Lompat ke konten utama

Kata Papua

Mesin Modern Dipersiapkan untuk Percepat Pemenuhan Stabilitas Pangan Papua - Kata Papua

Mesin Modern Dipersiapkan untuk Percepat Pemenuhan Stabilitas Pangan Papua

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Moses Waker

Adanya mesin penggiling beras yang modern dan canggih telah dipersiapkan oleh Pemerintah RI. Hal tersebut dalam rangka untuk terus mewujudkan pemerataan pembangunan nasional yang berparadigma Indonesiasentris dan juga sekaligus mempercepat pemenuhan ketahanan pangan atau stabilitas pangan di Papua.

Pemerintah Republik Indonesia (RI) melalui Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Wilayah (Kanwil) Papua dan Papua Barat menjelaskan bahwa terdapat lahan dengan luas 4 (empat) hektare dan telah dibangun gudang dengan kapasitas hingga sebesar 20.000 (ribu) ton, yang diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan berupa beras di Bumi Cenderawasih.

Bukan hanya sekedar adanya pembangunan gudang yang berkapasitas sangat luar biasa tersebut saja, namun juga telah dipersiapkan pula adanya mesin penggiling modern sehingga nantinya bisa terus dengan cepat mampu memenuhi kebutuhan beras masyarakat.

Pasalnya, pihak Pemerintah Daerah (Pemda) setempat sendiri telah memiliki rancangan anggaran sejak tahun 2018 dan tentunya hal tersebut sangat didorong agar bisa dipergunakan pada tahun 2023 ini untuk pembangunan gudang dan juga pengadaan mesin penggiling beras yang modern dan canggih.
Upaya untuk terus menggencarkan adanya pemenuhan stabilitas pangan di Bumi Cenderawasih memang sedang digalakkan oleh Pemerintah RI.

Beberapa waktu lalu, hal tersebut dilaksanakan dengan menggandeng Satgas Yonif 143/TWE dan juga mengajak seluruh pemuda orang asli Papua (OAP) agar mereka bisa memanfaatkan lahan kosong yang tersedia untuk menjadi lumbung pangan di berbagai wilayah sekaligus, yakni di Kampung Umuaf, Distrik Web, Kabupaten Keerom, Papua.
Segala upaya tersebut dilakukan oleh Pemerintah RI dengan mengajak banyak sekali stakeholder bisa terlibat, tentunya dalam rangka untuk terus mewujudkan ketahanan pangan di tengah masyarakat Bumi Cenderawasih.
Mengenai hal itu, Dankipur II, Lettu Inf Supriyono menjelaskan bahwa dalam rangka sebagai wujud dari bentuk kepedulian Satgas, mereka terus mengajak kepada para pemuda setempat agar tidak diam saja apabila mengetahui terdapat lahan yang kosong. Sehingga para pemuda tersebut diajak bersama-sama untuk bisa melakukan pemanfaatan pada lahan kosong sebagai lumbung untuk warga.
Dengan adanya pemanfaatan lahan kosong yang dijadikan sebagai lumbung pangan tersebut, maka tentunya akan mampu menciptakan ketahanan pangan, dan juga di samping itu mampu untuk membantu meningkatkan perekonomian serta kesejahteraan warga kampung di Papua.
Sehingga bukan hanya sekedar menggalakkan pembangunan gudang dengan menyediakan mesin penggiling besar yang modern dan canggih saja, namun juga upaya untuk pembangunan Papua, khususnya dalam rangka menjaga stabilitas pangan dilakukan dengan banyak strategi.
Adanya upaya untuk terus menciptakan ketahanan dan stabilitas pangan, salah satunya dengan pemanfaatan lahan kosong untuk dijadikan lumbung tersebut secara langsung dipimpin oleh Danpos Ubrub Satgas Yonif 143/TWEJ, Sertu Afnan yang mengajak peran aktif dan secara bersama-sama dengan para pemuda kampung setempat.
Diketahui bahwa pembukaan lahan kosong tersebut digunakan untuk menanam singkok sebagai persediaan makanan bagi masyarakat di Kampung Umuaf. Lettu Inf Supriyono menjelaskan bahwa pihaknya terus memberikan bantuan kepada para pemuda kampung dan mengajak mereka berkebun singkong sebagai lumbung pangan warga.
Diketahui pula bahwa tanaman jenis singkong sengaja dipilih karena tanaman tersebut dikatakan sebagai salah satu tanaman yang sangat mudah dalam perawatannya. Bukan hanya karena mudah dirawat, namun juga umbi dari tanaman singkong sendiri dapat dibuat dan dimanfaatkan atau dilah kembali menjadi berbagai macam jenis makanan, yang tentunya akan sangat berguna untuk pemenuhan pangan dan juga mampu turut serta meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan warga.
Sementara itu, salah satu perwakilan dari pemuda di Kampung Umuad, Maryinus Debem mengucapkan terima kasihnya atas perhatian dan juga kepedulian dari Pemerintah RI, melalui peranan dari banyak pihak pula, mulai dari Bulog hingga pengerahan Satgas yang bisa memberikan contoh secara langsung akan cara memanfaatkan lahan kosong untuk dijadikan tanaman pangan.
Banyak pihak kemudian berharap agar dengan adanya pembangunan atau upaya untuk bisa menciptakan stabilitas dan ketahanan pangan di Papua, maka akan dapat tercipta ketahanan pangan yang baik di seluruh wilayah di Bumi Cenderawasih.
Di sisi lain, memang adanya pembangunan pertanian merupakan bagian dari langkah pembangunan nasional yang terus digencarkan oleh pemerintah pada era kepemimpinan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi). Hal tersebut juga merupakan salah satu dari upaya penciptaan pemerataan pembangunan, sehingga pembangunan masif bukan hanya berada di Pulau Jawa saja, melainkan mampu menjangkau seluruh pelosok Nusantara hingga ke tanah Papua.
Demi bisa melakukan percepatan pembangunan nasional yang sudah tidak berparadigma Jawasentris lagi, melainkan menjadi paradigma Indonesiasentris, maka pemenuhan stabilitas pangan di Tanah Papua merupakan salah satu kunci pentingnya. Dalam rangka menciptakan ketahanan pangan di Bumi Cenderawasih, banyak langkah telah dilakukan, termasuk memanfaatkan lahan kosong untuk pembangunan gudang beras dengan pengadaan alat atau mesin penggiling yang modern dan canggih, termasuk juga pemanfaatan lahan kosong untuk dijadikan lumbung pangan dengan menanam singkong.

)* Penulis adalah Mahasiswa Papua tinggal di Makassar

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata