempat mereka sandera di Okibab, Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan. Mereka dilepaskan dalam kondisi ketiga korban sempat menderita luka bacok dan kini sudah berhasil dirawat serta dikatakab bahwa ketiga korban itu tidak mengalami pendarahan.
Terkait dengan adanya kejadian penyerangan, perampasan, penyanderaan serta pembacokan yang dilakukan oleh gerombolan kelompok sepraratis dan teroris Papua ini, kemudian Kepala Polisi Daerah (Kapolda) Papua, Irjen Mathius D. Fakhiri terus berharap, mendorong serta mendukung agar Kepala Distrik selaku Pemerintah Daerah (Pemda) setempat bisa terus turut aktif dalam upaya penindakan KST Papua.
Dirinya juga mendorong agar Kepala Distrik setempat bisa menjalin komunikasi dengan para pelaku dan juga bisa bertemu dengan salah satu pegawai yang sempat menjadi korban, yang mana adalah merupakan orang asli Papua (OAP).
Peranan Pemerintah Daerah di sini memang merupakan hal yang sangat dibutuhkan dan sangat penting, Karena dengan keberhasilan komunikasi yang dijalin, maka nanti akan ada berbagai informasi yang diperoleh. Kemudian dari bekal informasi tersebut, maka nantinya akan bisa menjadi bahan bagi para aparat keamanan dari personel gabungan yang terdiri dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Badan Intelijen Negara (BIN).
Tentunya dengan berbekal informasi yang didapatkan dari pihak Pemda setempat, maka aparat keamanan pun akan bisa mengambil berbagai macam langkah penyelamatan terhadap 3 (tiga) korban termasuk masyarakat orang asli Papua (OAP) yang sempat menghindar dari kejadian kekerasan tersebut.
Karena dengan adanya informasi yang cukup dan memadai, maka nantinya aparat keamanan pun akan mampu bertindak dengan sangat tepat dan efektif untuk menegakkan hukum dan juga keadilan dengan sangat tegas untuk membasmi dan menumpas gerombolan kelompok separatis dan teroris yang selama ini terus saja mengancam keamanan dan keselamatan masyarakat, khususnya di Bumi Cenderawasih sendiri.
Dengan itu, maka upaya untuk bisa melakukan penyelamatan para korban, termasuk juga upaya untuk menindak KST Papua akan bisa dilakukan dengan jauh lebih maksimal. Tidak hanya itu, namun para aparat keamanan akan juga bisa menerapkan berbagai macam strategi dalam rangka preventif agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Maka dari itu, penindakan KST Papua memang harus bisa dilakukan dengan sesegera mungkin dan juga bisa dijalankan dengan serangkaian langkah strategis yang tepat karena demi bisa mengembalikan kedamaian di Bumi Cenderawasih. Seluruh pihak harus mampu terus saling menguatkan dan mendukung satu sama lain, termasuk juga dari Pemerintah Daerah (Pemda) setempat untuk berperan aktif dalam penindakan gerombolan ini.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata