Lompat ke konten utama

Kata Papua

Pemerataan Pendidikan Terwujud Melalui Sekolah Rakyat di Tahun Pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran - Kata Papua

Pemerataan Pendidikan Terwujud Melalui Sekolah Rakyat di Tahun Pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh: Rivka Mayangsari

Menjelang satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, arah pembangunan nasional kian menegaskan keberpihakan pada rakyat kecil. Salah satu langkah monumental yang kini mulai menunjukkan hasil nyata adalah peluncuran program Sekolah Rakyat, sebuah inisiatif strategis yang menegaskan komitmen pemerintah untuk menghadirkan pendidikan yang inklusif, merata, dan berkeadilan bagi seluruh anak bangsa.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menilai, Sekolah Rakyat memiliki tiga kunci utama yang mencerminkan filosofi luhur pemerintah dalam membangun manusia Indonesia. Pertama, memuliakan wong cilik; kedua, menjangkau yang belum terjangkau; dan ketiga, memungkinkan yang selama ini dianggap tidak mungkin. Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan Sekolah Rakyat merupakan bagian integral dari upaya pengentasan kemiskinan, sebagaimana menjadi fokus utama dalam program strategis Presiden Prabowo.

Lebih dari sekadar lembaga pendidikan, Sekolah Rakyat diposisikan sebagai pusat pemberdayaan sosial. Saifullah menjelaskan bahwa para pendamping dan pilar-pilar sosial di lapangan diminta memahami misi besar ini: pendidikan tidak boleh berhenti pada ruang kelas, melainkan harus menjadi gerakan nasional untuk memutus rantai kemiskinan antar generasi. Untuk itu, orang tua dari siswa Sekolah Rakyat juga akan diberdayakan melalui berbagai program sosial dan pelatihan ekonomi, agar keluarga mereka dapat tumbuh menjadi rumah tangga yang mandiri dan produktif.

Menurut Saifullah, pendidikan adalah alat paling ampuh untuk mengangkat harkat rakyat kecil. Dengan pendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial, pemerintah berupaya mengembalikan fungsi sekolah sebagai ruang pembebasan, bukan sekadar tempat menimba ilmu. Ia menekankan bahwa Sekolah Rakyat adalah wujud nyata semangat gotong royong dalam membangun masa depan bangsa dari lapisan terbawah masyarakat.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, menambahkan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan langkah konkret pemerintah dalam mengubah paradigma masyarakat miskin. Menurutnya, fokus utama pemerintah saat ini adalah mengubah status penerima bantuan sosial (bansos) dari sekadar penerima menjadi masyarakat yang berdaya. Sekolah Rakyat hadir sebagai jembatan yang menghubungkan bantuan sosial dengan pemberdayaan manusia.

Agus menjelaskan, Sekolah Rakyat dirancang sebagai harapan baru bagi masyarakat miskin, miskin ekstrem, dan rentan yang tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Ekstrim Nasional (DTSEN) desil 1 hingga 4. Berbeda dari sekolah formal biasa, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan pendidikan akademik, tetapi juga menanamkan pendidikan karakter, keterampilan hidup, serta pelatihan kewirausahaan berbasis potensi lokal. Dengan sistem asrama (boarding school), siswa akan mendapatkan pembinaan menyeluruh yang mencakup pendidikan, kesehatan, dan moralitas.

Menurut Agus, Sekolah Rakyat adalah representasi visi besar Presiden Prabowo untuk membangun manusia Indonesia yang unggul dan tangguh. Ia menyebut bahwa program ini merupakan implementasi nyata dari prinsip “No one left behind” — tidak ada satu pun warga negara yang tertinggal dari hak dasarnya untuk memperoleh pendidikan berkualitas.

Selain itu, sistem yang diterapkan di Sekolah Rakyat juga menjadi bentuk reformasi sosial yang komprehensif. Setiap siswa akan diarahkan untuk menguasai keterampilan praktis seperti pertanian modern, industri kreatif, teknologi informasi, hingga vokasi digital. Dengan demikian, lulusan Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga siap menghadapi dunia kerja dan menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Kemen P2MI). Wakil Menteri P2MI, Christina Aryani, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan terobosan strategis pemerintah dalam membuka akses pendidikan yang lebih merata dan inklusif, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Ia menilai, langkah ini menunjukkan keberanian pemerintah untuk menembus batas birokrasi dan menghadirkan keadilan sosial secara nyata.

Christina menjelaskan bahwa Kemen P2MI berkomitmen memperkuat jalur pendidikan dan pelatihan tenaga kerja muda yang lahir dari Sekolah Rakyat. Para lulusan nantinya akan dibimbing agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, baik di dalam negeri maupun luar negeri, dengan prinsip aman, legal, dan bermartabat. Ia menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia adalah pondasi utama kemajuan bangsa, dan pendidikan adalah pintu menuju mobilitas sosial yang lebih baik.

Lebih jauh, Christina menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat menjadi simbol nyata perubahan paradigma pendidikan nasional. Pemerintah tidak lagi memandang pendidikan sebagai beban anggaran, tetapi sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Setiap anak Indonesia kini memiliki peluang yang sama untuk belajar, bermimpi, dan berdaya tanpa dibatasi oleh kondisi ekonomi keluarga.

Melalui Sekolah Rakyat, pemerintah menunjukkan bahwa transformasi sosial bukanlah sekadar wacana, melainkan tindakan nyata. Pendidikan dijadikan senjata utama untuk melawan kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan. Setahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi tonggak awal lahirnya sistem pendidikan yang inklusif, humanis, dan berpihak pada rakyat kecil.

Dengan sinergi lintas kementerian, dukungan para tenaga sosial, serta semangat gotong royong masyarakat, Sekolah Rakyat diyakini akan menjadi pilar penting dalam mencetak generasi unggul Indonesia. Sebagaimana ditegaskan para pengamat, inisiatif ini bukan hanya tentang sekolah, tetapi tentang masa depan masa depan di mana setiap anak Indonesia, tanpa kecuali, berhak untuk belajar, tumbuh, dan memimpin bangsanya menuju kejayaan.

*) Pemerhati Sosial

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Isu September Hitam Jangan Sampai Mengikis Solidaritas Sesama Anak Bangsa 

Oleh: Gavin Asadit Munculnya isu September Hitam 2026 perlu disikapi secara bijak agar tidak berkembang menjadi narasi yang mengikis solidaritas dan persatuan sesama anak bangsa. Refleksi terhadap berbagai catatan sejarah hak asasi manusia (HAM) tetap penting, tetapi penyikapannya perlu dilakukan dengan mengedepankan informasi yang benar, dialog, serta semangat menjaga keutuhan bangsa. Momentum September Hitam dapat menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan pemahaman mengenai sejarah, demokrasi, dan HAM. Refleksi tersebut sebaiknya tidak berhenti pada penyebaran informasi di media sosial, tetapi disertai upaya memahami konteks dan fakta secara utuh. Kepala Bakom Pemerintah Republik Indonesia Muhammad Qodari menekankan pentingnya komunikasi publik yang mampu menghadirkan informasi secara tepat kepada masyarakat. Dalam konteks ruang digital, kualitas informasi menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan dan mencegah berkembangnya narasi yang dapat memecah belah. Pesan tersebut relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Setiap isu dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial dan membentuk persepsi publik dalam waktu singkat. Karena itu, masyarakat perlu mampu membedakan informasi faktual, opini, maupun narasi yang sengaja dibuat untuk memancing emosi. Pemerintah terus mendorong peningkatan literasi digital di kalangan generasi muda. Kemampuan memeriksa informasi sebelum membagikannya merupakan salah satu bentuk tanggung jawab warga negara di era digital. Informasi palsu, provokasi, ujaran kebencian, dan narasi yang mempertajam perbedaan dapat merusak hubungan sosial apabila tidak disikapi dengan bijak. Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono mengajak masyarakat memperkuat persatuan dengan membangun komunikasi dan silaturahim. Menurutnya, interaksi yang baik antarelemen masyarakat penting agar warga tidak mudah terpengaruh maupun terprovokasi oleh berbagai isu yang berkembang. Muhamad Mardiono juga mengingatkan pentingnya memperkuat silaturahim agar masyarakat dapat menghadapi perbedaan secara lebih tenang dan dewasa. Semangat tersebut menjadi relevan dalam menyikapi berbagai informasi yang berkembang selama momentum September Hitam 2026. Isu September Hitam tidak semestinya menjadi alasan masyarakat untuk saling berhadapan. Sebaliknya, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran bahwa sejarah harus dipelajari secara objektif agar generasi berikutnya mampu mengambil pelajaran dan mencegah terulangnya berbagai persoalan kemanusiaan. Aktivis pemuda dan mahasiswa M. Fad mengajak kalangan mahasiswa dan masyarakat luas lebih bijak menyikapi informasi yang beredar dalam momentum September Hitam 2026. Ia menekankan pentingnya menjaga solidaritas, persatuan, keamanan, dan ketertiban masyarakat. Menurut M. Fad, mahasiswa memiliki posisi penting dalam menjaga kualitas diskursus publik. Sebagai kelompok yang dekat dengan tradisi intelektual dan gerakan sosial, mahasiswa diharapkan menyampaikan aspirasi berdasarkan pengetahuan dan data, bukan sekadar mengikuti arus informasi yang sedang ramai. Penyampaian aspirasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, aspirasi perlu disampaikan secara tertib dan bertanggung jawab agar tidak berubah menjadi konflik yang merugikan masyarakat. Ruang diskusi, edukasi, kajian sejarah, serta kegiatan sosial dapat menjadi sarana memperkuat solidaritas sekaligus mencegah konflik akibat kesalahpahaman informasi. Peran generasi muda semakin penting karena sebagian besar percakapan mengenai September Hitam berlangsung di ruang digital. Media sosial menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi, berdiskusi, sekaligus membentuk pandangan terhadap berbagai persoalan. Penggunaan media sosial tanpa kemampuan memilah informasi dapat menimbulkan persoalan baru. Konten yang dipotong dari konteks, judul provokatif, hingga informasi yang belum terverifikasi dapat dengan mudah menyebar dan memengaruhi persepsi masyarakat. Dalam edukasi HAM, media sosial dapat menjadi pintu awal untuk mengenali berbagai isu, tetapi informasi yang ditemukan tetap perlu diperdalam melalui sumber kredibel dan pembelajaran komprehensif. Generasi muda perlu memahami sejarah pelanggaran HAM secara utuh, bukan untuk membangun kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan sebagai pembelajaran agar nilai kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama semakin kuat. Di sisi lain, masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah maupun berbagai persoalan sosial. Kritik merupakan bagian dari demokrasi dan dapat menjadi sarana mendorong perbaikan. Namun, kritik sebaiknya tidak berubah menjadi permusuhan antarsesama warga negara. Persatuan bukan berarti masyarakat harus memiliki pandangan yang seragam. Persatuan justru terlihat ketika perbedaan dapat dikelola melalui dialog dan penghormatan terhadap satu sama lain. Perbedaan pilihan, pendapat, maupun cara melihat sejarah seharusnya tidak menghilangkan kesadaran bahwa seluruh masyarakat merupakan bagian dari bangsa yang sama. Dalam konteks September Hitam 2026, generasi muda memiliki kesempatan menunjukkan bahwa refleksi sejarah dapat dilakukan secara dewasa. Mahasiswa dan pemuda dapat menjadi penggerak diskusi yang sehat, menyebarkan informasi yang benar, serta membangun ruang publik yang edukatif. Masyarakat juga dapat berkontribusi dengan tidak langsung mempercayai setiap informasi di media sosial. Memeriksa sumber, membaca informasi secara utuh, membandingkan dengan sumber lain, dan tidak terburu-buru menyebarkan konten merupakan langkah sederhana untuk menjaga ruang digital tetap sehat. Sinergi antara mahasiswa, pemuda, pemerintah, dan masyarakat diperlukan agar penyampaian aspirasi tetap berjalan sekaligus menjaga keamanan bersama. Dengan komunikasi yang baik dan literasi informasi yang kuat, perbedaan pandangan dapat dikelola tanpa mengganggu persatuan. *) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan