Lompat ke konten utama

Kata Papua

Tokoh Agama Berperan Besar dalam Sukseskan Pilkada Damai 2024 - Kata Papua

Tokoh Agama Berperan Besar dalam Sukseskan Pilkada Damai 2024

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh: Hendra Pratama

Menuju Pilkada serentak 2024, keterlibatan tokoh agama dalam menjaga perdamaian dan ketertiban menjadi salah satu elemen penting untuk memastikan proses demokrasi berjalan dengan aman, jujur, dan adil. Dalam berbagai kesempatan, tokoh agama telah menunjukkan komitmen untuk tidak hanya menjadi pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai pilar penegakan moral dalam masyarakat, terutama dalam mencegah pelanggaran dan menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang plural.
Dengan melibatkan tokoh agama secara aktif, Bawaslu dan kepolisian di berbagai daerah berusaha menutup celah terjadinya pelanggaran dan konflik selama pelaksanaan Pilkada. Kehadiran mereka tidak hanya sebagai figur otoritas moral, tetapi juga sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah untuk menjaga proses demokrasi tetap bersih dari praktik-praktik negatif seperti politik uang, penyebaran hoaks, serta isu-isu SARA yang rentan memicu kerusuhan.
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Lombok Tengah menyadari urgensi keterlibatan tokoh masyarakat, khususnya tokoh agama, dalam menjaga integritas dan kelancaran Pilkada 2024. Sosialisasi yang digelar untuk mengedukasi mereka mengenai pengawasan partisipatif merupakan salah satu langkah strategis Bawaslu dalam menggalang dukungan publik.
Menurut Usman Faesal, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Lombok Tengah, tokoh agama memiliki peran yang sangat signifikan dalam menciptakan Pilkada yang damai dan demokratis.
Faesal menegaskan bahwa Bawaslu tidak mungkin melakukan pengawasan sendiri tanpa bantuan dari para tokoh masyarakat. Keterlibatan aktif tokoh agama diharapkan bisa memperluas jangkauan pengawasan dan sekaligus memberikan pendidikan politik yang sehat kepada masyarakat. Dengan demikian, tokoh agama tidak hanya berfungsi sebagai pengawas, tetapi juga sebagai fasilitator dalam menjaga pemilu yang bersih dari pelanggaran.
Pentingnya keterlibatan tokoh agama juga diakui oleh salah satu tokoh agama Desa Mantang, Lalu Ahmad Saiful Hadi, yang menyatakan komitmennya untuk turut melakukan pengawasan aktif. Ia berpendapat bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya pengawasan ini harus dimulai dari diri mereka sendiri.
Dengan memberikan edukasi, tokoh agama dapat mendorong masyarakat untuk menggunakan hak pilih mereka dengan penuh tanggung jawab dan menjauhi praktik-praktik yang merusak integritas pemilu, seperti politik uang dan kampanye hitam.
Di sisi lain, aparat kepolisian juga turut serta dalam menjaga keamanan dan ketertiban selama Pilkada 2024. Polsek Bangkinang Kota, misalnya, aktif melakukan sosialisasi kepada tokoh agama dan masyarakat setempat melalui berbagai kegiatan.
Dalam pertemuan tersebut, Bhabinkamtibmas Polsek Bangkinang Kota, Aipda Masriadi, mengajak tokoh agama untuk berperan aktif dalam menjaga suasana damai selama proses Pilkada berlangsung.
Pesan utama yang disampaikan dalam pertemuan tersebut adalah pentingnya menjaga kerukunan umat beragama dan menepis isu-isu SARA yang sering kali digunakan sebagai alat politik. Masriadi menekankan bahwa kerukunan antarumat beragama merupakan salah satu kunci utama untuk menciptakan Pilkada yang damai dan aman.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menolak berita hoaks yang kerap muncul di media sosial menjelang pemilu, serta bahaya politik uang yang bisa merusak demokrasi.
Tidak hanya itu, Polsek Bangkinang Kota juga berkomitmen untuk melakukan kegiatan preemtif dan preventif, seperti patroli dialogis dan sambang dari rumah ke rumah, demi menjaga suasana kondusif. Tindakan proaktif ini merupakan salah satu bentuk upaya kepolisian untuk mengantisipasi potensi konflik yang bisa terjadi selama tahapan Pilkada berlangsung.
Dalam hal ini, tokoh agama diharapkan dapat berperan sebagai penengah dan penyeimbang di tengah berbagai tantangan sosial-politik yang muncul.
Tidak hanya Bawaslu dan kepolisian, Kementerian Agama juga menyadari peran strategisnya dalam mengawal Pilkada damai. Di berbagai daerah, seperti di Kabupaten Tegal, Kementerian Agama secara aktif mengadakan diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion) untuk membahas sinergi antara pemerintah dan tokoh agama.
Kepala Kankemenag Kab. Tegal, H.M. Aqsho, menyatakan bahwa pemilu merupakan proses demokrasi yang sangat penting, dan peran tokoh agama dalam menjaga kerukunan sangatlah krusial.
Menurut Aqsho, kerukunan umat beragama harus terus dijaga, terutama selama proses Pilkada, mengingat Indonesia adalah negara dengan keberagaman agama, suku, dan budaya. Sinergi yang baik antara tokoh agama dan pemerintah dapat menjadi benteng yang kokoh dalam menghadapi berbagai potensi konflik yang bisa muncul selama proses demokrasi berlangsung.
Lebih jauh lagi, ia menekankan bahwa ASN (Aparatur Sipil Negara) juga harus menjaga netralitasnya selama pemilu berlangsung. Komitmen ini sejalan dengan harapan masyarakat akan Pilkada yang adil, jujur, dan damai.
Tokoh agama tidak hanya dituntut untuk memberikan contoh teladan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga diharapkan mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga persatuan dan menghindari perpecahan.
Dengan semakin dekatnya Pilkada 2024, tantangan yang dihadapi tidak sedikit. Isu-isu seperti politik identitas, penyebaran hoaks, serta politik uang masih menjadi ancaman serius yang bisa mencederai proses demokrasi. Namun, dengan keterlibatan tokoh agama dan masyarakat yang lebih aktif, harapan akan Pilkada yang damai dan demokratis semakin terbuka lebar.
Peran tokoh agama dalam hal ini sangatlah  strategis. Mereka tidak hanya menjadi penyeimbang di tengah berbagai kepentingan politik, tetapi juga menjadi penjaga moral masyarakat. Dengan demikian, tokoh agama diharapkan bisa menjadi panutan yang mendorong wm9.masyarakat untuk lebih bijak dalam menghadapi pemilu, menjaga kerukunan, serta menolak segala bentuk kecurangan.

Peneliti Kebijakan Publik dan Politik – Pusat Studi Politik Rakyat (PSPR)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Kepuasan terhadap Prabowo Capai 65,2 Persen, Kinerja Nyata Jadi Kunci Kepercayaan Publik 

Oleh: Muhammad Iqbal Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, tingkat kepuasan publik menjadi salah satu indikator penting untuk mengevaluasi arah pembangunan nasional. Hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis pada 18 Oktober 2026 menunjukkan bahwa 65,2 persen responden merasa puas terhadap kinerja Presiden Prabowo. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas masyarakat masih memberikan penilaian positif terhadap kepemimpinan nasional, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan publik melalui kebijakan yang memberikan manfaat nyata. Survei PPI mencatat kepuasan terhadap kinerja pemerintah secara keseluruhan mencapai 65,4 persen. Sebanyak 32,5 persen responden menyatakan tidak puas, sedangkan 2,1 persen lainnya tidak memberikan jawaban. Adapun tingkat kepuasan terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tercatat sebesar 49 persen. Data tersebut memberikan gambaran bahwa masyarakat memiliki penilaian yang beragam terhadap kinerja pemerintahan, sehingga evaluasi perlu dilakukan secara terbuka dan proporsional. Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, menilai peningkatan kepuasan hingga melampaui 70 persen membutuhkan perbaikan kinerja bersama. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa hasil survei bukan sekadar angka yang dapat dijadikan bahan perayaan politik, melainkan juga masukan untuk memperkuat efektivitas pemerintahan. Kepercayaan masyarakat harus dipelihara melalui konsistensi kebijakan, penyelesaian persoalan mendasar, serta kemampuan pemerintah merespons kebutuhan warga secara cepat dan tepat. Salah satu temuan penting survei tersebut adalah bantuan sosial yang menjadi alasan paling banyak dikemukakan responden yang merasa puas terhadap pemerintah. Sebanyak 16,7 persen responden menilai bantuan sosial semakin banyak. Selain itu, penegakan hukum terhadap koruptor memperoleh perhatian dari 10,3 persen responden, disusul program Sekolah Rakyat sebesar 9,8 persen dan Makan Bergizi Gratis sebesar 8,5 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat memiliki peran penting dalam membentuk persepsi terhadap kinerja pemerintah. Bantuan sosial, misalnya, menjadi instrumen perlindungan bagi keluarga rentan ketika menghadapi tekanan ekonomi. Namun, efektivitasnya tidak cukup diukur dari besarnya anggaran atau jumlah penerima. Ketepatan sasaran, transparansi penyaluran, dan keberlanjutan manfaat juga harus menjadi perhatian. Hal ini penting karena 11,4 persen responden yang menyatakan tidak puas menilai bantuan sosial kurang tepat sasaran. Dengan demikian, perbaikan sistem pendataan dan pengawasan perlu berjalan beriringan dengan komitmen pemerintah memperluas perlindungan sosial. Tantangan lain terlihat dari persoalan ekonomi masyarakat. Sebanyak 11,8 persen responden yang tidak puas menyebut kondisi ekonomi yang sulit dan menurun sebagai alasan utama. Sementara itu, 10,4 persen menyoroti tingginya harga kebutuhan pokok dan 6,7 persen menilai pemerintah kurang memperhatikan rakyat kecil. Angka-angka tersebut menjadi pengingat bahwa persepsi positif terhadap kepemimpinan nasional harus diikuti perbaikan daya beli, ketersediaan lapangan kerja, serta kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam konteks tersebut, ketahanan pangan menjadi salah satu sektor strategis yang perlu diperkuat. Kinerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendapat penilaian positif dari pakar komunikasi politik Emrus Sihombing, yang menyatakan Kementerian Pertanian sebagai salah satu institusi yang menunjukkan kinerja menonjol. Penilaian tersebut menegaskan pentingnya capaian konkret dalam mengevaluasi pejabat publik, terutama ketika kebijakan yang dijalankan berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Sektor pertanian juga memberikan gambaran mengenai bagaimana kebijakan pemerintah dapat diterjemahkan menjadi hasil yang terukur. Produksi beras nasional pada 2025 tercatat mencapai 34,69 juta ton, sementara cadangan beras pemerintah menyentuh 5,3 juta ton. Indonesia juga menghentikan impor beras pada tahun tersebut dan kembali melakukan ekspor ke sejumlah negara. Capaian ini menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan pangan di tengah ketidakpastian iklim dan dinamika geopolitik global. Selain ketahanan pangan, program Sekolah Rakyat dan Makan Bergizi Gratis juga menunjukkan pentingnya pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup. Dalam survei PPI, Sekolah Rakyat memperoleh penilaian positif dari 12,6 persen responden sebagai program pemerintah yang dinilai paling baik, sedangkan Makan Bergizi Gratis mencapai 11 persen. Apabila dilaksanakan dengan pengawasan yang kuat dan standar pelayanan yang memadai, program-program tersebut berpotensi memperluas akses pendidikan, mendukung pemenuhan gizi, dan memperkuat kesempatan generasi muda untuk berkembang. Meski demikian, capaian survei tidak seharusnya membuat pemerintah mengabaikan kelompok masyarakat yang belum merasakan manfaat pembangunan. Sebanyak 67 persen responden menyatakan optimistis pemerintah mampu menjalankan tugas dengan baik, sementara 24,4 persen menyatakan tidak percaya dan 8,6 persen tidak menjawab. Optimisme mayoritas tersebut merupakan modal politik yang penting, dengan tetap melakukan perbaikan pelayanan publik, memperkuat penegakan hukum, dan memastikan program pemerintah berjalan secara akuntabel. Kepuasan publik sebesar 65,2 persen terhadap Presiden Prabowo merupakan gambaran dukungan mayoritas masyarakat menjelang dua tahun pemerintahan. Namun, legitimasi yang kuat tidak hanya bertumpu pada angka survei, melainkan juga pada kemampuan pemerintah menjawab persoalan yang dirasakan warga. Keberhasilan menjaga pangan, memperluas perlindungan sosial, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memperbaiki daya beli perlu menjadi bagian dari agenda yang berkesinambungan. *Penulis adalah pengamat politik