Lompat ke konten utama

Kata Papua

Swasembada Pangan Jadi Modal Kemerdekaan Indonesia Hadapi Gejolak Global - Kata Papua

Swasembada Pangan Jadi Modal Kemerdekaan Indonesia Hadapi Gejolak Global

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

JAKARTA – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global dan eskalasi ketegangan geopolitik internasional, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berhasil membuktikan bahwa kedaulatan negara sejatinya bermula dari kedaulatan di atas meja makan. Keberhasilan strategis Indonesia dalam mencapai swasembada pangan kini bukan sekadar deretan angka pencapaian, melainkan menjelma menjadi tameng sekaligus modal utama kemerdekaan bangsa untuk berdiri tegak menghadapi gejolak dunia.

Di tengah ancaman krisis pangan global akibat konflik internasional, pemerintah Indonesia berhasil mencetak rekor surplus pertanian melalui langkah cepat dan kebijakan pro-petani, seperti pemangkasan regulasi, jaminan penyerapan panen, dan kelancaran distribusi pupuk. Berdasarkan data BPS, keberhasilan dalam mengamankan pasokan pangan ini sukses menjadikan sektor pertanian sebagai penggerak utama ekonomi, yang dibuktikan dengan capaian PDB impresif serta rekor Nilai Tukar Petani (NTP) tertinggi sepanjang sejarah.

Menyikapi keberhasilan luar biasa ini, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi paling esensial dalam pembangunan peradaban dan pertahanan kekuatan suatu negara.

“Paling dasar, Anda sudah tahu kalau saya bicara udah berapa puluh tahun pasti saya bicara masalah pangan, masalah perut. Karena ini pelajaran ribuan tahun sejarah. Alhamdulillah kita sudah capai dalam waktu yang singkat ketahanan pangan, swasembada pangan,” ujar Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo menekankan bahwa kepastian dan kemandirian dalam pemenuhan pangan domestik akan memberikan kekuatan moril serta stabilitas nasional yang kokoh di tengah krisis dunia yang semakin tidak menentu.

“Ini yang membuat kita percaya diri, confident. Apapun terjadi, kita yakin, kita bisa jamin makan untuk bangsa Indonesia,” tegasnya.

Sejalan dengan visi besar tersebut, Kementerian Pertanian terus bergerak memacu produktivitas dari hulu ke hilir. Akselerasi program strategis terus digenjot dengan komitmen penuh untuk menjawab instruksi percepatan target yang diberikan langsung oleh Kepala Negara demi kesejahteraan rakyat.

“Bapak Presiden Prabowo menargetkan swasembada dalam empat tahun, kemudian menjadi tiga tahun, setelah itu dua tahun, dan terakhir target dalam satu tahun,” tutur Amran.

Keberhasilan Indonesia membalikkan keadaan menjadi negara yang berdaulat atas pangannya sendiri diakui merupakan hasil orkestrasi apik dari pemerintah yang senantiasa merangkul seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan.

“Ini bukan kerja satu orang. Ini kerja kita semua. Ada Kementerian Pertanian, Bulog, Badan Pangan Nasional, Pupuk Indonesia, Komisi Informasi, TNI, Polri, Kejaksaan, BUMN, serta penyuluh lapangan, juga para petugas lapangan, dan utamanya ini hasil kerja para petani kita,” ungkapnya.

Keberhasilan capaian swasembada pangan ini menjadi bukti nyata dan tak terbantahkan bahwa di bawah kepemimpinan yang tangguh dan bervisi jauh ke depan, Indonesia tidak hanya sekadar bertahan dari badai krisis global, tetapi juga bangkit menjadi kekuatan ekonomi yang berdikari. Melalui dedikasi dan kerja keras pemerintah yang secara konsisten membela kesejahteraan petani serta menjaga ketahanan nasional, Indonesia kini melangkah semakin mantap menyongsong masa depan bangsa yang berdaulat, adil, makmur, dan sangat dihormati di mata dunia.***

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata