Kata Papua

Skema MBG 3T Disiapkan agar Layanan Gizi Lebih Adaptif - Kata Papua

Skema MBG 3T Disiapkan agar Layanan Gizi Lebih Adaptif

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Skema MBG 3T Disiapkan agar Layanan Gizi Lebih Adaptif

Jakarta — Pemerintah terus memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyiapkan skema khusus bagi wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Langkah ini dilakukan agar layanan pemenuhan gizi dapat menjangkau masyarakat di daerah dengan karakteristik geografis yang berbeda, sekaligus memastikan kelompok rentan memperoleh akses gizi yang lebih merata.

 

 

 

 

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Muhammad Qodari mengatakan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menyiapkan skema khusus pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

 

 

 

 

“Langkah ini dilakukan agar layanan pemenuhan gizi dapat menjangkau masyarakat di daerah yang memiliki karakteristik geografis dan kepadatan penduduk berbeda dengan wilayah perkotaan. Jadi, memang skema tersendiri,” ujar Qodari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia mengatakan kebijakan tersebut sejalan dengan upaya pemfokusan ulang (refocusing) program MBG yang kini diprioritaskan bagi kelompok ibu menyusui, ibu hamil, dan balita (3B), serta masyarakat di wilayah 3T.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelaksanaan MBG di wilayah 3T akan mengedepankan pendekatan yang lebih adaptif melalui pemanfaatan pangan lokal, penyederhanaan rantai distribusi, serta penyesuaian mekanisme operasional sesuai kondisi daerah. Langkah ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan pasokan sekaligus memberdayakan petani, nelayan, peternak, dan pelaku usaha pangan lokal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sejalan dengan penguatan layanan tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang menetapkan empat prioritas utama dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari penataan ulang penerima manfaat, moratorium pembangunan dapur baru, peningkatan kualitas layanan, hingga penguatan program di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya BGN memastikan program MBG berjalan lebih efektif, tepat sasaran, serta mampu menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Prioritas pertama adalah melakukan refocusing penerima manfaat MBG. Langkah ini dilakukan agar program lebih terarah kepada kelompok rentan dan wilayah yang masih menghadapi tantangan pemenuhan gizi. Dengan penataan ulang sasaran penerima, manfaat program diharapkan dapat dirasakan secara lebih optimal.” kata Nanik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemerintah juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan agar penyediaan, pengolahan, hingga distribusi makanan bergizi berjalan efektif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Melalui skema yang lebih adaptif dan evaluasi berkala, Program MBG diharapkan mampu memperluas pemerataan layanan gizi sekaligus memastikan masyarakat di wilayah 3T memperoleh manfaat secara optimal.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

CKG, TBC, dan Pentingnya Menjangkau Kelompok Berisiko 

CKG, TBC, dan Pentingnya Menjangkau Kelompok Berisiko Oleh Ananda Rusdian Upaya membangun bangsa yang sehat tidak cukup dilakukan melalui pelayanan kesehatan yang berpusat di fasilitas kesehatan formal semata. Tetapi negara juga hadir menjangkau kelompok-kelompok yang berada dalam posisi rentan, baik karena kondisi sosial, lingkungan hidup, maupun keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Untuk itu, peluncuran Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di 532 lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di seluruh Indonesia dipandang sebagai langkah strategis sekaligus berkeadilan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa hak atas kesehatan menjangkau seluruh warga negara, termasuk warga binaan pemasyarakatan yang selama ini kerap luput dari perhatian publik.                           Program ini menegaskan bahwa pemerintah mulai menempatkan kesehatan sebagai hak dasar yang harus diakses oleh semua orang tanpa kecuali. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa arahan Presiden adalah agar program kesehatan menyasar seluruh masyarakat, termasuk ratusan ribu warga binaan di lapas dan rutan. Pernyataan itu penting karena memperlihatkan perubahan cara pandang negara bahwa warga binaan bukan sekadar objek pembinaan hukum, melainkan tetap subjek pembangunan yang berhak memperoleh perlindungan kesehatan secara layak.