Lompat ke konten utama

Kata Papua

Strategi Hilirisasi Pemerintah Dongkrak Pendapatan Negara - Kata Papua

Strategi Hilirisasi Pemerintah Dongkrak Pendapatan Negara

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

JAKARTA, Pemerintah terus mengakselerasi strategi hilirisasi sebagai upaya meningkatkan pendapatan negara dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global. Hilirisasi nikel menjadi sorotan utama karena dinilai mampu menghasilkan nilai tambah signifikan dan membuka jalan bagi pembangunan industri baterai kendaraan listrik (EV) yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Sejak diberlakukannya larangan ekspor bijih nikel pada 2014, lonjakan ekspor produk olahan nikel meningkat drastis dari sekitar US$ 1 miliar menjadi lebih dari US$ 33,64 miliar pada 2024. Capaian ini mendorong pertumbuhan industri pengolahan, menciptakan ribuan lapangan kerja, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir nikel olahan terbesar di dunia. Pemerintah kini melangkah ke fase berikutnya dengan membangun ekosistem baterai EV terintegrasi, mencakup produksi prekursor hingga perakitan kendaraan listrik.

Wakil Ketua Komite Hilirisasi Mineral dan Batubara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Djoko Widayatno menilai hilirisasi telah mencetak capaian strategis bagi perekonomian nasional.

“Ekspor nikel olahan naik dari Rp 17 triliun pada 2014 menjadi Rp 510 triliun pada 2023. Ini capaian luar biasa yang menjadi fondasi transisi ekonomi hijau,” ujar Djoko.

Djoko menekankan pentingnya mendorong hilirisasi ke arah pengembangan produk akhir seperti baterai EV.

“Nilai tambah _mixed hydroxide precipitate (MHP)_ bisa mencapai 120 kali dari bijih mentah, dan sel baterai EV bisa mencapai 642 kali lipat. Karena itu, nikel kelas satu sebaiknya difokuskan untuk baterai EV, bukan hanya stainless steel,” jelasnya.

Ia juga menyarankan penguatan tata kelola lingkungan, pelatihan SDM lokal, dan transfer teknologi agar industri ini benar-benar inklusif dan berkelanjutan.

Pada forum Jakarta Geopolitical Forum IX/2025, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyoroti ketidakpastian global yang mendorong negara-negara untuk lebih protektif terhadap kepentingan nasional. Menurutnya, hilirisasi adalah jawaban atas dinamika geopolitik dan kebutuhan transformasi energi dari fosil ke energi terbarukan.

“Pemerintah merumuskan peta jalan hilirisasi di semua sektor komoditas. Kami sudah bentuk Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Satgas Hilirisasi, serta Danantara sebagai sumber pembiayaan nasional,” kata Bahlil.

Ia menambahkan bahwa hilirisasi tak hanya soal nilai ekonomi, tetapi juga strategi geopolitik dan ketahanan energi nasional.

Sementara itu, Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Abdul Rahman Farisi, menyambut positif kebijakan hilirisasi yang dinilai membawa keadilan ekonomi bagi daerah. Ia mendorong pemerintah daerah untuk aktif memberdayakan pelaku usaha lokal dan menggunakan Dana Bagi Hasil (DBH) untuk pelatihan tenaga kerja dan penguatan UMKM.

“Presiden Prabowo dan Menteri Bahlil menunjukkan arah baru hilirisasi sebagai strategi pembangunan daerah. Ini peluang untuk menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru,” ucap Abdul.

Dia optimistis, arah pembangunan nasional kini ditopang oleh dua mesin utama: hilirisasi SDA di pedesaan dan industri modern di perkotaan.

“Indonesia bisa terbang dengan dua mesin sekaligus menuju kesejahteraan rakyat, sejalan dengan visi Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran,” tuturnya.

Dengan komitmen kuat dari pemerintah pusat dan daerah, serta dukungan lintas sektor, hilirisasi kini bukan sekadar jargon kebijakan, melainkan jalan nyata menuju transformasi ekonomi nasional yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata