Lompat ke konten utama

Kata Papua

Diresmikan Langsung oleh Jokowi, PYCH Wujud Nyata Pemerataan Pembangunan di Papua - Kata Papua

Diresmikan Langsung oleh Jokowi, PYCH Wujud Nyata Pemerataan Pembangunan di Papua

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jayapura – Gedung Papua Youth Creative Hub (PYCH) yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Presiden Joko Widodo kini telah tuntas. Gedung PYCH yang telah dibangun megah di Jayapura ini telah diresmikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Gedung tersebut dibangun dengan nuansa khas rumah adat masyarakat Kota Jayapura dan Wamena, dengan rupa atap Honai dan atap Kariwari, bahkan memiliki fasilitas yang lengkap untuk menunjang minat, bakat dan kreativitas anak-anak muda di Tanah Papua.

Gedung PYCH ini dapat menjadi sebuah program untuk menjadi sarana pengembangan potensi yang dimiliki anak – anak generasi muda di Bumi Cenderawasih tersebut. Gedung ini juga merupakan sarana dari pemerintah untuk memakmurkan masyarakat di Papua.

Presiden Joko Widodo dalam peresmiannya mengatakan, pemerintah mendukung pembangunan PYCH untuk memberikan porsi ruang yang lebih bagi pemuda-pemudi Papua dalam pengembangan teknologi, inovasi maupun produk-produk lokal Papua.

” Kita ingin anak anak muda yang ingin berkreatifitas dan berinovasi semuanya memiliki peluang karena di Papua peluangnya sangat besar sekali. Diharapkan dapat memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua,” kata Presiden dalam peresmian gedung PYCH di jayapura, Selasa (21/3/2023).

Jokowi juga menegaskan bahwa pembangunan yang dilakukan di Indonesia tidak hanya berfokus pada jawa sentris tapi Indonesia sentry yang mencakup seluruh wilayah Indonesia termasuk Papua.

Jadi sekali lagi ingin saya sampaikan bahwa pembangunan Indonesia sekarang bukan jawa sentris, tetapi Indonesia sentris dan tanah papua menjadi prioritas dari pembangunan yang kita lakukan,” ucapnya.

Terkait kepedulian pemerintah yang mendalam terhadap generasi muda di Papua, Aliansi Mahasiswa dan Milenial Indonesia (AMMI) mengapresiasi Presiden Joko Widodo dalam upayanya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Papua melalui PYCH.

Dalam hal ini, Koordinator AMMI, Nurkhasanah menyambut baik kehadiran PYCH sebagai gelanggang kreativitas bagi generasi muda di Bumi Cendrawasih.

Lebih lanjut, Nurkhasanah berharap kepedulian Presiden Jokowi pada pengembangan kualitas SDM anak-anak muda Papua diharap bisa mempercepat daerah itu mengejar ketertinggalan.

“Pada masa pemerintahan sebelumnya, wadah bagi komunitas pemuda kreatif seperti belum tersentuh. Bahkan di kota besar sekalipun. Namun sekarang, di Papua sudah ada tempat yang menampung kreativitas anak-anak muda,” terangnya.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Pemerintah Perkuat Agenda Penyelesaian Kasus HAM, Masyarakat Jangan Terjebak Provokasi

Oleh: Arief Nugroho Masyarakat perlu melihat berbagai persoalan hak asasi manusia secara jernih dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama narasi yang berpotensi memperbesar ketegangan di tengah masyarakat. Penyelesaian persoalan HAM membutuhkan ketenangan, keterbukaan, dan kerja bersama yang berkelanjutan. Pemerintah terus melakukan berbagai langkah untuk memperkuat penyelesaian persoalan HAM melalui evaluasi kebijakan, penguatan kelembagaan, pemulihan korban, dialog, serta upaya mencari solusi yang menyentuh akar persoalan. Karena itu, berbagai perkembangan tersebut penting dipahami secara utuh agar masyarakat dapat menilai proses penyelesaian HAM berdasarkan fakta dan perkembangan nyata di lapangan. Salah satu langkah yang menunjukkan keseriusan tersebut terlihat dari evaluasi Kedeputian Bidang Koordinasi Hak Asasi Manusia Kemenko Kumham Imipas. Evaluasi yang dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai target, sekaligus memetakan kegiatan yang membutuhkan percepatan dan kendala yang harus segera diselesaikan. Evaluasi tidak hanya diarahkan pada penyerapan anggaran, tetapi juga kesesuaian pelaksanaan program dengan target kinerja sehingga kebijakan HAM dapat memberikan hasil yang terukur. Langkah evaluatif semacam ini penting karena penyelesaian persoalan HAM tidak cukup hanya dengan membangun komitmen. Komitmen harus diterjemahkan menjadi program, anggaran, koordinasi, pengawasan, dan evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Ketika masih ditemukan kendala, pemerintah memiliki ruang untuk melakukan perbaikan dan percepatan. Dengan demikian, agenda HAM dapat terus bergerak dari perencanaan menuju pelaksanaan yang lebih efektif. Upaya tersebut juga berjalan melalui penguatan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Di Papua, Forum Konsultasi Publik yang diselenggarakan Sekretariat Komnas HAM Provinsi Papua mempertemukan unsur pemerintah, aparat keamanan, organisasi masyarakat sipil, lembaga bantuan hukum, akademisi, mahasiswa, tokoh masyarakat, dan jurnalis. Ruang dialog semacam ini menjadi penting untuk mempertemukan perspektif, memperkuat mekanisme pengaduan, meningkatkan pertukaran informasi, serta memastikan berbagai persoalan HAM memperoleh perhatian berdasarkan informasi yang dapat diverifikasi. Penguatan jaringan kerja juga menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan HAM tidak semata-mata menjadi urusan satu institusi. Kepala Sekretariat Komnas HAM Provinsi Papua Frits B. Ramandey menekankan pentingnya membangun relasi dengan berbagai pihak dengan tetap menjaga prinsip independensi dan imparsialitas. Pendekatan tersebut diperlukan agar informasi mengenai situasi HAM dapat diperoleh, diperiksa, dan menjadi dasar bagi pelaksanaan tugas secara objektif. Di tingkat nasional, pemerintah juga mendorong pendekatan yang lebih menyeluruh terhadap persoalan konflik dan HAM di Papua. Menteri HAM Natalius Pigai menyampaikan perlunya menggeser penanganan dari pola reaktif dan kasuistik menuju penyelesaian holistik yang berorientasi pada perdamaian. Pemerintah juga mendorong keterlibatan berbagai unsur nasional dalam merumuskan langkah strategis dan dialogis, termasuk melalui penguatan regulasi dan kebijakan afirmatif yang ditujukan untuk mengatasi persoalan dari akar. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian HAM tidak hanya diarahkan pada penanganan sebuah peristiwa setelah terjadi. Pencegahan, pemulihan, penguatan institusi, perlindungan masyarakat sipil, dan penciptaan kondisi sosial yang lebih damai juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Pemerintah sebelumnya juga menekankan rekonsiliasi dan perdamaian sebagai pendekatan dalam menangani persoalan di Papua, termasuk dengan memperhatikan kondisi masyarakat yang terdampak konflik. Pada saat yang sama, ruang demokrasi tetap harus dijaga. Masyarakat memiliki hak menyampaikan aspirasi, memberikan kritik, melakukan pengawasan, dan mendorong perbaikan kebijakan. Namun, penyampaian aspirasi akan lebih produktif apabila diarahkan pada solusi berbasis data. Pengamat politik Indeks Data Nasional Ayip Tayana mengingatkan agar wacana mengenai aksi tidak berkembang menjadi mobilisasi emosi atau kebencian. Ia mendorong mahasiswa dan masyarakat sipil untuk meningkatkan kualitas kontribusi melalui riset, pengawasan terhadap program pemulihan korban, serta penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis bukti. Pesan tersebut relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Persoalan HAM merupakan isu serius sehingga setiap informasi mengenai dugaan pelanggaran harus diperiksa secara hati-hati. Masyarakat sebaiknya tidak langsung mempercayai atau menyebarluaskan konten yang sumbernya tidak jelas, potongan video tanpa konteks, maupun narasi yang sengaja membangun kebencian terhadap kelompok tertentu. Kritik tetap dapat disampaikan, tetapi harus dibangun di atas fakta dan disalurkan melalui mekanisme demokratis yang tersedia. Pemerintah juga terus memastikan bahwa setiap komitmen HAM memiliki tindak lanjut yang transparan dan dapat dievaluasi publik. Pemulihan korban, penyelesaian pengaduan, pencegahan pelanggaran berulang, penguatan aparat dan lembaga, serta kebijakan yang menjawab akar persoalan harus menjadi bagian dari agenda berkelanjutan. Dengan demikian, masyarakat dapat melihat perkembangan secara lebih objektif sekaligus memberikan masukan apabila masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki. Karena itu, masyarakat tidak perlu terjebak pada provokasi yang mengubah persoalan serius menjadi konflik