Kata Papua

Program MBG Tunjukkan Dampak Positif, Telah Dinikmati Puluhan Juta Peserta Didik - Kata Papua

Program MBG Tunjukkan Dampak Positif, Telah Dinikmati Puluhan Juta Peserta Didik

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Program MBG Tunjukkan Dampak Positif, Telah Dinikmati Puluhan Juta Peserta Didik

 

Medan – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menunjukkan dampak positif nyata karena telah dinikmati oleh puluhan juta peserta didik di berbagai daerah. Dukungan terhadap program ini kembali ditegaskan oleh Muhammadiyah dalam peresmian Tahap 3 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kampus IV Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga merupakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa dukungan terhadap MBG bukan sekadar pernyataan, melainkan telah diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan BGN pada momentum Tanwir Muhammadiyah di Kupang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurutnya, komitmen tersebut sejalan dengan prinsip Muhammadiyah dalam menyiapkan generasi yang kuat secara intelektual dan fisik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Program makan bergizi adalah ikhtiar menyiapkan kualitas manusia sejak dini, sehingga anak-anak dan masyarakat memiliki fondasi yang kuat untuk belajar, bertumbuh, dan berkontribusi,” tegasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prof. Abdul Mu’ti mengaitkan arah MBG dengan konsep Islam _bastatan fil ‘ilmi wal jism,_ yakni keunggulan ilmu dan ketangguhan raga yang berjalan beriringan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia merujuk kisah Thalut yang dinilai layak memimpin bukan karena faktor material, melainkan kekuatan fisik dan kebijaksanaan intelektual.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Tafsir-tafsir modern menyebut bahwa amanah besar menuntut daya lahir dan batin yang dipandu iman, ilmu, serta upaya pendidikan yang sistematis. Kontekstualisasi hari ini menempatkan ilmu sebagai seluruh pengetahuan yang bermanfaat, dan jism sebagai kesehatan, kebugaran, ketahanan mental, serta kecakapan hidup,” jelas Mu’ti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurutnya, kerangka tersebut menempatkan MBG tidak semata sebagai program pemenuhan gizi, melainkan sebagai pintu masuk pembentukan karakter dan penguatan kualitas sumber daya manusia. Generasi kuat membutuhkan tubuh yang sehat agar ilmu dapat berkembang dan diwujudkan dalam kerja nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prof. Abdul Mu’ti juga menyerahkan buku berjudul _Makan Bergizi Gratis Perspektif Islam dan Pendidikan_ kepada para tokoh yang hadir, sebagai bagian dari penguatan rujukan gagasan dan narasi publik mengenai pentingnya gizi serta pendidikan karakter dalam menyiapkan generasi Indonesia yang tangguh menuju Indonesia Emas 2045. #

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden 

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden         Oleh: Fajar Dwi Santoso         Taklimat Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna kembali memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang tidak hanya berfokus pada pencapaian pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan reformasi tata kelola pemerintahan. Di hadapan jajaran kabinet, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan nasional harus menyentuh persoalan mendasar masyarakat, mulai dari pemenuhan gizi anak hingga penyederhanaan birokrasi melalui digitalisasi layanan publik. Kedua agenda tersebut saling berkaitan sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih produktif, inklusif, dan berdaya saing.                           Komitmen pemerintah terhadap peningkatan kualitas generasi penerus kembali ditegaskan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden memandang program tersebut bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia unggul. Menurut Presiden, masih tingginya angka stunting dan masih adanya anak-anak yang belum memperoleh asupan makanan yang memadai menjadi alasan utama mengapa negara harus hadir secara langsung melalui program pemenuhan gizi.