Kata Papua

Film Dokumenter Noken Rahim Kedua Garapan IMAJI Papua Nominee Piala Citra 2021 - Kata Papua

Film Dokumenter Noken Rahim Kedua Garapan IMAJI Papua Nominee Piala Citra 2021

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Film Dokumenter Noken Rahim Kedua Garapan IMAJI Papua Nominee Piala Citra 2021

Film Dokumenter berjudul Noken Rahim Kedua garapan Imaji Papua secara mengejutkan lolos kurasi dan terpilih sebagai nominee Piala Citra 2021 kategori Film Dokumenter Pendek Terbaik.

Noken Rahim Kedua, disutradarai oleh Adi Sumunar dan produser Yulika Anastasia. Film berdurasi 38 menit ini digarap selama 1 tahun lebih, syuting di Pelebaga Jayawijaya tahun 2019 silam dan selesai tahun 2020.

Film dokumenter ini menyorot tentang makna noken dalam kehidupan sehari – hari kaum perempuan di Lembah Baliem. Film ini berkisah tentang keseharian seorang ibu muda bernama Mama Yowan yang belum lama melahirkan.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

CKG, TBC, dan Pentingnya Menjangkau Kelompok Berisiko 

CKG, TBC, dan Pentingnya Menjangkau Kelompok Berisiko Oleh Ananda Rusdian Upaya membangun bangsa yang sehat tidak cukup dilakukan melalui pelayanan kesehatan yang berpusat di fasilitas kesehatan formal semata. Tetapi negara juga hadir menjangkau kelompok-kelompok yang berada dalam posisi rentan, baik karena kondisi sosial, lingkungan hidup, maupun keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Untuk itu, peluncuran Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di 532 lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di seluruh Indonesia dipandang sebagai langkah strategis sekaligus berkeadilan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa hak atas kesehatan menjangkau seluruh warga negara, termasuk warga binaan pemasyarakatan yang selama ini kerap luput dari perhatian publik.                           Program ini menegaskan bahwa pemerintah mulai menempatkan kesehatan sebagai hak dasar yang harus diakses oleh semua orang tanpa kecuali. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa arahan Presiden adalah agar program kesehatan menyasar seluruh masyarakat, termasuk ratusan ribu warga binaan di lapas dan rutan. Pernyataan itu penting karena memperlihatkan perubahan cara pandang negara bahwa warga binaan bukan sekadar objek pembinaan hukum, melainkan tetap subjek pembangunan yang berhak memperoleh perlindungan kesehatan secara layak.