Lompat ke konten utama

Kata Papua

Danantara Berhasil Gaet Pendanaan Rp163 Triliun dari Bank Asing - Kata Papua

Danantara Berhasil Gaet Pendanaan Rp163 Triliun dari Bank Asing

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Menghadapi dinamika sosial yang terus berkembang di berbagai wilayah, pemerintahan berhasil menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia tetap kokoh. Terbaru, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mencetak langkah luar biasa dengan merealisasikan pendanaan senilai USD 10 miliar, setara sekitar Rp 163 triliun, dari 12 bank asing tanpa jaminan – prestasi yang mencerminkan kepercayaan global terhadap kebijakan ekonomi pemerintah.

CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani menyatakan bahwa pendanaan yang diterima mencerminkan kepercayaan dunia internasional terhadap Danantara. Ia menekankan, pembiayaan itu bahkan diberikan tanpa memerlukan jaminan apa pun.

“Alhamdulillah, (Danantara) mendapatkan kepercayaan dari 12 bank, mendapatkan pinjaman, dan ini adalah kepercayaan revolving facility terbesar di Asia yang diberikan kepada Sovereign Wealth Fund,” kata Rosan.

Selain fasilitas pinjaman, Danantara juga berhasil mengamankan komitmen investasi ekuitas sebesar USD 7 miliar dari sejumlah sovereign wealth fund internasional. Dana tersebut melibatkan Qatar Investment Authority (USD 4 miliar), China Investment Corporation (USD 2 miliar), dan Russian Direct Investment Fund (besaran belum disebutkan secara spesifik).

Rosan menegaskan bahwa seluruh investasi akan dikelola secara hati-hati, transparan, dan berorientasi keuntungan, namun tetap berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja dan penguatan kualitas sumber daya manusia.

Dalam kesempatan yang sama, Managing Director Global Relations and Governance Danantara, Mohamad Al-Arief, menegaskan bahwa Danantara lahir bukan sekadar sebagai lembaga pengelola dana, melainkan sebagai institusi kepercayaan dengan standar pengelolaan internasional.

“Kita tidak sedang membangun lembaga untuk mengelola dana dan aset saja, tapi juga institusi kepercayaan. Dan untuk itu, semua proses harus mencerminkan praktik terbaik yang diakui secara global,” ujar Al-Arief.

Respon politis terhadap prestasi ini juga sangat positif. Anggota Komisi VI DPR RI, Kawendra Lukistian, menyampaikan apresiasi tinggi saat Rapat Dengar Pendapat beberapa waktu lalu.

“Saya ingin apresiasi tentunya ini untuk Danantara dan juga BUMN. Dalam 4-6 bulan terakhir sejak lahirnya Danantara, kepercayaan global sudah semakin terlihat,” kata Kawendra.

Kawendra menambahkan bahwa momentum ini turut dipicu oleh diplomasi ekonomi aktif Presiden Prabowo Subianto keluar negeri dan sinergi lintas kementerian. Ia juga mendorong inovasi pembiayaan, seperti pembentukan deep tech sovereign fund, khususnya agar pelaku ekonomi kreatif dapat memperoleh akses modal modern yang sebelumnya sulit dijangkau.

Keberhasilan Danantara datang di saat bangsa sedang menghadapi berbagai aksi demonstrasi. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, pemerintah membuktikan bahwa krisis sosial tidak menggoyahkan fondasi ekonomi. Bahkan, saat sebagian pihak tak menentu menyuarakan penolakan, realisasi pendanaan global ini menjadi sinyal kuat bahwa roda ekonomi tetap berjalan, dan pemerintah tetap efektif menjaga kepercayaan investor.

Pada saat terjadi demonstrasi menyerukan perubahan, momentum ini justru mempertegas bahwa kebijakan pembangunan berkelanjutan berjalan seiring dengan aspirasi rakyat. Danantara sebagai instrumen strategis menjadi bukti bahwa investasi dalam pembangunan hilirisasi, ketahanan energi, dan inovasi industri tetap berjalan deras tanpa terpengaruh oleh gejolak sosial semata.

Dengan dana revolusioner senilai Rp 163 triliun, Danantara diharapkan dapat mempercepat proyek hilirisasi senilai ratusan triliun rupiah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Ini juga merupakan bentuk nyata bahwa pemerintah mampu menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan.

Dengan capaian ini, pemerintah kembali menunjukkan komitmen kuatnya dalam mewujudkan ekonomi yang maju, inklusif, dan berdaya saing global. Kepercayaan dunia mengalir ke dalam negeri dan kini saatnya bersinergi bersama menjaga momentum demi masa depan Indonesia yang lebih sejahtera.

(*/rls)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Pemerataan SDM Koperasi Merah Putih Menjaga Operasional yang Lebih Kuat

Oleh : Antonius Utomo Pemerataan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor kunci dalam memastikan keberhasilan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang saat ini terus berkembang di berbagai daerah di Indonesia. Di tengah upaya pemerintah memperkuat ekonomi kerakyatan melalui koperasi, keberadaan SDM yang kompeten, merata, dan memiliki kapasitas manajerial yang baik menjadi fondasi penting agar setiap koperasi mampu menjalankan fungsi pelayanan, distribusi, hingga pengembangan usaha secara optimal. Program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah tidak hanya berfokus pada pembentukan kelembagaan, tetapi juga menempatkan penguatan kualitas pengurus, pengawas, dan pengelola koperasi sebagai prioritas utama. Langkah ini menjadi penting karena koperasi yang tumbuh secara cepat membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengelola organisasi secara profesional, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Pemerataan SDM yang berkualitas akan memastikan tidak ada kesenjangan kapasitas antarwilayah sehingga seluruh koperasi dapat berkembang dengan standar yang relatif setara. Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menegaskan bahwa keberhasilan Koperasi Merah Putih tidak hanya ditentukan oleh modal usaha maupun infrastruktur pendukung, tetapi juga oleh kualitas individu yang menjalankan operasional koperasi setiap hari. Oleh karena itu, berbagai program pelatihan, pendampingan, serta peningkatan kompetensi terus dilakukan guna memperkuat kemampuan pengurus dalam bidang manajemen usaha, tata kelola keuangan, digitalisasi layanan, hingga pengembangan jejaring bisnis. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan koperasi yang sehat dan berkelanjutan. Pemerataan SDM juga memiliki peran strategis dalam menjaga konsistensi layanan kepada masyarakat. Dengan kapasitas yang merata, setiap koperasi dapat memberikan pelayanan yang lebih profesional, cepat, dan akuntabel. Masyarakat sebagai anggota koperasi akan memperoleh manfaat yang lebih besar karena pengelolaan usaha berjalan secara efektif serta mampu merespons kebutuhan ekonomi lokal dengan lebih tepat. Kondisi ini pada akhirnya akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap koperasi sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi yang nyata. Langkah pemerintah mendorong pelatihan dan pengembangan SDM sejalan dengan pentingnya investasi pada kualitas sumber daya manusia sebagai penopang keberlanjutan organisasi. Berbagai lembaga dan institusi juga menempatkan program pengembangan SDM sebagai instrumen utama dalam meningkatkan kinerja dan daya saing organisasi. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah lembaga tidak hanya bergantung pada sistem yang dibangun, tetapi juga pada kualitas manusia yang mengelolanya. Keberadaan SDM yang merata juga akan memperkuat koordinasi antar-Koperasi Merah Putih di berbagai daerah. Dengan standar kompetensi yang relatif sama, proses berbagi pengalaman, transfer pengetahuan, dan kolaborasi usaha dapat berjalan lebih efektif. Setiap koperasi memiliki peluang untuk belajar dari praktik terbaik yang diterapkan di daerah lain, sehingga tercipta ekosistem koperasi yang saling mendukung dan tumbuh bersama. Sinergi semacam ini sangat penting untuk membangun ketahanan ekonomi masyarakat dari tingkat lokal hingga nasional. Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mengatakan  para manajer KDKMP yang telah mendapatkan surat keputusan (SK) penempatan di luar domisili agar menerimanya. Penempatan lintas daerah untuk mengisi kebutuhan SDM di wilayah yang pembangunan KDKMP-nya telah selesai. KDKMP yang telah selesai pembangunanya membutuhkan manajer untuk segera beroperasi. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan manajer akan mendapatkan gaji antara Rp6,3 juta-8,3 juta yang terdiri dari komponen gaji dan tunjangan sesuai dengan UMK setempat. Gaji tersebut diberikan karena manajer mempunyai tanggung jawab yang berat untuk mengembangkan ekosistem desa. Para manajer ini akan mengelola koperasi sebagai infrastruktur pemerintah untuk menangani subsidi bantuan pemerintah dan mengembangkan ekonomi desa. Selain itu, pemerataan SDM dapat mendorong lahirnya kepemimpinan koperasi yang adaptif dan visioner. Pengurus yang memiliki pemahaman kuat mengenai tata kelola organisasi akan lebih mampu menyusun strategi pengembangan usaha yang sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Mereka juga dapat mengidentifikasi peluang ekonomi baru yang dapat memberikan nilai tambah bagi anggota koperasi. Dengan demikian, koperasi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga menjadi motor penggerak pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Ke depan, penguatan SDM Koperasi Merah Putih perlu terus dilakukan secara berkelanjutan. Pelatihan yang terstruktur, sistem sertifikasi kompetensi, pemanfaatan teknologi pembelajaran digital, serta pendampingan langsung di lapangan dapat menjadi instrumen yang efektif untuk menjaga kualitas pengelolaan koperasi. Langkah tersebut akan memastikan bahwa setiap koperasi memiliki kapasitas yang cukup untuk menghadapi berbagai tantangan sekaligus memanfaatkan peluang yang tersedia. Pemerataan SDM pada akhirnya bukan sekadar upaya meningkatkan kemampuan individu, melainkan