Kata Papua

Taklimat Presiden Prabowo Bangkitkan Kesadaran Geopolitik Bangsa Indonesia - Kata Papua

Taklimat Presiden Prabowo Bangkitkan Kesadaran Geopolitik Bangsa Indonesia

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Taklimat Presiden Prabowo Bangkitkan Kesadaran Geopolitik Bangsa Indonesia

Oleh: Aini Puteri Lestari

Taklimat Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul menjadi penanda penting bagaimana negara memandang dinamika global yang kian tidak pasti. Di tengah eskalasi konflik geopolitik, rivalitas kekuatan besar, serta meningkatnya ancaman penggunaan senjata pemusnah massal, Presiden secara terbuka mengingatkan bahwa dunia sedang berada pada fase rawan yang tidak bisa dipandang enteng. Kekhawatiran akan potensi pecahnya Perang Dunia Ketiga, termasuk skenario penggunaan senjata nuklir, bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai ajakan agar seluruh elemen bangsa memahami realitas global secara jujur dan rasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam pandangan Presiden, perang nuklir tidak akan mengenal batas negara. Bahkan negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik akan tetap menanggung dampak ekologis dan kemanusiaan yang luar biasa. Kontaminasi radioaktif, terganggunya rantai pangan laut, hingga kemungkinan terjadinya nuclear winter yang menutup sinar matahari dalam jangka panjang merupakan konsekuensi yang telah dibahas secara serius di tingkat internasional. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan nasional tidak menutup mata terhadap kajian ilmiah dan diskursus global, sekaligus menegaskan bahwa perlindungan rakyat harus didasarkan pada pemahaman menyeluruh terhadap ancaman nyata, bukan sekadar asumsi idealistik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesadaran akan ancaman global tersebut kemudian diletakkan Presiden dalam kerangka besar politik luar negeri Indonesia. Prabowo menegaskan kembali komitmen Indonesia pada prinsip bebas aktif yang dijalankan secara konsisten sejak era pendiri bangsa. Dalam konteks dunia yang semakin terpolarisasi, pilihan untuk tidak memihak pada blok kekuatan mana pun bukanlah sikap pasif, melainkan strategi aktif untuk menjaga kedaulatan, fleksibilitas diplomasi, dan kepentingan nasional jangka panjang. Presiden memandang bahwa keterlibatan dalam pakta militer atau aliansi eksklusif justru berpotensi menyeret Indonesia ke konflik yang tidak sejalan dengan kepentingan rakyat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Namun, sikap non-blok juga mengandung konsekuensi strategis. Presiden secara jujur mengakui bahwa dengan posisi tersebut, Indonesia tidak dapat bergantung pada bantuan pihak lain apabila menghadapi ancaman langsung. Karena itu, gagasan berdikari kembali ditegaskan sebagai fondasi utama. Prinsip berdiri di atas kaki sendiri, sebagaimana diwariskan oleh Bung Karno, diterjemahkan dalam konteks kekinian sebagai keharusan memperkuat pertahanan, ketahanan ekonomi, ketahanan pangan, dan ketahanan energi secara simultan. Kemandirian bukanlah pilihan ideologis semata, melainkan kebutuhan praktis di tengah dunia yang semakin keras dan transaksional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Taklimat tersebut juga memuat kritik tajam terhadap praktik standar ganda negara-negara besar. Presiden menyoroti ironi ketika nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia, supremasi hukum, dan perlindungan lingkungan hidup yang kerap dikhotbahkan justru dilanggar oleh para pengajarnya sendiri. Dalam berbagai konflik global, pelanggaran kemanusiaan terjadi secara terbuka, sementara sebagian besar kekuatan dunia memilih diam atau bersikap selektif. Bagi Presiden, realitas ini harus menjadi pelajaran penting bagi Indonesia agar tidak naif dalam membaca peta kekuasaan global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pernyataan Presiden tentang sejarah panjang intervensi dan penjajahan juga menjadi pengingat bahwa kedaulatan tidak pernah diberikan secara cuma-cuma. Bangsa yang melupakan sejarah berisiko mengulangi kesalahan yang sama, terjebak dalam ketergantungan, dan kehilangan kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Oleh karena itu, kewaspadaan strategis harus menjadi sikap kolektif para pemimpin, baik di tingkat pusat maupun daerah. Pemahaman terhadap dinamika global tidak boleh berhenti di Jakarta, tetapi harus menjadi kesadaran bersama dalam perencanaan pembangunan nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam konteks ini, Presiden menegaskan bahwa sikap rasional dan realistis adalah kunci. Keinginan untuk hidup damai harus dibarengi dengan kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk. Bukan karena Indonesia berniat mengancam pihak mana pun, melainkan karena sejarah dan realitas menunjukkan bahwa negara dengan kekayaan sumber daya alam yang besar dan posisi geopolitik strategis selalu menjadi sasaran gangguan. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan potensi ekonomi, energi, dan pangan yang melimpah harus mampu melindungi dirinya agar kekayaan tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Taklimat Presiden Prabowo pada akhirnya memperlihatkan arah kepemimpinan yang mengedepankan kewaspadaan tanpa paranoia, kemandirian tanpa isolasi, serta idealisme yang dibumikan dalam realitas geopolitik. Pesan ini relevan tidak hanya bagi aparat pemerintahan, tetapi juga bagi masyarakat luas agar memahami bahwa stabilitas, pembangunan, dan kesejahteraan tidak dapat dipisahkan dari kemampuan negara membaca dan merespons dinamika global. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, pilihan untuk bersikap waspada, mandiri, dan konsisten pada jati diri bangsa menjadi fondasi utama dalam menjaga masa depan Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Taklimat Presiden Prabowo Subianto dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 pada hakikatnya merupakan penegasan arah kepemimpinan nasional yang tegas, jujur, dan berpijak pada realitas geopolitik global. Presiden tidak menutup mata terhadap ancaman yang berkembang di dunia, mulai dari konflik bersenjata hingga potensi perang nuklir, namun juga tidak terjebak pada narasi ketakutan. Sikap ini mencerminkan kepemimpinan yang mengedepankan kewaspadaan strategis, keberanian mengambil sikap, serta kemampuan membaca situasi global secara rasional demi melindungi kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*Penulis merupakan Pengamat Hubungan Internasional

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts