Kata Papua

Akademisi dan Tokoh Agama Sepakat Redam Anarkisme Demi Kepentingan Bangsa - Kata Papua

Akademisi dan Tokoh Agama Sepakat Redam Anarkisme Demi Kepentingan Bangsa

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Akademisi dan Tokoh Agama Sepakat Redam Anarkisme Demi Kepentingan Bangsa

Jakarta – Kericuhan dan anarkisme yang terjadi dalam berbagai aksi massa di beberapa daerah belakangan ini mengundang perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat, terutama tokoh agama dan akademisi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Marsudi Syuhud mengatakan bahwa penyampaian kritik kepada pemerintah Adalah bagian dari ajaran agama sekaligus hak yang dijamin oleh konstitusi. Namun, penyampaian aspirasi harus tetap dalam koridor hukum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Menyampaikan pendapat adalah hak, tapi kalau sampai merusak dan mejarah, jelas melanggar hukum agama maupun hukum positif,” jelas Marsudi di Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia menyampaikan bahwa dalam menyampaikan pendapat juga diperlukan kesabaran. Di dalam agama pun dilarang untuk melakukan kerusakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Utamakan untuk menjaga jiwa, menjaga harta, baik milik publik atau pemerintah dan fasilitas umum, semuanya harus dijaga,” ucapnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Marsudi pun mengajak agar berhenti bertindak anarkis yang mengatasnamakan demokrasi dan beralih kepada pendekatan yang lebih konstruktif untuk membangun dialog demi membangun Indonesia yang lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kami mengajak para ulama, pemimpin organisasi, dan masyarakat umum untuk bersama-sama menciptakan dialog yang lebih konstruktif. Mari kita sampaikan kritik dan saran dengan cara yang santun, serta selalu mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya,” jelasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sejurus dengan sikap MUI, Pakar Komunikasi Politik Aditya Perdana mengungkapkan jika penerapan demokrasi secara damai menjadi landasan untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Negara membutuhkan stabilitas dan kedamaian agar pembangunan dan kemajuan bangsa bisa terus berjalan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Demokrasi adalah sebuah proses yang memerlukan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Kita harus menjaga agar proses ini berlangsung dengan damai, tanpa terjebak dalam konflik yang dapat merugikan kepentingan bersama.” terangnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia menekankan, dalam mewujudkan hal tersebut, peran dan komitmen semua pihak sangat diperlukan. Associate Professor (Profesor Madya) Ilmu Politik UI itu juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dalam upaya menjaga dan memperkuat demokrasi di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Mari kita ciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya demokrasi yang damai untuk kemajuan bersama, Kita sudah mempunyai kesepakatan, bahwa dalam sebuah negara demokrasi, menyampaikan protes dan pendapat itu adalah hak. Bahkan dalam konstitusi sudah ada hukumnya, artinya ruang itu ada jaminan yang jelas,” tutupnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(*/rls)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Sekolah Rakyat dan Keyakinan bahwa Setiap Anak Punya Potensi

Sekolah Rakyat dan Keyakinan bahwa Setiap Anak Punya Potensi Oleh : Andika Pratama Pendidikan merupakan instrumen paling efektif untuk menghadirkan keadilan sosial sekaligus memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Namun, selama bertahun-tahun masih terdapat anak-anak Indonesia yang menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan berkualitas karena kondisi ekonomi keluarga. Situasi tersebut tidak hanya membatasi kesempatan belajar, tetapi juga sering kali memengaruhi rasa percaya diri dan keyakinan mereka terhadap masa depan. Karena itu, kehadiran Program Sekolah Rakyat menjadi langkah strategis pemerintah untuk memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang sosial dan ekonomi, memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan mengembangkan potensi terbaiknya.         Gagasan besar Sekolah Rakyat yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto tidak sekadar menghadirkan sekolah gratis bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program ini dibangun di atas keyakinan bahwa setiap anak memiliki bakat, kemampuan, dan peluang untuk berhasil apabila mendapatkan lingkungan belajar yang tepat. Dengan demikian, fokus utama Sekolah Rakyat bukan hanya menyediakan ruang belajar, tetapi juga membangun kepercayaan diri peserta didik agar mampu melihat dirinya sebagai individu yang bernilai dan memiliki masa depan yang cerah.         Pandangan tersebut ditegaskan oleh Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono saat memberikan motivasi kepada peserta didik Sekolah Rakyat Kabupaten Magelang. Ia menegaskan bahwa setiap siswa merupakan anak-anak yang berharga dan memiliki potensi yang akan dikembangkan melalui proses pendidikan di Sekolah Rakyat. Pernyataan tersebut mengandung makna penting bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga membangun karakter, optimisme, dan keberanian anak untuk bermimpi lebih tinggi daripada keterbatasan yang selama ini mereka alami.         Pesan tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat karena salah satu tantangan terbesar yang dihadapi anak-anak dari keluarga kurang mampu bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga rendahnya rasa percaya diri. Tidak sedikit anak yang tumbuh dengan anggapan bahwa kemiskinan merupakan batas yang sulit ditembus. Akibatnya, mereka merasa tidak pantas bersaing atau bercita-cita tinggi. Sekolah Rakyat hadir untuk mengubah cara pandang tersebut dengan menanamkan keyakinan bahwa keadaan ekonomi bukanlah penentu masa depan seseorang.         Lebih dari itu, Sekolah Rakyat mengembangkan pendekatan pendidikan yang memperhatikan karakteristik setiap peserta didik. Melalui pemetaan minat dan bakat atau talent mapping, tenaga pendidik dapat mengenali potensi masing-masing siswa sehingga proses pembelajaran menjadi lebih personal dan tepat sasaran. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur melalui prestasi akademik semata, tetapi juga kemampuan menemukan kekuatan unik setiap individu untuk dikembangkan secara optimal.