Lompat ke konten utama

Kata Papua

Tata Kelola Digital Makin Tegas Melawan Hoaks, Deepfake, dan Halusinasi AI  - Kata Papua

Tata Kelola Digital Makin Tegas Melawan Hoaks, Deepfake, dan Halusinasi AI 

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh: Dhita Karuniawati

Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) telah membuka peluang besar bagi transformasi digital di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, pemerintahan, hingga industri kreatif. Di sisi lain, kemajuan teknologi ini juga menghadirkan tantangan baru berupa maraknya penyebaran hoaks, konten deepfake, serta fenomena halusinasi AI yang berpotensi menyesatkan masyarakat. Kondisi tersebut mendorong Indonesia memperkuat tata kelola digital agar pemanfaatan AI tetap memberikan manfaat tanpa mengorbankan keamanan, etika, dan kepercayaan publik.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) terus mempercepat penyusunan kerangka regulasi AI sebagai fondasi bagi pengembangan teknologi yang bertanggung jawab. Langkah ini dinilai penting mengingat pemanfaatan AI berkembang jauh lebih cepat dibandingkan regulasi yang mengaturnya.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria mengatakan bahwa Peraturan Presiden tentang AI akan menjadi langkah awal dalam penerapan tata kelola AI sebelum pemerintah menyusun Undang-Undang AI yang lebih komprehensif. Pemerintah saat ini telah menuntaskan penyusunan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan AI beserta Etika AI. Dokumen tersebut telah melalui pembahasan lintas kementerian dan lembaga, sehingga kini tinggal menunggu penetapan oleh Presiden.

Nezar menjelaskan peran pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital adalah membangun kerangka regulasi, etika, serta kebijakan yang mendorong pemanfaatan AI secara bertanggung jawab di seluruh sektor. Implementasi teknologi AI menjadi kewenangan masing-masing kementerian, lembaga, maupun pelaku industri sesuai kebutuhan layanan dan bisnisnya.

Menurut Nezar, pembangunan ekosistem AI nasional tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan berbagai regulasi digital yang sedang disiapkan pemerintah, termasuk Satu Data Indonesia, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi, hingga regulasi mengenai ketahanan dan keamanan siber. Integrasi kebijakan tersebut akan memperkuat tata kelola data sekaligus menjadi fondasi bagi pemanfaatan AI yang aman, tepercaya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Penguatan regulasi menjadi semakin relevan seiring meningkatnya ancaman konten deepfake yang mampu memanipulasi gambar, suara, maupun video sehingga sulit dibedakan dari konten asli. Teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk menyebarkan disinformasi, penipuan digital, hingga merusak reputasi seseorang. Di saat yang sama, kemampuan AI generatif menghasilkan teks secara otomatis juga memunculkan risiko penyebaran informasi yang tampak meyakinkan, tetapi sebenarnya tidak memiliki dasar fakta yang akurat.

Fenomena lain yang turut menjadi perhatian adalah halusinasi AI (AI hallucination), yakni kondisi ketika sistem AI menghasilkan jawaban yang terdengar logis, namun mengandung informasi keliru atau bahkan sepenuhnya fiktif. Apabila digunakan tanpa proses verifikasi, informasi tersebut dapat mempercepat penyebaran hoaks di ruang digital, terutama ketika masyarakat cenderung menerima hasil AI sebagai informasi yang benar.

Karena itu, penguatan tata kelola AI tidak hanya mengandalkan regulasi formal, tetapi juga dibangun melalui penerapan prinsip-prinsip etika. Sebelumnya, pemerintah telah menerbitkan Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial yang menjadi pedoman bagi pelaku usaha dan penyelenggara sistem elektronik dalam mengembangkan maupun memanfaatkan teknologi AI secara bertanggung jawab. Pedoman tersebut menekankan prinsip transparansi, akuntabilitas, keamanan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta perlindungan data pribadi sebagai fondasi pengembangan AI di Indonesia.

Dalam kajian mengenai implementasi etika AI, disebutkan bahwa Surat Edaran tersebut menjadi pijakan awal bagi terbentuknya tata kelola digital nasional yang lebih bertanggung jawab. Pendekatan berbasis etika dipandang mampu menyeimbangkan percepatan inovasi dengan perlindungan terhadap kepentingan publik sehingga perkembangan AI tetap berada dalam koridor nilai-nilai kemanusiaan dan kepastian hukum.

Selain pemerintah, kalangan ulama juga menilai pengawasan terhadap pemanfaatan AI memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digitalisasi (Infokomdigi), Dr Asrori S. Karni, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, dampak dan potensi bahaya dari AI tidak dapat ditanggulangi oleh satu lembaga saja. Kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah, akademisi, industri teknologi, media, organisasi masyarakat, dan komunitas digital menjadi syarat penting agar penyebaran informasi palsu dapat diminimalkan sekaligus meningkatkan literasi digital masyarakat.

Kolaborasi tersebut dinilai semakin penting karena tantangan AI tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut aspek sosial, budaya, hingga moral. Literasi digital menjadi salah satu instrumen utama untuk membangun kemampuan masyarakat dalam mengenali konten manipulatif, melakukan verifikasi informasi, serta memahami keterbatasan AI sebelum menggunakan atau menyebarkan hasil yang dihasilkan teknologi tersebut.

Penguatan tata kelola digital juga diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemanfaatan AI di berbagai sektor. Dengan adanya regulasi yang jelas, standar etika yang kuat, serta mekanisme pengawasan yang efektif, inovasi AI dapat berkembang secara sehat tanpa mengabaikan perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan teknologi.

Keberhasilan Indonesia membangun ekosistem AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan tata kelola yang adaptif, transparan, dan akuntabel. Sinergi antara regulasi, etika, inovasi, serta partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan menjadi modal penting untuk memastikan AI berkembang sebagai teknologi yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ruang digital nasional dalam menghadapi ancaman hoaks, deepfake, dan halusinasi AI.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Langkah Pemerintah Pulihkan Korban Pelanggaran HAM Mendapat Apresiasi

Oleh: Fauzan Ali Upaya pemerintah dalam menyelesaikan persoalan hak asasi manusia (HAM) terus berjalan dengan menempatkan pemulihan korban sebagai bagian penting dari proses penanganan. Langkah pemerintah mencakup penanganan kekerasan yang masih terjadi hingga membuka kembali proses penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran HAM berat pada masa lalu. Pemulihan korban menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelesaian kasus HAM. Proses penanganan tidak cukup berhenti pada pengungkapan peristiwa atau penegakan hukum terhadap pelaku, tetapi juga perlu memastikan hak dan kebutuhan korban mendapatkan perhatian. Komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan dan pemulihan korban mendapat apresiasi karena menunjukkan adanya upaya untuk melihat penyelesaian kasus HAM secara lebih menyeluruh. Penanganan tidak hanya diarahkan pada aspek hukum, tetapi juga mempertimbangkan dampak yang dirasakan korban dan masyarakat yang terdampak. Komitmen pemerintah terlihat dari respons terhadap kekerasan yang terjadi di Papua Pegunungan. Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) mengecam penembakan tiga warga sipil ASN Dinas Pertanian di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya. Staf Khusus Menteri HAM, Thomas Harming Suwarta, menegaskan bahwa kekerasan terhadap warga sipil yang tengah menjalankan aktivitas untuk mencari penghidupan tidak dapat dibenarkan. KemenHAM meminta kasus tersebut diusut secara tuntas dan pelaku diproses secara tegas berdasarkan hukum yang berlaku. Thomas juga menekankan pentingnya memastikan masyarakat sipil tetap mendapatkan perlindungan. KemenHAM mengimbau seluruh pihak menahan diri agar penanganan persoalan di Papua tidak menimbulkan korban baru. Perlindungan terhadap warga sipil menjadi semakin penting ketika persoalan HAM beririsan dengan konflik dan kekerasan. Pemerintah telah menunjukkan komitmennya dengan memastikan setiap tindakan penanganan tetap berada dalam koridor hukum sekaligus menghormati hak dasar masyarakat. Respons terhadap kekerasan yang terjadi juga memperlihatkan bahwa agenda HAM tidak hanya berkaitan dengan penyelesaian kasus masa lalu. Perlindungan warga dalam situasi yang masih berlangsung menjadi bagian penting dari upaya pemerintah memenuhi tanggung jawab terhadap hak masyarakat. Persoalan pemulihan korban juga menjadi perhatian dalam penanganan kasus HAM di Papua. Wakil Menteri HAM, Mugiyanto, menyampaikan bahwa pemerintah kini mengedepankan pendekatan kesejahteraan dalam menangani persoalan di wilayah tersebut. Perubahan pendekatan diarahkan untuk menangani akar persoalan secara lebih menyeluruh. Pemerintah melihat kompleksitas persoalan HAM di Papua sebagai tantangan yang mencakup kasus masa lalu sekaligus kekerasan yang masih terjadi hingga saat ini. Pemerintah berupaya membedah persoalan satu per satu agar penyelesaian tidak hanya meredam konflik, tetapi juga mencegah kekerasan kembali terjadi. Empat kasus yang menjadi perhatian antara lain peristiwa Wasior, Wamena, Abepura, dan Paniai. Pendekatan kesejahteraan yang dikedepankan pemerintah di Papua juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih luas. Penyelesaian persoalan HAM tidak hanya dipandang dari sisi penindakan, tetapi juga melalui upaya membangun kondisi yang dapat mencegah munculnya kekerasan baru. Selain merespons kasus yang baru terjadi, perhatian pemerintah juga diarahkan pada dugaan pelanggaran HAM berat yang terjadi puluhan tahun lalu. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) membentuk Tim Ad Hoc Penyelidikan Proyustisia untuk menyelidiki Peristiwa 27 Juli 1996 atau Peristiwa Kuda Tuli. Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, menjelaskan pembentukan tim merupakan tindak lanjut atas dugaan pelanggaran HAM berat dalam kerusuhan yang terjadi di Gedung Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, serta sejumlah wilayah di sekitarnya pada 27 Juli 1996. Tim bekerja berdasarkan mandat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Pembentukannya ditetapkan melalui Sidang Paripurna Komnas HAM pada 5-6 Mei 2026 dan kemudian diperkuat dengan Surat Keputusan Ketua Komnas HAM Nomor 27 Tahun 2026. Peristiwa Kuda Tuli memiliki latar belakang politik berupa dualisme kepemimpinan PDI. Kerusuhan yang terjadi dalam rangkaian peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah orang meninggal dunia dan mengalami luka-luka, sementara kerugian material juga muncul akibat pembakaran sejumlah toko. Komnas HAM memberikan kewenangan kepada tim untuk melakukan berbagai tindakan penyelidikan. Kewenangan mencakup pemeriksaan, pemanggilan korban dan saksi, penerimaan laporan atau pengaduan, serta pengumpulan keterangan dan barang bukti. Pembukaan kembali proses penyelidikan terhadap kasus masa lalu juga mendapat apresiasi karena menunjukkan bahwa persoalan HAM tidak semata-mata diukur dari seberapa lama sebuah peristiwa telah berlalu. Keberadaan mekanisme penyelidikan memberikan ruang bagi pengumpulan fakta dan keterangan untuk memperjelas rangkaian peristiwa serta dampaknya terhadap korban. Rangkaian kebijakan yang telah dilakukan menjadi alasan munculnya apresiasi terhadap arah penanganan HAM yang mulai memberikan ruang lebih besar bagi pemulihan korban. Apresiasi tidak hanya berkaitan dengan respons terhadap peristiwa yang baru terjadi, tetapi juga terhadap keberlanjutan perhatian pada kasus-kasus lama yang masih membutuhkan penyelesaian. Langkah pemerintah sekaligus menunjukkan bahwa