Lompat ke konten utama

Kata Papua

OPM Musuh Bersama Masyarakat Papua - Kata Papua

OPM Musuh Bersama Masyarakat Papua

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh: Amos Kainama Yanuar

Pemerintah dan aparat keamanan terus berupaya untuk melindungi warga dari ancaman kelompok bersenjata seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM). Masyarakat Papua memahami bahwa OPM merupakan musuh bersama yang harus diberantas untuk mencapai kedamaian dan kemajuan pembangunan di Bumi Cendrawasih.

OPM kembali berulah menciptakan gangguan keamanan di Papua. Insiden menambah daftar panjang kekejaman yang dilakukan oleh OPM terhadap warga sipil di Papua. Pada 10 Juni 2024, telah terjadi insiden penembakan yang mengakibatkan tewasnya seorang warga sipil di Kampung Kopo, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Papua Tengah. Korban penembakan adalah Rusli, seorang supir berusia 40 tahun yang tinggal di Madi, Kabupaten Paniai.

Dalam keterangannya Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Chandra Kurniawan memastikan bahwa Rusli bukan anggota TNI, sehingga klaim yang dibuat oleh OPM adalah tidak benar atau hoax. Tindakan OPM yang menyebarkan berita palsu ini bertujuan untuk memanipulasi informasi. Setelah menembak Rusli, kelompok bersenjata tersebut membakar jasad korban beserta kendaraannya, menunjukkan tindakan yang sangat tidak berperikemanusiaan.

Perbuatan ini menggambarkan betapa keji dan biadabnya aksi yang dilakukan oleh OPM, yang terus menyebabkan penderitaan dan ketakutan di kalangan masyarakat Papua. Perbuatan ini menunjukkan bahwa OPM terus menyebarkan ketakutan dan penderitaan di kalangan masyarakat Papua melalui aksi-aksi biadab dan tidak berperikemanusiaan. Tindakan brutal tersebut bukan hanya mencerminkan kekejaman kelompok bersenjata OPM, tetapi juga menyoroti betapa pentingnya kehadiran dan peran aktif aparat keamanan dalam menjaga stabilitas dan ketertiban di Papua.

Sedangkan Kasatgas Humas Damai Cartenz AKBP Bayu Suseno menyatakan bahwa jenazah Rusli telah dievakuasi ke Timika pada 12 Juni 2024 dan selanjutnya diterbangkan ke Makassar untuk dimakamkan di kampung halamannya. Aksi penembakan dan pembakaran ini dilakukan oleh kelompok bersenjata yang dipimpin oleh Undius Kogoya. Ketika melancarkan aksinya, kelompok ini terdiri dari sepuluh orang anggota KKB atau OPM.

Selain itu, Perwira Penerangan Koops Habema Letkol Arh Yogi Nugroho mengonfirmasi bahwa penyerangan dilakukan oleh Kelompok Undius Kogoya yang beroperasi di wilayah Kabupaten Intan Jaya, Paniai, dan Puncak. Insiden ini menunjukkan bahwa OPM atau KKB terus melancarkan aksi kekerasan terhadap warga sipil yang tidak bersenjata, semakin memperlihatkan sifat kejam dan biadab dari kelompok tersebut. Letkol Arh Yogi Nugroho juga menjelaskan bahwa aparat keamanan gabungan langsung merespons insiden ini dengan cepat dan terencana.

Meskipun menghadapi gangguan tembakan dari anggota OPM, aparat keamanan gabungan bergerak cepat dan efektif menuju lokasi kejadian untuk mengevakuasi jenazah Rusli. Dengan menggunakan taktik militer yang terkoordinasi, mereka berhasil menerobos segala hambatan, termasuk jalan yang terputus dan tembakan dari kelompok bersenjata, untuk membawa jenazah korban ke RSUD Madi. Kesigapan dan koordinasi yang baik dari aparat keamanan ini menunjukkan dedikasi mereka dalam menjaga keamanan dan melindungi masyarakat Papua dari aksi kekerasan yang dilakukan oleh OPM.

Proses evakuasi tidaklah mudah karena selain menghadapi serangan dari OPM, aparat juga harus melewati jalan yang terputus. Namun, keberanian dan kesigapan mereka akhirnya membuahkan hasil dengan suksesnya evakuasi jenazah Rusli. Foto-foto dari lokasi kejadian menunjukkan aparat keamanan yang lengkap dengan rompi anti peluru dan helm, serta kendaraan taktis TNI dan Polri yang berada di sekitar mobil yang terbakar.

Kejadian ini tidak hanya memperlihatkan kekejaman OPM tetapi juga ketangguhan dan kesigapan aparat keamanan dalam menghadapi situasi darurat. Tindakan OPM yang menembak dan membakar warga sipil jelas merupakan pelanggaran hukum dan hak asasi manusia. Namun, respons cepat dari aparat keamanan dalam mengevakuasi korban patut mendapatkan apresiasi.

Rusli, warga asal Makassar, Sulawesi Selatan, meninggal dunia akibat tindakan brutal OPM. Tragedi ini kembali menegaskan bahwa OPM adalah musuh bersama bagi masyarakat Papua dan seluruh rakyat Indonesia. Insiden ini juga mengingatkan akan pentingnya kerjasama antara aparat keamanan dan masyarakat dalam menghadapi ancaman dari kelompok bersenjata yang ingin memisahkan diri dari NKRI.

Pengalaman pahit yang dialami Rusli dan keluarganya tidak boleh diabaikan. Kejadian ini harus menjadi pengingat bagi semua pihak tentang bahaya yang dihadapi masyarakat Papua setiap hari. Aksi kekerasan oleh OPM terus menciptakan situasi yang sulit di Papua, terutama bagi warga sipil yang menjadi korban tanpa alasan jelas. Eksistensi yang mereka tunjukan terbukti menciptakan ancaman bagi masyarakat sipil. Hal ini harus dihentikan agar masyarakat tidak terintimidasi oleh mereka.

Hadirnya aparat keamanan di Papua adalah sangat penting untuk menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat di wilayah tersebut, hal ini juga untuk mencegah lebih banyak lagi korban jatuh akibat aksi kekerasan yang dilakukan oleh OPM Papua. Pemerintah dan aparat keamanan harus terus berupaya untuk melindungi warga dari ancaman kelompok bersenjata seperti OPM. Pengalaman pahit yang dialami Rusli dan keluarganya tidak boleh diabaikan. Kejadian ini harus menjadi pengingat bagi semua pihak tentang bahaya yang dihadapi masyarakat Papua setiap hari.

Dalam menghadapi ancaman yang terus meningkat, upaya kolaboratif antara pemerintah, TNI, dan Polri sangat diperlukan untuk melindungi warga sipil dan memulihkan rasa aman di wilayah tersebut. Selain itu, perlu adanya pendekatan yang lebih holistik untuk menyelesaikan konflik di Papua, termasuk dialog konstruktif dan pemberdayaan masyarakat setempat, guna mengurangi dukungan terhadap kelompok-kelompok ekstremis dan menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.

Dengan demikian, insiden ini menjadi bukti nyata dari kekejaman OPM, kelompok ini telah menjadi musuh bersama masyarakat, oleh karena itu perlu ada tindakan tegas dan terukur serta dukungan masyarakat untuk menciptakan Papua yang damai, aman dan sejahtera.

)* Penulis adalah Mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

Most Popular

Categories

Related Post

Uncategorized
Mengecam Kelicikan KST Papua Jadikan Masyarakat Papua Tameng Hidup Oleh : Clara Anastasya Wompere Kelompok separatis dan teroris (KST) di Papua merupakan gerombolan kriminal dan pengacau yang sangat licik. Bagaimana tidak, pasalnya mereka dengan sangat tegas menggunakan warga yang merupakan masyarakat orang asli Papua (OAP) untuk menjadi tameng hidup pada saat terjadinya baku tembak dengan pihak aparat keamanan dari personel gabungan ketika mereka sedang terpojok. Satuan Tugas (Satgas) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Batalyon Infanteri 133 Yudha Sakti terlibat baku tembak dengan gerombolan separatis tersebut, yang mana juga termasuk ke dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kampung Ayata, Kabupaten Maybrat. Dalam baku tembak itu, sebanyak ratusan warga setempat berhasil dievakuasi oleh aparat keamanan untuk bisa menghindarkan mereka dari adanya upaya ataupun potensi akan intimidasi dari kelompok separatis. Seluruh warga telah dievakuasi ke tempat yang aman agar bisa menghindarkan mereka dari KST Papua. Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Letnan Kolonel (Letkol) Infanteri Andika Ganesha Sakti yang memimpin langsung Satgas tersebut berhasil menggagalkan upaya pengibaran bendera Bintang Kejora yang hendak dilakukan oleh kelompok separatis dan teroris dari Organisasi Papua Merdeka itu di Dusun Aimasa Lama, Kampung Ayata, Distrik Aifat Timur Tengah. Diketahui bahwa aksi pengibaran bendera Bintang Kejora tersebut dilakukan dalam rangka untuk memperingati Hari Manifesto Politik Papua Merdeka pada tanggal 1 Desember. Sempat terjadi baku tembak antara gerombolan separatis itu dengan pihak aparat keamanan dari Satgas TNI. Baku tembak tersebut terjadi saat aparat keamanan hendak berupaya untuk menggagalkan rencana pengibaran Bendera Bintang Kejora yang dilakukan oleh kelompok penentang ideologi negara itu. Mereka semua bahkan sempat sangat terdesak karena adanya tindakan tegas yang dilakukan oleh aparat keamanan. Akan tetapi, tatkala sedang terdesak, alih-alih menyerahkan diri, justru KST Papua melakukan cara licik lainnya, yakni melakukan intimidasi kepada warga setempat untuk menjadikan mereka sebagai tameng hidup pada saat baku tembak tersebut terjadi. Sontak, mengetahui adanya kelicikan yang dilakukan oleh gerombolan teroris dari Bumi Cenderawasih itu, aparat keamanan pun langsung bergerak dengan cepat dan dengan sangat hati-hati untuk melakukan penyelamatan kepada para penduduk kampung demi bisa menghindari jatuhnya korban jiwa dari masyarakat sipil. Pergerakan tempur yang dilakukan oleh pihak Satgas TNI sendiri kemudian membuahkan hasil yang sangat optimal, yakni aparat keamanan pada akhirnya berhasil memukul mundur KST Papua dan membuat mereka semua langsung melarikan diri masuk ke arah hutan dan perbukitan. Tentu saja upaya yang dilakukan oleh aparat keamanan tidak hanya berhenti sampai di situ saja, melainkan pihak Satgas TNI langsung mengerahkan sejumlah drone untuk melakukan pemantauan dari udara mengenai pergerakan yang dilakukan oleh gerombolan separatis tersebut. Dari hasil pantauan yang dilakukan melalui drone di udara, ternyata diketahui bahwa KST Papua yang melakukan penyerangan dan sempat melakukan kontak tembak dengan aparat keamanan bahkan hingga menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup itu berjumlah sekitar delapan orang yang merupakan pimpinan dari Manfred Fatem. Mereka semua juga terlihat membawa beberapa pucuk senjata api. Terkait hasil pemantauan dan juga penyelidikan yang langsung dilakukan oleh aparat keamanan setelah sempat terjadinya kontak tembak hingga membuat KST Papua terpojok dan melarikan diri itu, Letkol Infanteri Andika Ganesha Sakti kemudian menuturkan bahwa ditemukan rencana dari pihak gerombolan teroris tersebut selain melakukan pengibaran akan bendera Bintang Kejora, namun mereka juga hendak menyusun rencana untuk melakukan penyerangan kepada aparat keamanan serta melakukan aksi teror yang dapat mengganggu kenyamanan serta kedamaian dari masyarakat setempat. Meski begitu, namun untuk saat ini, situasi akan keamanan dan kondusifitas di Kampung Ayata sendiri sudah secara sepenuhnya dikuasai oleh aparat keamanan dari personel gabungan yang terdiri dari TNI dan juga Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), yang mana seluruh aparat keamanan itu jelas akan tetap terus hadir bagi masyarakat untuk bisa memberikan rasa aman kepada warga setempat di Bumi Cenderawasih. Guna bisa memastikan upaya memberikan kenyamanan dan mendatangkan keamanan bagi masyarakat setempat di Papua hingga mereka semua bisa merasa aman, aparat TNI dari Satgas Yonif 133 Yudha Sakti juga memberikan bantuan logistik berupa makanan dan juga dukungan pelayanan kesehatan yang ditujukan bagi sebanyak ratusan penduduk. Lebih lanjut, pihak pasukan aparat keamanan juga sampai saat ini masih terus berupaya untuk melakukan pemburuan kepada para pelaku dari kelompok separatis dan teroris Papua itu serta membuat parameter akan pengamanan di sekitar wilayah perkampungan agar tidak sampai disusupi lagi oleh KST pimpinan Manfred Fatem. Sebenarnya gerombolan teroris dari KST Papua tersebut sama sekali tidak berdaya, pasalnya mereka hanya bisa melancarkan aksi yang sangat licik ketika sedang terpojok dalam baku tembak melawan aparat keamanan Republik Indonesia. Mereka dengan sangat tega bahkan menggunakan warga sipil yang tidak berdosa sebagai tameng hidup. )* Penulis adalah Mahasiswa Papua Tinggal di Yogyakart
On Key

Related Posts