Kata Papua

Aksi Keji KST Ganggu Perayaan Natal di Papua - Kata Papua

Aksi Keji KST Ganggu Perayaan Natal di Papua

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Aksi Keji KST Ganggu Perayaan Natal di Papua
Oleh : Rebecca Marian )*
Kelompok Separatis Bersenjata (KST) berpotensi mengganggu perayaan Natal di Papua. Sejak awal Desember mereka beberapa kali melakukan penyerangan yang menyebabkan korban jiwa. Masyarakat diminta untuk waspada akan serangan KST, tetapi mereka tidak perlu takut untuk merayakan Natal karena aparat akan mengamankan mereka dan memperketat penjagaan di Papua.
Papua adalah bagian dari Indonesia dan diakui oleh hukum internasional. Namun ada sebagian kecil oknum yang ingin agar Papua merdeka, dan mereka mendirikan OPM (Organisasi Papua Merdeka) dan organisasi kaki-tangannya, KST (Kelompok Separatis dan Teroris). Dalam praktiknya, KST menjadi peneror dan memaksakan agar rakyat mengikuti mereka untuk membelot.
Selama Desember 2022, KST telah melakukan beberapa kali penyerangan. Mereka telah membunuh 3 tukang ojek di kawasan Pegunungan Bintang, menembak mati seorang pagawai bank di Kabupaten Puncak. Kemudian, KST juga menyerang iring-iringan polisi di Kepulauan Yapen, dan seorang warga sipil yang berada di sana meninggal karena ditembak kelompok tersebut.
Masyarakat geram terhadap KST karena melakukan penyerangan terus-menerus. Terlebih warga Papua sebentar lagi akan merayakan Natal. Warga tidak ingin hari bahagianya akan berubah jadi menakutkan, karena ulah KST. Padahal bisa jadi anggota KST juga merayakan Natal, tetapi malah menyerang saudara sesukunya sendiri dengan kejam.
Masyarakat Papua sangat antusias jelang Natal karena mayoritas merayakannya sekaligus khawatir akan KST. Jika ada KST maka mereka sempat ketakutan karena serangannya tidak pandang bulu, baik pendatang, warga asli, maupun aparat juga diserang. Namun mereka tak perlu khawatir karena aparat akan melakukan pengamanan ketat untuk menjaga agar hari Natal dirayakan secara kondusif.
Wakil Ketua Hubungan Masyarakat Operasi Damai Cartenz AKBP Arif Irawan menyatakan pihaknya mengutamakan atensi pada penyerangan yang dilakukan oleh KST. Terlebih saat mereka nekat melakukan penyerangan di wilayah Yapen, yang selama ini steril dari kelompok pembelot tersebut.
Natal hanya setahun sekali dan jangan sampai ada serangan, baik di gereja maupun di tempat lain. Oleh karena itu pengamanan ditingkatkan di sekitar gereja maupun tempat lain seperti pasar dan supermarket. Penyebabnya karena masyarakat akan berbelanja lebih banyak dari hari biasa, untuk menyiapkan hari raya Natal tanggal 25 Desember nanti.
Pengamanan lebih intens dilakukan di daerah-daerah di Papua yang sering konflik, seperti Nduga, Intan Jaya, dan Yapen. Satgas Damai Cartenz melakukan pengamanan lebih ketat agar keselamatan rakyat di Bumi Cendrawasih terjaga. Jangan sampai ada serangan yang bisa menyebabkan korban luka, maupun korban jiwa.
Sementara itu, tokoh pemuda Papua Ali Kabiay menyatakan bahwa ia menolak tegas kehadiran KST dan OPM (Organisasi Papua Merdeka). Penyebabnya karena KST tega melakukan penyerangan, dan korbannya adalah warga Papua sendiri. Kemudian, serangan dilakukan jelang Natal sehingga bisa membuat masyarakat merasa terteror dan tidak bisa merayakan Natal dengan bahagia.
Selama ini Ali dikenal sangat berani dalam menolak KST, dan ikut aktif dalam gerakan Komponen Masyarakat Papua. Gerakan ini diadakan untuk menolak KST dan pengaruhnya di masyarakat Bumi Cendrawasih. Ali terus menyebarkan ajaran ke masyarakat bahwa KST berbahaya dan wajib diwaspadai. Jangan ada yang pro KST karena sama saja menjadi penghianat negara.
Ali juga menghimbau agar masyarakat Papua percaya pada kinerja TNI dan Polri dalam mengamankan Natal 2022. Jangan malah ketakutan lalu memutuskan untuk tidak keluar rumah. Mereka diperbolehkan untuk beraktivitas seperti biasa dan beribadah, dan jangan khawatir akan KST, karena sudah ada tindakan pencegahan dari aparat.
Konflik yang disebabkan oleh KST membuka mata masyarakat bahwa permasalahan di Papua sangat rumit. Tidak hanya tuntutan kemerdekaan oleh kelompok pemberontak. Namun sudah merembet ke pertikaian yang menyebabkan kerugian besar di kalangan pendatang. Terlebih serangan terjadi jelang hari raya Natal.
Oleh sebab itu perlu ada himbauan dari tokoh masyarakat yang jadi penengah, bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia. Seluruh warga bersatu, tak hanya orang asli Papua tetapi juga para pendatang. Jika kompak dalam melawan KST maka masyarakat optimis bahwa kelompok pemberontak tersebut bisa dibubarkan.
Faktor keamanan juga perlu diperhatikan, dan jumlah aparat juga ditambah. Pihak aparat keamanan tidak hanya fokus ke penangkapan KST, tetapi juga ke pencegahan. Mata-mata bisa disebar agar tidak ada penyerangan yang memakan banyak korban jiwa seperti ini jelang perayaan Natal.
Masyarakat mewaspadai serangan KST jelang hari raya Natal dan aparat makin ketat dalam mengamankan Papua. Kelompok pemberontak tersebut sangat merugikan karena berkali-kali melakukan penyerangan ke warga sipil, dan sampai menimbulkan korban jiwa. Perayaan Natal di Papua harus aman, oleh karena itu TNI dan Polri bekerja sama untuk mengamankan Bumi Cendrawasih.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Diversifikasi Gas sebagai Strategi Besar Kemandirian Energi Indonesia

Diversifikasi Gas sebagai Strategi Besar Kemandirian Energi Indonesia Oleh: Rina Oktavia Ketahanan energi menjadi salah satu faktor penentu kekuatan ekonomi suatu negara. Di tengah ketidakpastian geopolitik global, fluktuasi harga energi, dan gangguan rantai pasok internasional, Indonesia dituntut untuk memperkuat fondasi energi nasional agar tidak terlalu bergantung pada impor. Dalam konteks tersebut, diversifikasi energi berbasis gas muncul sebagai strategi besar yang mampu memperkuat kemandirian energi Indonesia sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.         Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden RI, Prabowo Subianto bergerak cepat merespons dinamika global yang berpotensi memengaruhi sektor energi nasional. Presiden memberikan arahan untuk mempercepat pengembangan sumber energi alternatif sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap energi impor. Langkah ini menunjukkan bahwa sektor energi ditempatkan sebagai prioritas strategis dalam pembangunan nasional.         Diversifikasi energi menjadi kebutuhan mendesak mengingat ketergantungan terhadap satu jenis energi dapat menimbulkan risiko besar ketika terjadi gejolak global. Indonesia selama ini masih menghadapi tantangan tingginya impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk memenuhi kebutuhan domestik. Oleh karena itu, pengembangan dan pemanfaatan gas bumi nasional menjadi solusi yang semakin relevan dalam membangun sistem energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.         Pemerintah telah menetapkan sejumlah agenda prioritas di sektor energi. Salah satu langkah utama yang didorong adalah percepatan konversi energi dari Liquefied Petroleum Gas (LPG) menuju Compressed Natural Gas (CNG). Program ini menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi energi nasional karena memanfaatkan sumber daya gas domestik yang melimpah dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia.         Pemanfaatan CNG memiliki nilai strategis yang besar bagi Indonesia. Selain mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, penggunaan gas domestik juga dapat meningkatkan efisiensi energi dan memperkuat ketahanan pasokan nasional. Diversifikasi gas tidak hanya berfungsi sebagai alternatif energi, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas ekonomi ketika pasar energi global mengalami gejolak.