Lompat ke konten utama

Kata Papua

Pemerintah Perkuat Swasembada Protein melalui Hilirisasi Ayam Terintegrasi - Kata Papua

Pemerintah Perkuat Swasembada Protein melalui Hilirisasi Ayam Terintegrasi

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat agenda swasembada protein nasional melalui pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi dari hulu hingga hilir. Program ini dirancang untuk memastikan ketersediaan daging ayam dan telur yang aman, berkelanjutan, serta merata di seluruh wilayah Indonesia, sekaligus memperkuat posisi peternak rakyat dalam rantai nilai industri perunggasan nasional.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan pemerintah mulai mengimplementasikan hilirisasi ayam terintegrasi di enam daerah strategis. Langkah ini menjadi bagian dari upaya sistematis untuk meningkatkan nilai tambah sektor peternakan sekaligus menjaga stabilitas pasokan pangan nasional.

“Pemerintah memperkuat fondasi swasembada protein nasional melalui pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi dari hulu hingga hilir di enam daerah,” kata Agung.

Menurutnya, program tersebut dirancang untuk menjamin ketersediaan suplai daging ayam dan telur yang berkelanjutan, aman, dan berpihak pada peternak rakyat. Hilirisasi ini diharapkan mampu menciptakan pemerataan produksi antarwilayah serta menekan disparitas harga.

“Hilirisasi ayam terintegrasi ini untuk memastikan swasembada protein berjalan berkelanjutan, merata, dan berpihak pada peternak rakyat,” tambahnya.

Ia menjelaskan, ekosistem hilirisasi yang dibangun mencakup penguatan pembibitan ayam dari hulu, mulai dari _Grand Parent Stock (GPS),_ _Parent Stock (PS),_ hingga _Final Stock (FS)._ Pihaknya juga mendorong pengembangan pakan berbasis bahan baku dalam negeri, peningkatan kesehatan hewan, pembangunan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU), pengolahan daging dan telur, hingga penguatan sistem logistik dan pemasaran.

“Kementan mendukung penuh program hilirisasi sebagai instrumen stabilisasi harga dan kepastian stok daging ayam serta telur,” jelasnya.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Telisa Aulia Falianty, menilai program hilirisasi peternakan ayam sebagai langkah strategis yang harus dirancang secara cermat agar berkelanjutan. Menurutnya, ayam dan telur merupakan sumber protein yang memiliki tingkat konsumsi tinggi secara nasional.

“Ayam dan telor adalah sumber protein penting dan dibutuhkan besar secara nasional. Program ini tentunya akan mendukung swasembada protein nasional,” ujar Telisa.

Sementara itu, Direktur Strategy & Sustainability PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo, Ugun Untaryo, menyampaikan pihaknya telah menyiapkan lahan poultry di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, untuk mendukung hilirisasi ayam terintegrasi. Lahan ini difokuskan pada pembangunan fasilitas _Parent Stock_ yang terdiri dari 14 kandang modern berteknologi tinggi dengan sistem _closed house._

“PTPN IV PalmCo mengambil peran vital dalam _groundbreaking_ proyek hilirisasi ayam terintegrasi yang dilaksanakan di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur beberapa waktu lalu,” ucap Ugun.

Ia menjelaskan, fasilitas ini dirancang untuk menampung hingga 140.000 ekor indukan ayam dan ditargetkan mampu memproduksi sekitar 10 juta _day old chick (DOC)_ per tahun.

“Kehadiran fasilitas ini krusial untuk memutus ketergantungan pasokan dari Pulau Jawa, sehingga harga daging ayam di luar Jawa lebih kompetitif dan inflasi daerah dapat terkendali,” pungkasnya.

Dengan penguatan hilirisasi ayam terintegrasi, Indonesia menapaki jalur yang semakin kokoh menuju swasembada protein nasional. Langkah strategis tersebut menegaskan kehadiran negara dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus mendorong pemerataan kesejahteraan secara berkelanjutan.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Isu September Hitam Jangan Sampai Mengikis Solidaritas Sesama Anak Bangsa 

Oleh: Gavin Asadit Munculnya isu September Hitam 2026 perlu disikapi secara bijak agar tidak berkembang menjadi narasi yang mengikis solidaritas dan persatuan sesama anak bangsa. Refleksi terhadap berbagai catatan sejarah hak asasi manusia (HAM) tetap penting, tetapi penyikapannya perlu dilakukan dengan mengedepankan informasi yang benar, dialog, serta semangat menjaga keutuhan bangsa. Momentum September Hitam dapat menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan pemahaman mengenai sejarah, demokrasi, dan HAM. Refleksi tersebut sebaiknya tidak berhenti pada penyebaran informasi di media sosial, tetapi disertai upaya memahami konteks dan fakta secara utuh. Kepala Bakom Pemerintah Republik Indonesia Muhammad Qodari menekankan pentingnya komunikasi publik yang mampu menghadirkan informasi secara tepat kepada masyarakat. Dalam konteks ruang digital, kualitas informasi menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan dan mencegah berkembangnya narasi yang dapat memecah belah. Pesan tersebut relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Setiap isu dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial dan membentuk persepsi publik dalam waktu singkat. Karena itu, masyarakat perlu mampu membedakan informasi faktual, opini, maupun narasi yang sengaja dibuat untuk memancing emosi. Pemerintah terus mendorong peningkatan literasi digital di kalangan generasi muda. Kemampuan memeriksa informasi sebelum membagikannya merupakan salah satu bentuk tanggung jawab warga negara di era digital. Informasi palsu, provokasi, ujaran kebencian, dan narasi yang mempertajam perbedaan dapat merusak hubungan sosial apabila tidak disikapi dengan bijak. Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono mengajak masyarakat memperkuat persatuan dengan membangun komunikasi dan silaturahim. Menurutnya, interaksi yang baik antarelemen masyarakat penting agar warga tidak mudah terpengaruh maupun terprovokasi oleh berbagai isu yang berkembang. Muhamad Mardiono juga mengingatkan pentingnya memperkuat silaturahim agar masyarakat dapat menghadapi perbedaan secara lebih tenang dan dewasa. Semangat tersebut menjadi relevan dalam menyikapi berbagai informasi yang berkembang selama momentum September Hitam 2026. Isu September Hitam tidak semestinya menjadi alasan masyarakat untuk saling berhadapan. Sebaliknya, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran bahwa sejarah harus dipelajari secara objektif agar generasi berikutnya mampu mengambil pelajaran dan mencegah terulangnya berbagai persoalan kemanusiaan. Aktivis pemuda dan mahasiswa M. Fad mengajak kalangan mahasiswa dan masyarakat luas lebih bijak menyikapi informasi yang beredar dalam momentum September Hitam 2026. Ia menekankan pentingnya menjaga solidaritas, persatuan, keamanan, dan ketertiban masyarakat. Menurut M. Fad, mahasiswa memiliki posisi penting dalam menjaga kualitas diskursus publik. Sebagai kelompok yang dekat dengan tradisi intelektual dan gerakan sosial, mahasiswa diharapkan menyampaikan aspirasi berdasarkan pengetahuan dan data, bukan sekadar mengikuti arus informasi yang sedang ramai. Penyampaian aspirasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, aspirasi perlu disampaikan secara tertib dan bertanggung jawab agar tidak berubah menjadi konflik yang merugikan masyarakat. Ruang diskusi, edukasi, kajian sejarah, serta kegiatan sosial dapat menjadi sarana memperkuat solidaritas sekaligus mencegah konflik akibat kesalahpahaman informasi. Peran generasi muda semakin penting karena sebagian besar percakapan mengenai September Hitam berlangsung di ruang digital. Media sosial menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi, berdiskusi, sekaligus membentuk pandangan terhadap berbagai persoalan. Penggunaan media sosial tanpa kemampuan memilah informasi dapat menimbulkan persoalan baru. Konten yang dipotong dari konteks, judul provokatif, hingga informasi yang belum terverifikasi dapat dengan mudah menyebar dan memengaruhi persepsi masyarakat. Dalam edukasi HAM, media sosial dapat menjadi pintu awal untuk mengenali berbagai isu, tetapi informasi yang ditemukan tetap perlu diperdalam melalui sumber kredibel dan pembelajaran komprehensif. Generasi muda perlu memahami sejarah pelanggaran HAM secara utuh, bukan untuk membangun kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan sebagai pembelajaran agar nilai kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama semakin kuat. Di sisi lain, masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah maupun berbagai persoalan sosial. Kritik merupakan bagian dari demokrasi dan dapat menjadi sarana mendorong perbaikan. Namun, kritik sebaiknya tidak berubah menjadi permusuhan antarsesama warga negara. Persatuan bukan berarti masyarakat harus memiliki pandangan yang seragam. Persatuan justru terlihat ketika perbedaan dapat dikelola melalui dialog dan penghormatan terhadap satu sama lain. Perbedaan pilihan, pendapat, maupun cara melihat sejarah seharusnya tidak menghilangkan kesadaran bahwa seluruh masyarakat merupakan bagian dari bangsa yang sama. Dalam konteks September Hitam 2026, generasi muda memiliki kesempatan menunjukkan bahwa refleksi sejarah dapat dilakukan secara dewasa. Mahasiswa dan pemuda dapat menjadi penggerak diskusi yang sehat, menyebarkan informasi yang benar, serta membangun ruang publik yang edukatif. Masyarakat juga dapat berkontribusi dengan tidak langsung mempercayai setiap informasi di media sosial. Memeriksa sumber, membaca informasi secara utuh, membandingkan dengan sumber lain, dan tidak terburu-buru menyebarkan konten merupakan langkah sederhana untuk menjaga ruang digital tetap sehat. Sinergi antara mahasiswa, pemuda, pemerintah, dan masyarakat diperlukan agar penyampaian aspirasi tetap berjalan sekaligus menjaga keamanan bersama. Dengan komunikasi yang baik dan literasi informasi yang kuat, perbedaan pandangan dapat dikelola tanpa mengganggu persatuan. *) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan