Lompat ke konten utama

Kata Papua

Danantara Dorong Pertumbuhan Fiskal Lewat Investasi Strategis dan Aset Produktif Negara - Kata Papua

Danantara Dorong Pertumbuhan Fiskal Lewat Investasi Strategis dan Aset Produktif Negara

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa investasi akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi fiskal nasional melalui peran strategis Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Langkah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan investasi dan pengelolaan aset negara sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi.

Danantara diharapkan menjadi motor penggerak utama dalam mengoptimalkan investasi strategis, memperkuat peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan mengubah aset negara menjadi sumber kekuatan ekonomi baru yang produktif dan efisien.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, menjelaskan pemerintah ingin memperkuat kontribusi BUMN terhadap investasi nasional melalui holding investasi Danantara. Menurutnya, kehadiran Danantara akan menjadi katalis dalam mendorong investasi bernilai tinggi (high value investment) di sektor-sektor prioritas.

“Danantara akan memainkan peran besar dalam mendorong investasi strategis. Target Capex BUMN dalam konsolidasi Danantara bahkan dinaikkan dua kali lipat pada 2026 agar bisa menjadi driver pertumbuhan ekonomi yang kuat,” jelas Febrio.

Adapun sektor-sektor yang akan menjadi fokus investasi meliputi hilirisasi sumber daya alam, infrastruktur, manufaktur bernilai tambah tinggi, dan ekonomi digital. Pemerintah juga telah menempatkan dana sekitar Rp200 triliun di sektor perbankan, terutama di Himbara dan BSI, untuk memperkuat pembiayaan investasi nasional.

Febrio menambahkan, pemerintah optimistis dengan sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta, iklim investasi Indonesia akan semakin membaik. Pertumbuhan investasi diperkirakan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi ke target 5,2% pada tahun 2025, dan terus meningkat hingga 5,6%–5,8% pada 2026.

“Selama ini ekonomi kita banyak disokong oleh konsumsi. Ke depan, porsi investasi yang sekitar 30% itu harus meningkat, dengan nilai tambah yang juga lebih tinggi,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara, Muliaman Darmansyah Hadad, menilai pembentukan Danantara sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) atau dana kekayaan negara merupakan langkah strategis untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.

“Danantara hadir bukan sekadar lembaga baru, melainkan instrumen pembangunan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan menyiapkan tabungan jangka panjang bagi bangsa,” ujarnya.

Menurut Muliaman, BUMN adalah aset negara yang harus produktif. Tugas Danantara adalah memastikan aset-aset itu tidak lagi menjadi beban, tetapi justru menjadi kekuatan baru untuk membangun ekonomi nasional yang berdaya dan mandiri

“Danantara memiliki peran penting dalam mentransformasi aset-aset BUMN yang nilainya, jika dikonsolidasikan, mencapai sekitar satu triliun dolar AS,” tambahnya.

Sementara itu, CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan realisasi investasi pada kuartal III tahun 2025 telah mencapai Rp491,4 triliun, atau sekitar 25,8% dari target realisasi investasi tahun 2025 sebesar Rp1.905,6 triliun. Angka tersebut meningkat 13,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 696.478 orang.

“Alhamdulillah, capaian ini menunjukkan arah yang positif. Danantara berkomitmen untuk terus memperkuat investasi strategis agar memberikan dampak nyata bagi ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat,” tutur Rosan.

Dengan berbagai langkah strategis tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjadikan Danantara sebagai instrumen utama dalam mengelola investasi nasional secara profesional, produktif, dan berkelanjutan. Transformasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat posisi fiskal negara, tetapi juga mempercepat kemandirian ekonomi Indonesia menuju bangsa yang maju dan berdaulat secara ekonomi.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Isu September Hitam Jangan Sampai Mengikis Solidaritas Sesama Anak Bangsa 

Oleh: Gavin Asadit Munculnya isu September Hitam 2026 perlu disikapi secara bijak agar tidak berkembang menjadi narasi yang mengikis solidaritas dan persatuan sesama anak bangsa. Refleksi terhadap berbagai catatan sejarah hak asasi manusia (HAM) tetap penting, tetapi penyikapannya perlu dilakukan dengan mengedepankan informasi yang benar, dialog, serta semangat menjaga keutuhan bangsa. Momentum September Hitam dapat menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan pemahaman mengenai sejarah, demokrasi, dan HAM. Refleksi tersebut sebaiknya tidak berhenti pada penyebaran informasi di media sosial, tetapi disertai upaya memahami konteks dan fakta secara utuh. Kepala Bakom Pemerintah Republik Indonesia Muhammad Qodari menekankan pentingnya komunikasi publik yang mampu menghadirkan informasi secara tepat kepada masyarakat. Dalam konteks ruang digital, kualitas informasi menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan dan mencegah berkembangnya narasi yang dapat memecah belah. Pesan tersebut relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Setiap isu dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial dan membentuk persepsi publik dalam waktu singkat. Karena itu, masyarakat perlu mampu membedakan informasi faktual, opini, maupun narasi yang sengaja dibuat untuk memancing emosi. Pemerintah terus mendorong peningkatan literasi digital di kalangan generasi muda. Kemampuan memeriksa informasi sebelum membagikannya merupakan salah satu bentuk tanggung jawab warga negara di era digital. Informasi palsu, provokasi, ujaran kebencian, dan narasi yang mempertajam perbedaan dapat merusak hubungan sosial apabila tidak disikapi dengan bijak. Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono mengajak masyarakat memperkuat persatuan dengan membangun komunikasi dan silaturahim. Menurutnya, interaksi yang baik antarelemen masyarakat penting agar warga tidak mudah terpengaruh maupun terprovokasi oleh berbagai isu yang berkembang. Muhamad Mardiono juga mengingatkan pentingnya memperkuat silaturahim agar masyarakat dapat menghadapi perbedaan secara lebih tenang dan dewasa. Semangat tersebut menjadi relevan dalam menyikapi berbagai informasi yang berkembang selama momentum September Hitam 2026. Isu September Hitam tidak semestinya menjadi alasan masyarakat untuk saling berhadapan. Sebaliknya, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran bahwa sejarah harus dipelajari secara objektif agar generasi berikutnya mampu mengambil pelajaran dan mencegah terulangnya berbagai persoalan kemanusiaan. Aktivis pemuda dan mahasiswa M. Fad mengajak kalangan mahasiswa dan masyarakat luas lebih bijak menyikapi informasi yang beredar dalam momentum September Hitam 2026. Ia menekankan pentingnya menjaga solidaritas, persatuan, keamanan, dan ketertiban masyarakat. Menurut M. Fad, mahasiswa memiliki posisi penting dalam menjaga kualitas diskursus publik. Sebagai kelompok yang dekat dengan tradisi intelektual dan gerakan sosial, mahasiswa diharapkan menyampaikan aspirasi berdasarkan pengetahuan dan data, bukan sekadar mengikuti arus informasi yang sedang ramai. Penyampaian aspirasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, aspirasi perlu disampaikan secara tertib dan bertanggung jawab agar tidak berubah menjadi konflik yang merugikan masyarakat. Ruang diskusi, edukasi, kajian sejarah, serta kegiatan sosial dapat menjadi sarana memperkuat solidaritas sekaligus mencegah konflik akibat kesalahpahaman informasi. Peran generasi muda semakin penting karena sebagian besar percakapan mengenai September Hitam berlangsung di ruang digital. Media sosial menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi, berdiskusi, sekaligus membentuk pandangan terhadap berbagai persoalan. Penggunaan media sosial tanpa kemampuan memilah informasi dapat menimbulkan persoalan baru. Konten yang dipotong dari konteks, judul provokatif, hingga informasi yang belum terverifikasi dapat dengan mudah menyebar dan memengaruhi persepsi masyarakat. Dalam edukasi HAM, media sosial dapat menjadi pintu awal untuk mengenali berbagai isu, tetapi informasi yang ditemukan tetap perlu diperdalam melalui sumber kredibel dan pembelajaran komprehensif. Generasi muda perlu memahami sejarah pelanggaran HAM secara utuh, bukan untuk membangun kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan sebagai pembelajaran agar nilai kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama semakin kuat. Di sisi lain, masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah maupun berbagai persoalan sosial. Kritik merupakan bagian dari demokrasi dan dapat menjadi sarana mendorong perbaikan. Namun, kritik sebaiknya tidak berubah menjadi permusuhan antarsesama warga negara. Persatuan bukan berarti masyarakat harus memiliki pandangan yang seragam. Persatuan justru terlihat ketika perbedaan dapat dikelola melalui dialog dan penghormatan terhadap satu sama lain. Perbedaan pilihan, pendapat, maupun cara melihat sejarah seharusnya tidak menghilangkan kesadaran bahwa seluruh masyarakat merupakan bagian dari bangsa yang sama. Dalam konteks September Hitam 2026, generasi muda memiliki kesempatan menunjukkan bahwa refleksi sejarah dapat dilakukan secara dewasa. Mahasiswa dan pemuda dapat menjadi penggerak diskusi yang sehat, menyebarkan informasi yang benar, serta membangun ruang publik yang edukatif. Masyarakat juga dapat berkontribusi dengan tidak langsung mempercayai setiap informasi di media sosial. Memeriksa sumber, membaca informasi secara utuh, membandingkan dengan sumber lain, dan tidak terburu-buru menyebarkan konten merupakan langkah sederhana untuk menjaga ruang digital tetap sehat. Sinergi antara mahasiswa, pemuda, pemerintah, dan masyarakat diperlukan agar penyampaian aspirasi tetap berjalan sekaligus menjaga keamanan bersama. Dengan komunikasi yang baik dan literasi informasi yang kuat, perbedaan pandangan dapat dikelola tanpa mengganggu persatuan. *) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan