Lompat ke konten utama

Kata Papua

Mengutuk Aksi KST Papua Menebar Teror Kepada Masyarakat Sipil - Kata Papua

Mengutuk Aksi KST Papua Menebar Teror Kepada Masyarakat Sipil

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Yowar Matulessy

Seorang kru Helikopter pembawa bahan makanan bernama Salman Wahid mendapat perlakukan tidak menyenangkan, yakni diserang oleh orang tidak dikenal (OTK) yang dicurigai merupakan bagian dari KST, dikarenakan hanya KST sebagai kelompok yang senang melakukan penyerangan secara brutal. Apapun motif dari OTK dalam melakukan penyerangan tersebut tentunya tidaklah dibenarkan.

Peristiwa tersebut telah dibenarkan oleh Irjen Pol Mathius Fakhiri selaku Kapolda Papua, dirinya mengatakan bahwa seorang kru helikopter pengangkut bahan makanan mendapatkan serangan dari OTK di Oksibil, Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan.

Kru helikopter tersebut mendapatkan serangan sesaat setibanya di lokasi tambang emas lokal mining 88 Oksibil.
Salman Wahid menceritakan bahwa dirinya akan mengangkut bahan makanan dari Tanah Merah, Kabupaten Boven Digul, Papua Selatan. Tiba-tiba datang empat OTK di mana salah satunya dari mereka menanyakan secara kasar, mengapa barang baru datang, sambil menyerang korban hingga mengalami luka di kepala dan punggung belakang akibat benda tumpul.

Korban kemudian lari di sekitar landasan pacu mining 88 namun tetap dikejar oleh OTK yang ingin kembali melakukan penganiayaan. Sedangkan saksi dari aksi intimidatif tersebut adalah pilot helikopter Andre Kristian yang sempat ditodong senapan angin saat masih berada di dalam helikopter dan saat korban berhasil naik dan menutup pintu heli, salah satu OTK melempar jendela hingga pecah dan membacok jendela depan menggunakan sebilah parang sampai pecah.

Setelah korban berada di dalam helikopter, Pilot helikopter tersebut langsung menerbangkannya dan kembali ke Tanah Merah. Selanjutnya korban dibawa ke RSUD untuk mendapatkan penanganan medis.
Pada kesempatan berbeda, KST kembali membuat ulah, di mana post TNI satgas Pamtas Mobile Yonif Para Rider 330/TD di Titigi Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah dilaporkan mendapatkan serangan dari KST. Aksi penyerangan tersebut memicu kontak tembak antara aparat TNI dengan KST.
Akibat serangan tersebut, dua prajurit yakni Prada B dan Pratu BAM, personel Yonif PR 330/TD dikabarkan mengalami luka tembak. Prada B mengalami luka tembak di bagian pinggang dan sudah dievakuasi dari Intan Jawa menuju RSUD Mimika guna mendapatkan penanganan medis.
Aksi penyerangan KST di Pos TNI tersebut terjadi pukul 11.45 WIT. Selain dua prajurit yang terluka, seorang personel dari Satgas Elang Tindak Pasopati, Sertu RS juga terkena tembakan. Tercatt dirinya tertembak saat proses evakuasi prajurit, tembakan terhadap Sertu RS diketahui menganai body vest (rompi tubuh) dan masih dalam kondisi sadar.
Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan KST harus mendapatkan perhatian khusus, apalagi KST diduga melakukan provokasi kepada anak muda di Papua untuk melakukan perlawanan, baik terhadap TNI maupun Polri. Provokasi inilah yang membuat KST mendapatkan tenaga baru untuk melakukan perlawanan serta membuat kerusuhan.
Aksi brutal KST tentu tidak dapat dibiarkan karena selain mengancam kedamaian masyarakat, gerombolan tersebut juga secara terang-terangan mengancam kedaulatan negara. Berbagai aksi KST ini semakin menambah geram masyarakat Papua mengingat KST saat ini masih menyandera Pilot Susi Air, pilot Susi Air, Philip Mark Mehrtens.
Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Kolonel Kav Herman Taryaman mengatakan, saat ini terkuak sudah bahwa KST tidak hanya menggunakan warga, perempuan maupun anak-anak untuk dijadikan tameng, tetapi juga mengajak para pelajar SMP/SMA untuk menyerang prajurit TNI yang sedang bertugas. Provokasi tidak hanya dilakukan melalui media sosial, tetapi KST juga mendatangi langsung para pelar SMP/SMA untuk menyerang aparat yang sedang bertugas.
Menurut Herman, tentu saja hal tersebut sangat disesalkan sehingga tidak salah apabila warga yang berada di Kabupaten Nduga maupun Intan Jaya dan daerah lainnya mulai melakukan perlawanan kepada gerombolan tersebut. Pasalnya keluarga ataupun anak-anaknya menjadi tumbal aksi KST.
Ia menjelaskan bahwa daerah yang dikuasai oleh KST sangat sulit dijangkau, bahkan oleh pemerintah daerah, terutama di tingkat distrik yang menjadi basis kelompok tersebut. Dia menyebutkan bahwa jika dilihat peran kepala distrik maupun kepala kampung di lokasi tertentu cenderung tidak berjalan.
Sebelum Pilot Susi Air Philip Mark disandera, KST juga mengganggu proses pembangunan puskesmas serta membakar sekolah dengan alasan, agar masyarakat tidak menjadi pintar, karena ketika menjadi pintar maka mereka tidak bisa dipengaruhi untuk ikut memberontak dengan tujuan separatis.
KST memang sangat licik, mereka mengintimidasi warga dan melarang anak-anak untuk bersekolah, bahkan dipaksa untuk bergabung dengan gerombolan KST. Aksi yang dilakukan KST memang tidak bisa dibenarkan, mereka juga melakukan aksi yang merugikan masyarakat Papua dan tidak jarang mereka membuat suasana di Papua menjadi tidak aman, seperti melakukan pengrusakan atau pembakaran.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Manado

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata