Lompat ke konten utama

Kata Papua

Kebijakan Fiskal Pemerintahan Prabowo Perkuat Pemerataan dan Daya Beli Masyarakat - Kata Papua

Kebijakan Fiskal Pemerintahan Prabowo Perkuat Pemerataan dan Daya Beli Masyarakat

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh: Chandra Muhammad Hamzah

Kebijakan fiskal menjadi instrumen kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memastikan bahwa hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata di seluruh daerah. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, orientasi kebijakan fiskal menunjukkan penekanan kuat pada peningkatan pemerataan, perlindungan daya beli masyarakat, dan penciptaan kesempatan kerja yang inklusif. Hal ini tampak melalui desain program belanja negara yang diarahkan untuk memperkuat pondasi ekonomi rakyat serta meningkatkan kapasitas sektor usaha domestik.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia berhasil tumbuh sebesar 5,04 persen secara tahunan pada kuartal III tahun 2025. Pertumbuhan ini dinilai terjadi dalam kondisi global yang tidak mudah, termasuk tekanan perlambatan ekonomi di negara-negara mitra dagang utama Indonesia. Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan bahwa mesin ekonomi nasional masih bekerja dengan stabil. Ia menilai bahwa konsumsi domestik tetap terpelihara, daya beli masyarakat terjaga, dan dunia usaha masih mampu mempertahankan aktivitas produksi.

Purbaya menilai bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi tersebut tidak terlepas dari efektivitas pengelolaan kebijakan fiskal yang telah dijalankan pemerintah sepanjang tahun. Ia menekankan bahwa APBN menjalankan peran penting sebagai penyangga ketika tekanan ekonomi global meningkat. Menurutnya, kebijakan fiskal berhasil menjaga daya beli masyarakat serta membantu dunia usaha tetap memiliki daya saing di tingkat global. Pemerintah memprioritaskan belanja negara yang tepat sasaran, subsidi diarahkan untuk kelompok rentan, serta berbagai skema pembiayaan didorong untuk mendukung sektor-sektor produktif agar tetap bergerak.

Sejalan dengan hal tersebut, isu keadilan fiskal antar-daerah kembali mengemuka sebagai bagian dari agenda penting dalam mendukung pemerataan pembangunan. Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), Bursah Zarnubi, menyatakan bahwa APKASI akan terus memperjuangkan keadilan fiskal melalui advokasi kebijakan yang menyasar pemerintah pusat. Ia menilai bahwa perjuangan memperluas ruang fiskal bagi daerah harus tetap berlandaskan pada prinsip reformasi dan otonomi daerah yang telah menjadi fondasi desentralisasi nasional sejak awal.

Bursah memandang bahwa pembangunan sesungguhnya terjadi di daerah, bukan hanya di tingkat pusat. Oleh karena itu, daerah membutuhkan ruang fiskal yang cukup agar dapat merancang dan menjalankan program pembangunan sesuai kebutuhan lokal. Ia menilai bahwa banyak kabupaten masih menghadapi keterbatasan ruang fiskal akibat rendahnya pendapatan asli daerah dan tingginya porsi belanja wajib yang tidak fleksibel. Karena itu, langkah advokasi APKASI diarahkan untuk menciptakan struktur fiskal yang lebih berkeadilan serta membuka peluang kemandirian keuangan daerah secara bertahap.

Dari perspektif akademis, ekonom Gede Sandra melihat bahwa arah kebijakan fiskal yang ditempuh Menteri Keuangan Purbaya menunjukkan karakter yang kuat terhadap ekonomi kerakyatan. Ia menilai bahwa pendekatan tersebut memprioritaskan pertumbuhan ekonomi yang berasal dari penguatan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah, perluasan akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro dan kecil, serta peningkatan perlindungan terhadap tenaga kerja.

Gede menyoroti kebijakan penyediaan dana likuiditas sebesar Rp 200 triliun yang berperan menekan suku bunga antarbank. Menurut penilaiannya, kebijakan ini mulai mendorong pertumbuhan kredit yang sebelumnya sempat melambat akibat ketidakpastian global. Ia memandang bahwa kembalinya pertumbuhan kredit menjadi indikasi positif, karena sektor usaha memperoleh kembali ruang ekspansi dan stabilitas pembiayaan. Dengan demikian, perekonomian dari akar rumput dapat kembali bergerak dan memberi kontribusi terhadap pertumbuhan nasional yang lebih inklusif.

Jika dicermati secara keseluruhan, langkah pemerintah dalam mengelola kebijakan fiskal memperlihatkan keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan keberpihakan terhadap kesejahteraan rakyat. Pemerintah menyadari bahwa mengejar pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup. Pertumbuhan tersebut harus mampu menghadirkan pemerataan dan keadilan sosial, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya kelompok tertentu.

Keberhasilan kebijakan fiskal tidak hanya diukur melalui angka pertumbuhan atau kondisi neraca negara, melainkan dari sejauh mana kebijakan tersebut memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, dukungan publik menjadi faktor kunci dalam keberlanjutan kebijakan fiskal yang progresif dan berkeadilan.

Pada titik ini, seluruh elemen bangsa diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap kebijakan fiskal pemerintah yang berorientasi pada pemerataan dan keadilan sosial. Dengan kolaborasi, pemahaman bersama, dan partisipasi aktif masyarakat, Indonesia dapat mewujudkan pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pemerataan kesejahteraan merupakan tujuan bersama, dan kebijakan fiskal yang berpihak pada rakyat adalah jembatan penting menuju cita-cita tersebut.

(* Penulis merupakan Pemerhati Kebijakan Ekonomi

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata