Lompat ke konten utama

Kata Papua

Danantara Dorong Merger BUMN agar Lebih Kompetitif - Kata Papua

Danantara Dorong Merger BUMN agar Lebih Kompetitif

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta — BPI Danantara tengah menyiapkan langkah besar untuk memperkuat posisi BUMN di pasar domestik maupun global. Salah satu strategi yang kini masuk tahap pembahasan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah merger sejumlah BUMN sejenis di sektor keuangan dan nonkeuangan.

Rencana merger ini disebut akan menciptakan skala usaha yang lebih besar, efisiensi operasional, serta memperkuat daya saing di tengah persaingan global.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengonfirmasi pihaknya telah menerima informasi terkait rencana tersebut. Menurutnya, konsolidasi yang digagas Danantara dapat menjadi momentum penguatan BUMN sejenis.

“Kami memang menerima atau pernah disampaikan rencana untuk rencana melakukan konsolidasi perusahaan-perusahaan sejenis secara menyeluruh oleh Danantara yang berada di bawah pengawasannya, baik di bidang keuangan maupun nonkeuangan,” ujar Mahendra.

Ia menjelaskan, penggabungan entitas bukan hanya akan menyatukan sumber daya, tetapi juga memperluas cakupan dan meningkatkan skala usaha.

“Pada gilirannya juga bisa meningkatkan daya saing dan cakupan, besaran dari perusahaan-perusahaan itu apabila dilakukan suatu konsolidasi,” jelasnya.

Meski demikian, Mahendra menegaskan bahwa rencana tersebut masih berada pada tahap persiapan telah berjalan dan segera memasuki implementasi.

“Dalam tahap operasi atau implementasinya, kami terus memantau dan mengawal perkembangan,” katanya.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, memaparkan konsolidasi akan dilakukan di berbagai sektor, termasuk logistik dan asuransi. Di sektor logistik, saat ini terdapat 18 BUMN yang perlu ditingkatkan daya siangnya dan akan dilebur menjadi satu perusahaan besar agar mampu bersaing di pasar.

“Yang tadinya logistiknya ada 18, nanti menjadi satu perusahaan logistik dengan skala yang cukup besar, kompetitif, dan mampu bersaing. Kemudian juga memberikan nilai tambah yang signifikan buat Danantara,” ujar Dony.

Sementara di sektor asuransi, Danantara telah melakukan fundamental business review terhadap 16 BUMN yang bergerak di bidang serupa. Hasilnya, perusahaan-perusahaan tersebut akan diselaraskan” atau “dirampingkan” dan dikelompokkan menjadi tiga kategori besar: asuransi jiwa (life insurance), asuransi umum (general insurance), dan asuransi kredit (credit insurance).

Jika terealisasi, langkah ini diyakini akan mengubah lanskap bisnis BUMN di Indonesia, menciptakan entitas yang lebih efisien, memiliki modal lebih kuat, dan siap bersaing di level global.-

[ed]

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Lapangan Kerja, Upskilling, dan Kepastian Usaha Harus Menjadi Napas RUU Ketenagakerjaan

Oleh : Abdul Razak Pemerintah bersama DPR RI tengah mempercepat pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Ketenagakerjaan sebagai upaya menjawab perubahan dan tantangan dunia kerja yang semakin kompleks. Regulasi baru tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat perlindungan pekerja, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang adaptif, mendorong peningkatan keterampilan, memperluas kesempatan kerja, sekaligus memberikan kepastian bagi dunia usaha. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan pembahasan RUU tersebut kini berlangsung secara intensif bersama DPR. Pemerintah menargetkan regulasi mengenai perlindungan tenaga kerja itu dapat diselesaikan pada akhir Oktober 2026. Yassierli menilai tantangan ketenagakerjaan nasional tidak ringan. Dari sekitar 155 juta angkatan kerja Indonesia, sekitar 60 persen berada di sektor informal. Kelompok tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan pekerja formal karena sebagian besar belum memperoleh jaminan sosial maupun perlindungan hari tua yang memadai. Menurut Yassierli, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk memastikan perlindungan ketenagakerjaan dapat mencakup seluruh pekerja tanpa membedakan status formal maupun informal. Regulasi baru diharapkan menjadi landasan yang lebih kuat dalam memberikan kepastian hak sekaligus memperluas kepesertaan program perlindungan sosial. Yassierli menyebut penyelesaian regulasi tersebut diharapkan menjadi tonggak baru perlindungan ketenagakerjaan di Indonesia. Selain melalui pembentukan undang-undang, Kementerian Ketenagakerjaan juga akan mendorong peningkatan kepesertaan perlindungan sosial bagi pekerja. Urgensi perlindungan tersebut semakin besar seiring Indonesia menghadapi perubahan struktur demografi. Saat ini Indonesia masih menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar. Namun, kondisi tersebut tidak akan berlangsung selamanya karena Indonesia diproyeksikan memasuki fase aging population. Yassierli menekankan pentingnya penguatan program dana pensiun agar masyarakat yang memasuki usia lanjut tetap memiliki sumber pendapatan dan tidak sepenuhnya bergantung kepada generasi yang masih produktif. Menurutnya, menjaga kehidupan masyarakat setelah masa kerja merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Di sisi lain, RUU Perlindungan Ketenagakerjaan juga perlu menjawab kebutuhan pekerja di tengah perubahan struktur ekonomi dan teknologi. Perlindungan tidak cukup hanya diberikan ketika terjadi pemutusan hubungan kerja, tetapi juga perlu disertai upaya meningkatkan kemampuan pekerja agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri. Program upskilling dan reskilling menjadi semakin relevan karena perkembangan teknologi dapat mengubah jenis pekerjaan, kompetensi yang dibutuhkan, serta pola hubungan kerja. Pekerja perlu memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kemampuan agar tidak tertinggal oleh perubahan dunia usaha. Dengan demikian, perlindungan ketenagakerjaan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan daya saing tenaga kerja. Pada saat yang sama, kepastian usaha juga menjadi bagian penting dalam penyusunan regulasi. Dunia usaha membutuhkan aturan yang jelas, terukur, dan dapat dilaksanakan agar mampu mengambil keputusan investasi, melakukan ekspansi, serta menciptakan lapangan pekerjaan secara berkelanjutan. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh menjelaskan bahwa DPR mengusulkan perluasan jaminan sosial bagi pekerja, termasuk mekanisme jaminan pesangon. Usulan tersebut tercantum dalam Pasal 129 RUU Perlindungan Ketenagakerjaan dan merupakan inisiatif DPR, bukan usulan dari Asosiasi Pengusaha Indonesia maupun serikat buruh. Nihayatul menjelaskan, selama ini perusahaan pada dasarnya telah melakukan pencadangan kewajiban imbalan kerja sebagaimana diatur dalam PSAK 24. Namun, dana tersebut masih berada di dalam perusahaan dan belum dipisahkan dari kekayaan perusahaan. Karena itu, DPR mengusulkan agar dana jaminan pesangon dikelola melalui BPJS Ketenagakerjaan. Mekanisme tersebut dinilai dapat memberikan kepastian bagi pekerja sekaligus mengurangi potensi beban perusahaan ketika terjadi persoalan keuangan atau pemutusan hubungan kerja. Nihayatul mengatakan usulan tersebut salah satunya berkaca pada kasus perusahaan yang mengalami kepailitan dan kemudian tidak mampu memenuhi kewajiban pesangon. Kasus PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex menjadi salah satu contoh yang disebutnya karena berdampak terhadap sekitar 10.000 pekerja. Menurut Nihayatul, mekanisme jaminan pesangon perlu diperkuat agar pekerja tetap memperoleh hak ketika perusahaan menghadapi kondisi sulit. DPR juga mendorong adanya kontribusi pemerintah dalam skema tersebut, sehingga pembiayaan tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab perusahaan. Penguatan perlindungan pekerja pada akhirnya perlu ditempatkan dalam kerangka yang seimbang. Regulasi harus mampu menjamin hak pekerja, mendorong peningkatan kompetensi, sekaligus memberikan kepastian bagi pengusaha dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Keseimbangan tersebut penting agar perlindungan tidak menjadi beban yang menghambat penciptaan lapangan kerja, melainkan menjadi fondasi hubungan industrial yang lebih sehat. Dengan target penyelesaian pada akhir