Lompat ke konten utama

Kata Papua

Gen Z dan Milenial Wajib Tangkal Radikalisme - Kata Papua

Gen Z dan Milenial Wajib Tangkal Radikalisme

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp


Oleh : Alif Fikri 


Radikalisme dicegah agar tidak menyebar ke seluruh Indonesia, karena kelompok radikal bekerja secara gerilya dan juga di dunia maya.

Internet dipilih karena netizen Indonesia sering menggunakannya, termasuk generasi muda (gen Z). Mereka jadi incaran untuk dijadikan sebagai kader radikal baru, karena masih labil dan bisa dipengaruhi pikirannya.


Indonesia adalah negara yang masuk dalam 5 besar pengguna internet dan media sosial di seluruh dunia, dan paling banyak adalah kaum milenial.

Tidak ada hari tanpa buka Instagram atau aplikasi media sosial lainnya. Namun mereka wajib mewaspadai bahaya di baliknya, karena ada kelompok radikal yang siap mengintai.


Kelompok radikal sengaja masuk ke media sosial karena menyasar anak-anak muda alias milenial yang kecanduan internet. Kaderisasi dilakukan dan mereka mencari kader yang masih muda dan mengerti dunia internet, yakni gen Z.

Sangat berbahaya jika milenial dan gen Z dipengaruhi oleh kelompok radikal, karena kemampuan mereka disalahgunakan untuk menyebarkan radikalisme.


Direktur Pencegahan Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid, menyatakan bahwa ada 12,2% masyarakat Indonesia yang berpotensi terkena radikalisme, dan kebanyakan adalah milenial dan gen Z. Mereka berpotensi terkena radikalisme karena menunjukkan sikap intoleran, anti pemerintah, dan anti Pancasila.


Kondisi ini tentu sangat berbahaya karena bagaimana bisa anak-anak muda malah anti Pancasila? Padahal Pancasila adalah pedoman hidup dan tidak hanya dihafalkan, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mencegah radikalisme di kalangan milenial dan gen Z maka harus dengan strategi khusus. Pertama, mengangkat duta anti radikalisme dari kalangan gen Z dan milenial. Tugas mereka adalah mengedukasi bahwa radikalisme dan terorisme sangat berbahaya bagi perdamaian Indonesia.
Edukasi wajib dilakukan oleh orang yang seusia dengan gen Z karena mereka lebih bisa dipercaya. Beda jika yang berbicara orang yang lebih tua, karena dianggap menggurui. Duta anti radikalisme berusaha agar gen Z tidak terpapar radikalisme, dan membuat banyak konten berisi nasionalisme dan kebangsaan, serta Pancasila. Ini dilakukan sebagai cara untuk membendung konten radikalisme di media sosial.
Kedua, perlu ada kerja sama dengan pengelola media sosial. Ketika ada konten bernuansa radikalisme maka wajib diblokir, karena sangat sensitif dan berbahaya. Pengelola wajib bekerja sama dengan polisi siber untuk memberantas radikalisme di dunia maya, yang menyasar gen Z dan milenial.
Sementara itu, Ustazah S Khamdi menyatakan bahwa gen Z memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Namun rasa ini bisa menjadi bumerang karena mereka mempelajari ilmu secara sembarangan (tanpa guru yang jelas) dan hanya membaca dari internet. Padahal tidak semua konten di dunia maya itu benar, karena bisa jadi dibuat sebagai propaganda oleh kelompok radikal.
Gen Z dan milenial juga memiliki sikap terbuka, terutama di internet. Mereka sejak kecil sudah terpapar internet dan mengakses media sosial dengan mudah. Di dunia maya mereka bersikap terbuka kepada siapa saja, termasuk ke orang-orang yang baru dikenal. Ini titik bahaya karena anggota kelompok radikal bisa sok akrab lalu menggaet mereka jadi target baru.
Dalam teori psikologi disebutkan bahwa ketika manusia membuka media sosial maka otaknya dalam keadaan rileks. Saat santai maka informasi apa saja dengan mudah masuk ke dalam pikirannya, termasuk ajaran dari kelompok radikal. Oleh karena itu gen Z dan milenial bisa terpapar radikalisme dari media sosial dan mereka terlalu mudah mempercayainya, karena otaknya dengan mudah dicuci dengan propaganda mereka.
Oleh karena itu orang tua wajib mengawasi anaknya yang masuk dalam kategori gen Z dan milenial. Jangan dibiarkan saja tetapi sesekali cek history di gadget-nya. Ini bukanlah pelanggaran privasi, melainkan cara mencegah mereka untuk terseret dalam racun radikalisme dan terorisme. Penyebabnya karena radikalisme saat ini menyebar dengan luas melalui media sosial.
Anak yang masuk dalam kategori gen Z dan milenial wajib dirangkul dan diberi kasih sayang. Jangan dibiarkan mereka diam di rumah lalu menatap gadget selama berjam-jam. Sebenarnya mereka kesepian dan membutuhkan cinta (perhatian) dari kedua orang tuanya, yang terlalu sibuk bekerja. Jika mereka diperhatikan maka tidak akan mencari pelarian di media sosial dan terseret menjadi kader radikal dan teroris.
Jika gen Z dan milenial sudah paham bahwa radikalisme berbahaya maka mereka mencari cara menangkalnya. Caranya dengan membuat kampanye bahwa radikalisme itu berbahaya dan bisa menghancurkan Indonesia.
Radikalisme dan terorisme wajib diberantas di negeri ini. Jangan sampai gen Z dan milenial menjadi kader teroris baru karena berkenalan dengan kelompok radikal di media sosial. Mereka wajib memberantas radikalisme dan terorisme, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata