Kata Papua

Pemerintah Perkuat Mitigasi PHK melalui Satgas dan Perlindungan Pekerja - Kata Papua

Pemerintah Perkuat Mitigasi PHK melalui Satgas dan Perlindungan Pekerja

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Pemerintah Perkuat Mitigasi PHK melalui Satgas dan Perlindungan Pekerja

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi terhadap potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan pada sejumlah sektor industri. Upaya tersebut dilakukan melalui pembentukan satuan tugas (satgas), penguatan perlindungan pekerja, serta koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha guna menjaga stabilitas ketenagakerjaan nasional.

 

Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, menegaskan pemerintah tidak tinggal diam menghadapi potensi PHK akibat gejolak ekonomi global, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi dunia. Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif melalui satgas yang melibatkan lintas kementerian dan lembaga.

 

“Kami melakukan mitigasi lewat satgas. Pemerintah tentu tidak ingin ada PHK besar-besaran. Karena itu kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar dunia usaha tetap berjalan dan pekerja tetap terlindungi,” ujarnya.

 

Afriansyah menambahkan bahwa pemerintah saat ini berupaya menjaga keseimbangan antara keberlangsungan industri dan perlindungan tenaga kerja. Ia optimistis kondisi ekonomi nasional masih cukup terkendali dan mampu menghadapi berbagai tekanan global melalui kebijakan yang adaptif.

 

Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan ketenagakerjaan di berbagai sektor. Menurutnya, pemerintah tidak hanya fokus menangani PHK, tetapi juga memperkuat pelatihan vokasi, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta membuka peluang kerja baru melalui berbagai program strategis nasional.

 

“Kami memahami kekhawatiran masyarakat terkait isu badai PHK. Karena itu pemerintah terus melakukan berbagai langkah mitigasi dan penguatan perlindungan pekerja,” kata Yassierli.

 

Di daerah, pemerintah juga bergerak cepat menangani dampak PHK. Kepala Disnakertrans Jawa Tengah, Ahmad Aziz, menyebut sekitar 1.600 pekerja di Jawa Tengah terdampak PHK dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah daerah terus melakukan pendampingan, memastikan hak pekerja terpenuhi, serta membuka akses pelatihan dan penempatan kerja baru.

 

Langkah pembentukan satgas mitigasi PHK, penguatan perlindungan pekerja, dan dukungan terhadap dunia usaha menjadi bukti komitmen pemerintah menjaga stabilitas ketenagakerjaan. Dengan sinergi pemerintah pusat, daerah, dan pelaku industri, optimisme terhadap kondisi ketenagakerjaan nasional tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global yang dinamis.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden 

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden         Oleh: Fajar Dwi Santoso         Taklimat Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna kembali memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang tidak hanya berfokus pada pencapaian pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan reformasi tata kelola pemerintahan. Di hadapan jajaran kabinet, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan nasional harus menyentuh persoalan mendasar masyarakat, mulai dari pemenuhan gizi anak hingga penyederhanaan birokrasi melalui digitalisasi layanan publik. Kedua agenda tersebut saling berkaitan sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih produktif, inklusif, dan berdaya saing.                           Komitmen pemerintah terhadap peningkatan kualitas generasi penerus kembali ditegaskan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden memandang program tersebut bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia unggul. Menurut Presiden, masih tingginya angka stunting dan masih adanya anak-anak yang belum memperoleh asupan makanan yang memadai menjadi alasan utama mengapa negara harus hadir secara langsung melalui program pemenuhan gizi.